Oleh: Abd. Hayyi, (Kepala MIN Sampang dan Pemerhati Pendidikan)
Coba Anda lihat lagi judul artikel ini. Apakah kata-kata tersebut membuat Anda merasa tidak nyaman? Tarik nafas dan baca kembali kata-katanya. Bagi Anda sebagai guru mungkin mengaggap judul artikel ini adalah sesuatu yang terasa tidak beres.
Mengapa kegagalan seorang guru merupakan pemikiran yang sangat tidak menyenangkan? Apakah guru seharusnya tidak bisa gagal?
Faktanya, banyak siswa yang mengalami kegagalan. Kemudian kita berdalih dengan kata yang lebih klise, ‘kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan’. Meski terdengar fasih, setidaknya ada pengakuan dan normalisasi kegagalan bagi siswa.
Sayangnya, di Indonesia 'Siapa pun bisa mengajar'. Bahkan mereka yang bukan sarjana keguruan pun masih bisa mengajar. Ini masih mendingan, karena di beberapa tempat, seorang yang hanya lulusan setingkat SMA juga masih bisa mengajar jenjang SD/MI atau bahkan yang setingkat SMA/MA pula.
Sebenarnya hal ini lebih merugikan daripada membawa banyak manfaat. Belum lagi soal liniearitas keahliannya dengan bidang studi yang diampunya. Misalnya, sarjana PAI mengajar Bahasa Inggris. Sarjana Bahasa Inggris menjadi guru kelas.
Soal liniearitas, tidak bisa kemudian meyalahkan guru atau satuan pendidikan. Pemerintah sendiri menyediakan peluang itu. Ambil contoh misalnya persyaratan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang bertujuan untuk menghasilkan guru yang profesional, kompeten, dan sejahtera. Untuk diterima sebagai guru kelas SD/MI tidak harus lulusan PGSD/PGMI.
Banyak orang beranggapan bahwa mengajar adalah kegiatan yang sederhana. Yaitu hanya sebatas memberikan materi kepada siswa. Kenyataannya adalah bahwa mengajar adalah pekerjaan yang sangat kompleks.
Proses pengajaran melibatkan beberapa langkah yang harus dimiliki oleh guru, antara lain: memahami peserta didik, mendefinisikan tujuan pembelajaran dan menetapkan tujuan, menyajikan materi pelajaran, memberi energi pada siswa dan menjaga minat dan motivasi mereka. Selain itu, menerapkan strategi penilaian yang efektif, mengidentifikasi kesenjangan dalam pembelajaran, dan melaksanakan remediasi yang efektif.
Aspek lain yang sangat penting dan sering diabaikan adalah keterlibatan emosional guru. Padahal guru juga seharusnya memiliki tugas untuk mengurangi dampak buruk siswa dari tekanan akademik. Bahkan tindakan memotivasi siswa untuk mengatasi kegagalan, membantu mereka mengembangkan pola pikir bukanlah tugas yang sederhana, mudah atau langsung.
Hal-hal tersebut memerlukan kegigihan, dan kepedulian yang tulus dari guru yang memerlukan energi emosional tingkat tinggi.
Berdasarkan pengamatan saya sebagai pemerhati pendidikan, fenomena kegagalan guru dapat dipecah menjadi kegagalan di bidang pedagogis, emosional, dan etika.
Kegagalan pedagogi. Hal yang paling jelas bagi guru untuk melakukan kesalahan tentu saja adalah pedagogi. Melayani berbagai jenis pelajar, dengan gaya belajar yang berbeda, dengan berbagai tingkat pengetahuan dan motivasi siswa, membutuhkan teknik pedagogi yang tepat meskipun dengan keterbatasan waktu, sumber daya dan materi yang tersedia.
Kegagalan emosional. Seorang guru diharapkan tidak hanya memahami emosi siswanya, tetapi juga diharapkan dapat mengatur emosinya sendiri. Ini adalah pekerjaan yang menguras tenaga, terutama ketika mengajar di ruang kelas yang bising, dengan siswa yang belum dewasa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda.
Kehilangan kesabaran, menyerah pada ledakan sesaat adalah contoh kegagalan emosional yang kemudian membuat banyak guru merasa sangat bersalah dan menganggapnya sebagai kegagalan.
