Oleh JUFRIADI
DALAM tradisi Islam kita sering mendengar bahwa ayat yang turun kali pertama adalah perintah untuk membaca, iqra’ bismi rabbika alladzī khalaqa. Membaca dapat diartikan menganalisis, memahami, mengartikan, mengaktualisasikan ayat-ayat Allah, dan dalam diskursus ini kita sederhanakan menjadi perintah Allah untuk membaca pada pemahaman paling sederhana, kenapa iqra’ itu penting? Karena hal itu dapat menjadi media tersampaikannya ilmu pengetahuan dan wahyu Tuhan. Dengan membaca, maka ilmu pengetahuan dapat diakses dari generasi sebelumnya yang telah menulis pengalaman, hasil eksperimen, dan pengetahuan terhadap sesuatu. Artinya, literasi (membaca dan menulis) adalah sebuah proses transformasi pengetahuan yang harus ada dalam setiap generasi manusia untuk menjamin keberlangsungan tahap kemajuan sebuah peradaban.
Dengan begitu, membaca haruslah menjadi kegiatan yang lumrah bagi kita untuk membentuk SDM unggul. Maka, sangat perlu sekali menjadikan membaca sebagai kebiasaan dari kecil untuk membentuk mindset unggul di masa depan. Membaca tidak harus buku tebal yang syarat akan pengetahuan yang kompleks. Namun, untuk anak-anak, yang perlu dilakukan orang tua untuk membentuk kebiasaan membaca sejak kecil bisa dimulai dengan memberikan buku bacaan yang ringan dan menyenangkan, seperti halnya Kancil Mencuri Timun, kemudian seiring dengan bertambahnya usia anak, buku bacaan bisa ditingkatkan menjadi lebih berkualitas dan syarat ilmu pengetahuan.
Namun fakta pentingnya membaca tidak berbanding lurus dengan realitas yang ada pada generasi kita. Membaca di Indonesia masih menjadi sesuatu yang ”istimewa”, artinya tidak semua orang mampu menjadikannya sebagai kebiasaan. Jangankan anak-anak, usia produktif hingga tua tidak mencerminkan literasi yang lebih baik. Dilansir dari Med.com.id skor Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2022 menunjukkan minat baca yang semakin rendah, yakni mengalami penurunan 12 hingga 13 poin. Pada kemampuan membaca, skornya hanya 359, jauh di bawah rata-rata negara maju yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang berada di kisaran 487 poin. Survei yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 2022 menunjukkan bahwa hanyalah sekitar 20% penduduk yang membaca buku, dengan jumlah 5,91 buku setiap tahunnya (dpk.bantenprov.go.id).
Dengan fakta di atas, walaupun tidak 100% valid, namun cukup bisa dikatakan bahwa kita masih bukan negara yang rajin membaca. BPS (Badan Pusat Statistik) juga merangkum bahwa masih ada sekitar 3,47% penduduk pada rentang usia 0-15, pada rentang usia 15-44 tahun itu ada 0,47% orang, dan di atas 45 tahun itu lebih banyak lagi sekitar 8,04% yang masih buta aksara (mediaindonesia.com). Ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk terus meningkatkan semangat literasi. Jika dibiarkan, dampaknya jelas, literasi di Indonesia akan semakin terjerembap. Minat baca yang rendah pada anak berpengaruh pada perkembangan kognitif mereka, khususnya dalam hal berpikir kritis dan penguasaan kosakata. Saat anak jarang mengonsumsi informasi tekstual, maka mereka tidak terbiasa menganalisis teks dengan mendalam, berargumen secara tersusun rapi, dan berpikir logis.
Di negara maju, membaca buku adalah hal lumrah. Di Jepang, tidak asing melihat orang membaca komik di kafe, stasiun, dan tempat umum. Di Kenya, terdapat perpustakaan unta yang menembus pelosok terpencil agar anak pedalaman bisa membaca. Finlandia, sebagai penduduk dengan tingkat literasi teratas survei global, lebih unik lagi dalam menumbuhkan semangat literasi dengan menyediakan alat musik dan permainan hingga perpustakaan berjalan dengan menggunakan bus atau sepeda sebagai transportasinya (lib.ub.ac.id).
