Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dari Ladang Tembakau ke Warung Madura

Ina Herdiyana • Minggu, 27 April 2025 | 12:50 WIB
HASANUDIN UNTUK JPRM
HASANUDIN UNTUK JPRM

Oleh HASANUDIN

PULAU Madura merupakan wilayah yang didominasi oleh ekosistem lahan kering, dalam hal ini ribuan petani menggantungkan hidupnya pada pertanian tembakau sebagai komoditas utama. Namun, keberlangsungan sektor pertanian ini kini berada di bawah ancaman serius akibat perubahan iklim. Alfiatul Khairiyah dalam esainya ”Deagrarianisasi dan Perubahan Iklim Madura” (Jawa Pos Radar Madura, 6 April 2025) secara jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim menimbulkan disrupsi pada kondisi sosial-ekonomi-budaya di Madura, khususnya di sektor agraris. Salah satu disrupsinya adalah dorongan terhadap masyarakat untuk meninggalkan sektor pertanian, yang menyebabkan perpindahan tenaga kerja secara signifikan dari pertanian menuju sektor informal seperti usaha warung-warung Madura di perkotaan. Sebenarnya ”bisa jadi” ada yang lebih mengkhawatirkan di bawah fenomena puncak gunung es ini, termasuk stereotipe yang muncul. Sebutlah misalnya penggunaan istilah ”Meksiko” untuk menggambarkan Madura di Surabaya, yang merefleksikan isu sosial yang lebih dalam. Komentar atas salah satu esai penulis di sebuah media juga sangat vulgar.

Meski analisis Khairiyah berhasil menangkap fenomena migrasi tersebut, ada beberapa aspek kritis yang juga penting untuk dieksplorasi lebih dalam, terutama terkait kondisi geografis Madura sebagai pulau kecil yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan air laut. Di daerah pesisir, naiknya muka air laut dapat menyebabkan intrusi air asin yang secara nyata menurunkan kualitas tanah, sekaligus menambah kompleksitas pola tanam. Belum lagi intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem. Banjir di Madura menjadi semakin lazim dalam 10 tahun terakhir. Meminjam rumus risiko bencana (IFRC, 2019), anomali iklim ini menjadi bencana di Madura semakin parah karena daya dukung lingkungan yang terus menurun sementara exposure geografisnya yang rentan. Kondisi ini mempercepat proses deagrarianisasi sekaligus memperkuat ketergantungan masyarakat pada sektor informal di luar wilayah Madura. Fenomena deagrarianisasi ini juga terjadi di sektor perikanan tangkap, yang turut terpengaruh oleh perubahan iklim dengan menurunnya hasil tangkapan akibat gangguan ekosistem laut.

Selain itu, analisis agraris juga semestinya bisa mendorong pendekatan khusus terhadap apa yang dihadapi oleh pertanian lahan kering di Madura. Ekosistem tegalan, dalam istilah Kuntowijoyo. Tembakau, sebagai komoditas utama pertanian lahan kering di Madura, sangat sensitif terhadap perubahan iklim (Setiawan, 2022). Beberapa waktu lalu, H. Her bahkan mengajak petani tembakau untuk menurunkan produksinya di musim tanam 2025 ini. Berbagai kajian menunjukkan bahwa fluktuasi curah hujan dan peningkatan suhu yang ekstrem dapat menurunkan produktivitas tanaman tembakau hingga separuhnya (Herlina, 2020). Ketergantungan tinggi terhadap satu jenis tanaman ini memperbesar risiko ekonomi dan sosial yang dihadapi petani Madura, terutama karena minimnya diversifikasi tanaman yang dapat bertahan dalam kondisi iklim yang semakin tidak menentu.

Untuk mengatasi permasalahan kompleks ini, diperlukan strategi transformasi pertanian secara menyeluruh. Khairiyah secara umum menyebutkan perlunya transformasi ekonomi berbasis lingkungan, tetapi penjelasan lebih terperinci mengenai implementasi strategi ini mutlak perlu dirumuskan para pemangku kepentingan, para petani sendiri khususnya. Kehadiran beberapa perguruan tinggi di Madura selayaknya mampu mendorong penelitian-penelitian yang aplikatif untuk Madura sendiri, khususnya sektor agrikultur. Dengan keterlibatan para petani sebagai pelaku utamanya, bukan semata menjadi objeknya. Dalam konteks global, laporan Future of Jobs (WEF, 2025) menyebutkan bahwa sektor yang paling membutuhkan pekerja dalam 5–10 tahun ke depan adalah sektor pertanian. Menariknya, proyeksi ini didorong oleh adopsi teknologi yang tinggi dalam sektor pertanian ini. Smart agriculture, bahasa kerennya.

Selain strategi pertanian yang bersifat intervensi langsung, pendekatan agroforestri serta rehabilitasi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove menjadi langkah penting untuk menjaga kesuburan tanah, melindungi lahan pertanian dari abrasi dan intrusi air laut, sekaligus menyediakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat setempat melalui produk agroforestri seperti buah-buahan, madu, dan produk hasil hutan nonkayu lainnya. Pada aspek engineering dan infrastruktur, kota-kota pesisir di Madura seharusnya sudah mulai melakukan penataan yang berbasis ketahanan terhadap perubahan iklim (resilient shoreline cities). Tengoklah kota-kota pesisir di Madura ketika terjadi torrential rain (hujan deras dalam waktu yang sangat singkat dan pada area yang terpisah-pisah). Bisa dipastikan genangan dan luapan terjadi. Infrastruktur, drainase khususnya, yang ada saat ini tidak lagi memadai secara desain untuk menangani akibat dari hujan semacam ini. Torrential rain sebagai dampak perubahan iklim (SciLine, 2024) semakin meningkat frekuensinya dan akan terus meningkat karena proyeksi ambang batas kenaikan suhu rerata permukaan bumi 1,5 derajat telah terlampaui.

Di samping aspek teknis, keberhasilan adaptasi terhadap perubahan iklim di Madura sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang integratif. Hal ini mencakup penguatan mitigasi bencana, perencanaan tata ruang yang memperhatikan dinamika lingkungan, serta pengembangan ekonomi lokal yang berbasis pada keberlanjutan. Tanpa dukungan kebijakan yang kuat, jelas, dan berkelanjutan, Madura akan terus mengalami migrasi yang signifikan. Dampaknya tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga berimplikasi negatif pada kohesi sosial dan pembangunan masyarakat lokal secara menyeluruh.

Sebagai penutup, fenomena ”deagrarianisasi” yang didedahkan Khairiyah ini menegaskan urgensi pendekatan yang komprehensif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Mengembangkan strategi adaptasi pertanian, mendorong diversifikasi ekonomi pedesaan, serta memperkuat kebijakan yang integratif dan responsif menjadi kunci untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat Madura, sekaligus memastikan keberlanjutan ekologi pulau ini di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin intens dan kompleks. (*)

*) Praktisi Ketekniksipilan dan Peneliti/Analis di LPPM Stikosa-AWS

 

Editor : Ina Herdiyana
#tembakau #Ladang #Pertanian #Deagrarianisasi #esai #warung madura