Oleh AKHMADI YASID
INFORMASI kadang datang pelan. Kadang seperti angin sore di pesisir. Tapi, ada juga informasi yang datang menghentak. Tiba-tiba. Tanpa aba-aba. Membuat dada sesak seketika.
Informasi itu datang dari Bumi Gerbang Salam. Dari Pamekasan. Seorang kawan, lebih tepatnya seorang senior, telah pergi. Masdawi Dahlan. Jurnalis. Titik.
Saya sengaja tidak menambahkan embel-embel apa pun di kalimat itu. Karena bagi Masdawi Dahlan, kata jurnalis sudah lebih dari cukup. Ia hidup di kata itu. Ia menua di kata itu. Dan ia wafat dengan kata itu tetap melekat.
Masdawi bukan jurnalis yang pendiam, tapi tidak berisik. Ia tidak gemar menonjolkan diri. Tapi jejaknya terasa. Terutama bagi siapa pun yang pernah bergelut di dunia pers Pamekasan sejak era reformasi.
Sejak awal 2000-an. Sejak masa ketika idealisme masih sering diuji dengan amplop, telepon malam hari, dan bisikan, ”sudah cukup, Mas.”
Ia sungguh tidak pernah cukup. Keinginannya jauh, melampaui cara berpikirnya.
Ia memulai langkahnya dari Karimata FM. Lama menjadi reporter radio. Belajar mendengar. Belajar menangkap getar suara. Lalu pindah ke tulisan. Bergabung dengan Jawa Pos Radar Madura.
Di sanalah namanya melegenda. Tulisan-tulisannya tajam. Tegas. Tidak menye-menye. Tidak berputar-putar. Kalau salah, ya salah. Kalau benar, ya benar. Titik.
Masdawi adalah potret jurnalis yang memilih tetap berdiri di jalurnya. Jalur yang tidak selalu ramah. Jalur yang sering sunyi. Tapi, jalur itu bernama integritas.
Ia idealis. Tapi bukan idealis yang ribut. Ia keras. Tapi tidak kasar. Ia tegas. Tapi tidak menggurui. Bahkan, kepada kami yang lebih muda. Ia lebih sering memberi contoh daripada ceramah. Lebih banyak mengajak berpikir daripada menyuruh patuh.
Saya bersama Masdawi di sekitar 2004 hingga 2009. Masa-masa yang penuh dinamika. Termasuk saat kami sama-sama aktif di Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP). Medio 2008, posisi organisasi menempatkan saya sebagai ketua dan Masdawi sebagai anggota. Padahal usia dan jam terbangnya jauh di atas saya.
Tapi tak sekalipun ia memperlihatkan keberatan. Tak pernah ada nada merasa ”lebih senior”. Ia tetap di barisan. Tetap di garis perjuangan. Sampai akhir hayatnya. Konsisten di AJP. Konsisten di dunia pers. Konsisten pada prinsip.
Masdawi pernah resign dari Jawa Pos Radar Madura. Lalu, bergabung dengan media lain. Surabaya Post, hingga terakhir di sebuah media online.
Dunia berubah. Platform berganti. Tapi, sikap Masdawi Dahlan tidak. Ia tetap jurnalis yang sama. Yang percaya bahwa pers bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan.
Ia juga seorang ayah. Ayah yang tentu sangat luar biasa bagi keluarga besarnya.
Masdawi Dahlan meninggalkan empat orang anak. Dua laki-laki dan dua perempuan. Dua anak laki-lakinya telah memilih jalur pengabdian yang berbeda. Yang satu bekerja di Kementerian PU, satunya lagi di Universitas Airlangga. Sementara kedua putrinya masih berjuang menapaki masa depan.
Mereka tidak memilih jalan jurnalistik. Tapi saya yakin, idealisme Masdawi tidak berhenti di ruang redaksi. Ia mengalir. Menurun. Hidup dalam nilai yang ditanamkan di rumah. Dalam cara memandang benar dan salah. Dalam keberanian untuk berdiri lurus di jalur masing-masing.
Perjuangan Masdawi adalah perjuangan panjang. Melelahkan. Penuh liku. Tidak semua orang kuat menjalaninya. Masdawi kuat. Sampai akhir.
Hari ini, Pamekasan kehilangan satu penjaga akal sehat. Dunia pers kehilangan satu teladan yang sunyi. Dan kami, yang pernah belajar darinya, kehilangan seorang senior yang tidak pernah mengeklaim dirinya guru. Tapi, mengajarkan banyak hal paling mendasar: tauhid pers.
Bahwa kebenaran hanya satu.
Bahwa keberanian tidak bisa ditawar.
Bahwa integritas tidak bisa dikompromikan.
Selamat jalan, Masdawi Dahlan. Senior andalan. Jejakmu tinggal. Prinsipmu hidup.
Dan idealismemu, kami yakin, akan terus berjalan, meski lewat jalan yang berbeda. (*)
*)Mantan jurnalis, kini anggota DPRD