Jadi sudah saatnya kita mulai menjadikan membaca sebagai kultur dan budaya, apalagi saat ini kita sudah memasuki era ketika bahan bacaan bisa didapat dari berbagai arah dengan canggihnya teknologi. Semakin canggihnya teknologi ditandai munculnya artificial intelligence (AI) pada masa revolusi industri 4.0 semakin memudahkan informasi diakses oleh semua orang. Kesempatan ini menjadi tidak berarti apa-apa jika kebiasaan membaca tidak dimiliki oleh anak-anak kita. Berkembangnya alat komunikasi dengan munculnya media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram makin memperjauh relasi anak dengan buku. Anak-anak lebih suka menonton TikTok daripada harus susah-susah memahami teks. Media sosial menawarkan visual yang interaktif dan kreatif serta bahasa yang digunakan lebih mudah daripada buku-buku yang hanya menampilkan jejeran tulisan yang membosankan. Di media sosial, anak bisa lebih interaktif dengan adanya fitur komentar yang jelas tidak ditemukan pada buku dan masih banyak lagi. Namun, kita tidak bisa menyalahkan teknologi begitu saja, seperti yang dibahas di awal bahwa teknologi seharusnya bisa menunjang kegiatan membaca lebih variatif dan mudah. Lalu, mengapa anak-anak kita tidak suka membaca?
Rendahnya literasi pada anak dipengaruhi oleh berbagai hal yang rumit. Berdasarkan dari riset kecil yang penulis lakukan, terdapat beberapa hal yang setidaknya menyebabkan anak kurang tertarik membaca. Pertama, kita bisa melihat memang bahwa membaca kurang populer bahkan di kalangan generasi produktif dan tua, anak memiliki kebiasaan meniru, kebiasaan orang tua yang jarang memperlihatkan membaca buku di depan anak menyebabkan anak tidak memiliki teladan dalam melakukan hal tersebut. Di sekolah, murid juga jarang melihat guru berada di perpustakaan untuk sekadar meminjam buku apalagi membacanya. Anak pun menganggap kebiasaan membaca sebagai hal yang asing, tidak menarik dan membosankan. Kedua, koleksi buku di rumah atau di perpustakaan sekolah tidak variatif dan tidak sesuai selera anak. Banyak buku yang ada di perpustakaan atau di rumah yang sering kali kontennya terlalu rumit, serius, atau ceritanya tidak relevan dengan dunia anak.
Ketiga, kurikulum di sekolah menjadikan tugas membaca sebagai syarat wajib mendapat nilai semata, bukan tindakan yang dilakukan atas dasar rasa ingin tahu. Pekerjaan rumah yang terkesan menuntut untut diselesaikan, membuat rangkuman, menyelesaikan target bacaan, menjawab soal berdasarkan teks yang panjang lebar harus diganti dengan metode lain agar anak membaca bukan karena tugas, namun kegiatan yang berdasarkan rasa ingin tahu. Selanjutnya, lingkungan berpengaruh besar terhadap kebiasaan anak. Salah satu masalah krusial adalah sulitnya mendapatkan buku atau bahan bacaan yang laik dengan kualitas baik. Buku belum menjadi benda yang dianggap penting tak terpisahkan dari kehidupan keluarga, sekolah kekurangan buku yang menarik. Anak anak lantas dibesarkan di lingkungan yang tidak menganggap membaca sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Kebiasaan orang tua memberikan HP kepada anak di bawah usia produktif tanpa ada batasan jelas aturan main dan tanpa briefing pengetahuan malah menjadikan teknologi yang tersedia, yang alih-alih menjadi media belajar luas malah menjadi ”racun” bagi perkembangan kognitif anak. Tidak sepantasnya kita menyalahkan perkembangan teknologi, karena hal yang demikian sama saja kita mundur dari peradaban. Namun, kecanggihan tersebut seharusnya menjadi alat bagi kita untuk makin berkembang. Itulah beberapa hal yang berhasil penulis amati di sekitar, bukan riset yang mendalam memang, namun sedikit menggambarkan realitas yang harus segera diatasi untuk mencegah rendahnya literasi anak kian parah.
