Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mimpi Indonesia Emas: Mengapa Fresh Graduate Tak Lagi Melirik Profesi Guru?

Amin Basiri • Kamis, 8 Januari 2026 | 20:37 WIB
Riski Yuliana
Riski Yuliana

Oleh Riski Yuliana

VISI Indonesia Emas 2045 menegaskan tekad bangsa ini untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, dan berkarakter guna menghadapi tantangan global.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul sebuah paradoks yang tak bisa diabaikan: ketika Indonesia menggantungkan harapan pada generasi emas, justru semakin sedikit fresh graduate yang berminat menjadi guru.

Fenomena ini bukan semata soal pergeseran pilihan karier, melainkan mencerminkan persoalan struktural yang hingga kini belum tuntas.

Kualitas, kesejahteraan, dan penghargaan terhadap profesi guru masih menjadi pekerjaan rumah besar negara.

Pertama, persoalan kesejahteraan guru masih menjadi faktor paling dominan.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa profesi guru belum mampu menjanjikan stabilitas ekonomi, terutama bagi guru non-sertifikasi dan honorer.

Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, banyak lulusan baru lebih memilih dunia kerja yang menawarkan penghasilan lebih pasti, peluang pengembangan diri, atau bahkan jalur wirausaha.

Ketika profesi guru masih identik dengan gaji pas-pasan, generasi mudakhususnya Generasi Zakan berpikir dua kali untuk menekuninya.

Kedua, stigma sosial terhadap profesi guru turut memengaruhi rendahnya minat.

Di sejumlah negara maju seperti Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan, guru justru berasal dari lulusan terbaik karena negara menempatkan pendidikan sebagai sektor strategis.

Di Indonesia, penghargaan moral dan sosial terhadap guru belum sepenuhnya sepadan dengan peran besarnya.

Persepsi ini membentuk pola pikir generasi muda bahwa menjadi guru bukan pilihan utama, melainkan jalan terakhir ketika peluang lain tertutup.

Ketiga, beban kerja guru yang kian kompleks juga menjadi penghalang.

Di lapangan, guru tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga dibebani administrasi yang menumpuk dan sering kali berjalan bersamaan dengan tugas pedagogis.

Ketidakseimbangan antara beban kerja dan manfaat yang diperoleh membuat banyak calon guru memandang profesi ini sebagai pekerjaan dengan tuntutan tinggi, namun penghargaan rendah.

Ironisnya, tantangan-tantangan tersebut muncul justru saat Indonesia sangat membutuhkan guru-guru terbaik untuk menyiapkan generasi emas.

Sebaik apa pun kurikulum dirancang dan secanggih apa pun teknologi pendidikan dikembangkan, semuanya tak akan bermakna tanpa guru yang berkualitas, sejahtera, dan termotivasi.

Karena itu, pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar mengapa fresh graduate tidak mau menjadi guru? melainkan apa yang harus dilakukan negara agar profesi guru kembali diminati? Guru bukan sekadar tenaga pendidik, melainkan arsitek masa depan bangsa.

Jika Indonesia sungguh-sungguh ingin menyongsong Indonesia Emas, maka profesi guru harus ditempatkan sebagai investasi utama, bukan sekadar jargon kebijakan.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh gedung megah atau teknologi canggih, melainkan oleh kualitas manusia yang lahir dari tangan para pendidik.

Pertanyaan besarnya tetap menggema: bagaimana mungkin Indonesia menjadi emas jika profesi yang membentuk generasi emas justru tidak diminati?

Di titik inilah Indonesia harus berbenahmenghargai guru lebih tinggi dan menjadikan profesi ini bukan sebagai pilihan terakhir, melainkan pilihan terbaik. (*)

Editor : Amin Basiri