Kegagalan etika. Seorang guru juga sangat sering dihadapkan pada dilema etika. Mereka dihadapkan dengan berbagai macam kepribadian, keharusan mengambil keputusan yang memihak pada salah satu siswa dan merugikan siswa yang lain, kepedulian versus menjaga formalitas, dan menilai secara objektif.
Itu hanyalah beberapa contoh dari berbagai dilema etika yang dihadapi oleh seorang guru. Terlepas apakah guru menganggap sebagai dilema etika atau tidak, peluang untuk salah dalam memberikan penilaian objektif selalu mengintai, membuat guru merasa gagal jika ada kesalahan kecil sekalipun.
Dengan hal ini, seberapa besar pemahaman dan empati masyarakat atau pemerintah terhadap guru ketika mereka gagal? Lalu bagaimana penanganannya?
Guru memiliki kelemahan selayaknya manusia. Mengatakan guru tidak bisa gagal adalah hal yang tidak realistis. Kegagalan sebenarnya diperlukan untuk pertumbuhan. Kegagalan menjadi bagian penting dalam pengajaran karena membantu guru untuk melakukan refleksi.
Ini bukan tentang kegagalan lagi, tapi tentang mencoba hal-hal baru dan mencoba solusi yang paling memungkinkan agar bisa berhasil.
Bisa jadi para guru memiliki keraguan terhadap dirinya sendiri. Misalnya, ketika mereka sudah mengajar dengan metode pembelajaran yang baik, ternyata hasil ujian siswa tidak meningkat. Tentu ini menjadi tekanan batin bagi para guru di mana nilai siswa masih digunakan untuk menentukan kemajuan siswa.
Pandangan masyarakat adalah bahwa guru harus sempurna; mereka harus mengetahui segalanya dan melakukannya dengan benar, setiap saat. Ini adalah harapan yang tidak realistis dan tidak adil. Namun banyak guru jatuh ke dalam pola pikir mustahil ini.
Sehingga ketika misalnya menghadapi siswa yang ‘kelewat batas’, banyak guru yang terperangkap menjadi emosional dan tempramental. Sebut saja, yang sedang viral saat ini adalah kasusnya Kiai Zuhdi, Guru Madin di Demak Jawa Tengah yang dituntut oleh wari muridnya 25 juta, miris.
Respon lainnya adalah bersikap sangat kritis terhadap diri sendiri. Sebagai mentor, mereka diharapkan untuk peduli, penuh kasih sayang dan pemaaf.
Namun karena mereka berada dalam perangkap yang mengharuskan mereka mengatasi segalanya, mereka sering kali menjadi ekstra keras pada diri mereka sendiri ketika mereka gagal.
Mencaci-maki atau menyalahkan diri sendiri bisa sangat melemahkan dan menghalangi kemajuan. Inilah yang tidak diketahui oleh khalayak umum dan cengerung ‘nyiyir’ kepada guru.
Jika pendidikan adalah upaya manusia yang bertujuan untuk mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan, bagaimana mungkin pendidikan bisa menghindari kegagalan, yang merupakan bagian penting dari kehidupan itu sendiri? Jika pengajaran harus jujur dan autentik, hal itu harus dimulai dari guru yang menerima dan merasa nyaman dengan kegagalan.
Sebagai seorang guru, ia harus mengambil risiko. Dalam prosesnya, kegagalan tidak bisa dihindari. Hanya saja, seorang guru harus memandang kegagalan sebagai motivasi untuk bisa berinovasi, baik pada level personal maupun profesional. Hal ini melibatkan empati untuk introspeksi.
Dengan demikian, kita dapat melihat kegagalan sebagai bahan untuk perbaikan. Memperbaiki apa yang salah berarti mengubah kegagalan menjadi kesuksesan dalam arti luas. Yang diperlukan kemudian adalah perubahan pola pikir dan proses pembelajaran yang diterapkan kepada siswa, juga harus dievaluasi sendiri setiap saat.
'Guru telah gagal' bukanlah akhir yang menyedihkan. Sebaliknya, ini adalah awal yang baik untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Ini adalah awal dari mengenal diri sendiri untuk mempelajari hal-hal baru. Kita gagal hanya ketika kita mencoba. Maka, marilah kita takut pada kata-kata ‘Guru tidak gagal’. (*)
Editor : Hendriyanto