Untuk menghadapi tantangan literasi di era digital ini, ada baiknya kita mencoba berhenti sejenak dan merenung: persoalannya bukan sekadar memilih antara teknologi dan buku, melainkan bagaimana kita dapat menyeimbangkan keduanya secara bijak. Teknologi bukan menjadi alasan untuk mencari kambing hitam, melainkan justru bisa menjadi penyeimbang dan jembatan dalam memperkaya pengalaman membaca jika dimanfaatkan dengan tepat. Dengan catatan, anak sebelumnya harus dibekali dengan landasan membaca yang kuat, tanpa landasan literasi yang kuat, anak-anak akan kesulitan dalam memilah dan memilih informasi, memahami isi, dan menggunakannya secara kritis. Di sinilah peran semua pihak menjadi lebih urgen. Keluarga sebagai lingkungan pertama harus mampu menciptakan dan menanamkan cinta buku sejak dini.
Selanjutnya, sekolah perlu menyediakan ruang dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Sementara masyarakat, dalam hal ini pihak pemerintah, harus mampu menyediakan akses dan ruang publik yang ramah literasi. Keberadaan ekosistem yang seperti ini tidak dapat dibentuk secara instan, melainkan melalui kolaborasi yang konsisten dan kesadaran bersama akan pentingnya literasi dalam membentuk generasi masa depan yang cerdas, mandiri, dan bijak. Seperti kata penulis terkenal Margaret Fuller, ”Hari ini pembaca, esok pemimpin.” Oleh karenanya, mari kita menciptakan kesadaran bahwa membaca bukan hanya sekadar kewajiban atau tugas yang harus diselesaikan anak-anak, melainkan membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dalam menciptakan kebutuhan dan kebahagiaan bersama.
Menumbuhkan minat membaca pada anak bukanlah tugas yang ringan dan instan, tetapi jika kita mempunyai keinginan menumbuhkan minat membaca akan menjadi kegiatan yang bisa menjadi proses yang menyenangkan jika dilakukan dengan cara yang kreatif, penuh kesadaran, dan penuh kasih sayang. Membacakan buku sejak dini (read aloud), akan mempererat ikatan emosional dan dapat menanamkan kebiasaan mendengarkan dan memahami cerita sejak usia balita. Selanjutnya, ajak anak mengunjungi perpustakaan atau bisa ke toko buku sebagai bentuk kegiatan rekreasi yang seru, layaknya pergi ke taman bermain. Pilihlah bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan minat mereka, seperti buku bergambar, komik edukatif, atau novel ringan yang menghibur namun tetap memberi nilai edukatif.
Untuk memperkaya pengalaman membaca, kaitkan isi buku dengan dunia nyata. Misalnya, setelah membaca buku tentang satwa, ajak anak berkunjung ke museum atau ke kebun binatang untuk melihat secara langsung apa yang anak baca. Hal ini membuat membaca terasa nyata dan bermakna. Selain itu, orang tua dan guru perlu menjadi figur teladan bagi anak sebagai pembaca aktif; anak yang melihat orang dewasa di sekitarnya rajin membaca akan cenderung meniru kebiasaan tersebut. Dan tentu saja, kita tak bisa mengabaikan kekuatan dunia digital—gunakan e-book, audiobook, atau ajak anak bergabung dalam klub membaca daring agar mereka merasa bahwa membaca juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup modern yang seru dan relevan. Membaca tidak harus terpaku pada satu bentuk—yang terpenting adalah bagaimana kita membuka jendela dunia bagi anak melalui cerita, dalam bentuk apa pun yang mereka sukai. Semua itu menjadi bagian dari kegiatan menumbuhkan Kembali minat anak untuk rajin dan cinta mambaca. (*)
*)Kepala SDN Baddurih, Kecamatan Pademawu
Editor : Hera Marylia Damayanti