* Oleh Nurul Hidayat
PENDIDIKAN merupakan salah satu aspek paling penting dalam pembangunan suatu bangsa. Melalui pendidikan, individu dibentuk bukan hanya untuk peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga untuk mempunyai kepribadian yang baik dan karakter yang kuat.
Dalam pendidikan, guru memegang peran utama, yaitu sebagai ujung tombak karena langsung berinteraksi dengan siswa.
Oleh karena itu, guru berperan bukan hanya sebagai pengajar yang menyampaikan materi pelajaran saja, tetapi juga pendidik yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa.
Salah satu peran paling penting dari seorang guru dalam membentuk karakter siswa adalah menjadi suri teladan yang baik.
Siswa lebih mudah meniru daripada mendengarkan. Oleh karena itu, sudah seharusnya guru berhati-hati dalam bertindak karena tindak tanduk guru menjadi cerminan langsung dari nilai-nilai yang ingin ditanamkan.
Misalnya, seorang guru yang selalu datang tepat waktu, berpakaian rapi, bersikap adil, dan berbicara sopan akan memberikan contoh nyata kepada siswa tentang bagaimana seharusnya bersikap yang baik.
Selain sebagai suri teladan yang baik, guru juga sangat berperan dalam menanamkan membentuk karakter secara langsung melalui proses pembelajaran. Di dalam Kurikulum Merdeka, penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu yang ditekankan.
Meski peran guru sangat besar, namun membentuk karakter siswa bukanlah tugas yang mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi.
Salah satunya yaitu pengaruh negatif dari lingkungan seperti media sosial, serta pergaulan yang ada di lingkungan peserta didik.
Dalam banyak kasus, nilai-nilai positif yang ditanamkan oleh guru di sekolah bisa berbeda dengan apa yang siswa lihat dan alami di luar sekolah, baik di lingkungan rumah atau di lingkungan tempat mereka berkumpul atau bemain, sehingga pembentukan karakter bagi peserta didik tidak efektif.
Sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
Dalam banyak kasus, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak mendapat dukungan dari lingkungan rumah.
Misalnya, seorang siswa diajarkan tentang pentingnya kejujuran di sekolah, tetapi menyaksikan kebohongan atau kecurangan di rumah.
Seperti ketika guru memberikan contoh cara makan yang baik kepada peserta didik dengan cara membaca doa terlebih dahulu dan dengan posisi duduk tegak, maka seharusnya orang-orang di dalam rumah memberikan contoh yang baik pula.
Tidak seharusnya, orang-orang yang ada di lingkungan sekolah memberikan contoh yang terbalik dengan apa yang diajarkan guru di sekolah.
Ketidakkonsistenan ini membuat siswa bingung dan sulit untuk menerapkan nilai-nilai positif tersebut secara konsisten.
Pembentukan karakter siswa akan jauh lebih efektif jika dilakukan secara bersama-sama antara guru, orang tua, dan masyarakat.
Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Guru membutuhkan dukungan dan keterlibatan aktif dari orang tua untuk menguatkan nilai-nilai karakter yang ditanamkan di sekolah.
Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua perlu terus dibangun, baik melalui pertemuan rutin, ataupun melalui grup diskusi online.
Selain itu, masyarakat juga memiliki peran penting, terutama dalam menyediakan lingkungan yang kondusif dan aman bagi perkembangan karakter anak.
Program-program positif seperti kegiatan bakti sosial atau kegiatan keagamaan bisa menjadi sarana untuk memperkuat sinergi ini.
Ketika semua pihak memberikan contoh yang baik dan memiliki nilai yang selaras, maka pembentukan karakter akan lebih mudah dan bermakna bagi siswa.
Contoh lain, tantangan yang harus dihadapi guru dalam pembentukan karakter yang baik yaitu pengaruh media sosial.
Selain menampilkan contoh yang baik, di media sosial banyak disuguhi contoh-contoh yang memberikan dampak negatif bagi peserta didik, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, perbuatan kriminal, serta perilaku tidak sopan lainnya.
Pengaruh media sosial sangat memberikan dampak yang luar biasa bagi peserta didik, apalagi peserta didik tersebut diberikan kebebasan dalam penggunaan handphone.
Oleh karena itu, peran guru dan orang tua sangat berpengaruh dalam hal ini. Orang tua harus memberikan batas dalam penggubaan handphone, terutama bagi peserta didik yang masih duduk di sekolah dasar.
Orang tua harus memberikan pendampingan dan pembatasan waktu agar mereka tidak salah dalam penggunaan handphone tersebut.
Tidak bisa dipungkiri, di zaman sekarang peserta didik tidak bisa lepas dari penggunaan gawai. Penggunaan gawai dalam dunia pendidikan memudahkan mereka dalam mengakses ilmu atau menjadi sumber belajar digital untuk mereka.
Seorang guru harus menjelaskan batasan-batasan penggunaan handphone serta sesuatu yang bermanfaat yang diambil dari penggunaan handphone tersebut.
Dengan begitu, peserta didik dapat menyaring sendiri apa yang bermanfaat untuk mereka dan hal-hal apa saja yang tidak bermanfaat untuk mereka.
Tantangan berikutnya yaitu beban administratif guru yang tinggi juga menjadi kendala. Banyak guru yang terlalu sibuk mengurus laporan administrasi pembelajaran atau tugas-tugas birokrasi lainnya, sehingga kurang waktu untuk fokus pada pendekatan personal kepada peserta didik.
Oleh karena itu, guru tidak hanya hadir secara fisik, tapi guru juga hadir secara emosional kepada anak didiknya.
Guru harus peduli terhadap kondisi mental mereka serta berusaha untuk terus menjadi pendengar yang baik sehingga selaras dengan apa yang digaungkan di dalam Kurikulum Merdeka yang dinyatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu guru harus berpihak kepada murid. (*)
*)Guru SDN Tampojung Pregi
Editor : Amin Basiri