Oleh MOH. ALI GHUFRON
MEREKA yang statusnya sebagai pelajar sejarah, terutama sejarah Islam, mungkin tidak asing lagi dengan yang istilah ”masa kejayaan Islam” atau ”masa keemasan Islam”, sebuah era yang sudah terjadi pada abad pertengahan dulu, sekitar antara 650–1250 M, ditandai dengan berkembangnya kebudayaan Islam secara pesat dan cepat, sehingga tentu saja hal itu berpengaruh pada sebagian besar kehidupan dunia.
Saat itu, banyak bangsa dan negara yang sedang berada dalam kegelapan, Islam muncul sebagai sebuah solusi. Ia muncul sebagai harapan dan dimulainya kejayaan dan peradaban baru. Ia muncul seperti halnya sinar mercusuar yang menyelamatkan banyak kapal yang hampir menabrak karang.
Masa kejayaan tersebut tercipta berkat popularitas, kehebatan, dan karya para ilmuan muslim, para pemikir dan akademisinya, orang-orang yang melanjutkan perjuangan setelah masa kenabian, yang bahkan sebagian dari mereka ditetapkan sebagai kiblat kemajuan masa depan Eropa dan dunia. Namun, sangat disayangkan hal tersebut tak lebih hanya berkisar tujuh abad, waktu yang relatif cukup singkat bagi usia sebuah peradaban, masa keemasan yang sangat diagung-agungkan itu ternyata tak berlanjut seperti umur agama Islam itu sendiri, semuanya berubah, nilai-nilai yang jadi fondasi tegaknya agama pun juga ikut berubah, sehingga menyebabkan perjalanan peradaban ke depan tak tentu arah dan hanya bisa pasrah.
Pudarnya kejayaan besar itu diawali dengan runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, bukan karena besarnya kekuatan musuh, tapi karena pecahnya persatuan, sifat tamak dan penghianatan dari orang-orang dekat pemerintahan saat itu, maraknya korupsi, kolusi, nepotisme, feodalisme, hedonisme, dan degradasi moral para pejabat pemerintah. Dari sini akhirnya menciptakan dampak yang sangat serius, mulai dari runtuhnya peradaban Islam secara fisik, psikis, sosial, politik, dan yang lebih ironisnya lagi adalah hancurnya pusat ilmu pengetahuan, seperti runtuhnya perpustakaan Cordoba, Andalusia (Spanyol, Eropa), dan perpustaakan Baitul Hikmah Baghdad.
Sejarah pun mengajarkan bahwa penghancur ilmu pengetahuan adalah agresi politik, di mana beberapa abad sebelumnya, hal negatif serupa sudah pernah dialami oleh perpustakaan Alexandria, Mesir. Akhirnya, Islam tak lagi melahirkan tokoh-tokoh hebat seperti Ibnu Firnas dengan konsep pesawat terbangnya, Al-Zarqali dengan desain astrolabnya, Al-Zahrawi dengan teori ilmu bedahnya, dan Ibnu Rusyd (Averroes) dengan bukunya yang berjudul Tahafut At-Tahafut, buku yang sempat ia tulis untuk menyanggah buku Imam Ghazali yang berjudul Tahafut Al-Falasifah.
Zaman sekarang, banyak kita temukan orang-orang beragama berdasarkan faham sufisme, tentu hal itu tidak salah sepenuhnya, bukan pula bertujuan tendensius pada salah satu paham, mengingat dalam Islam diajarkan bahwa manusia dan jin diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhan, namun sialnya, hal itu dipahami sebagian orang hanya tertentu pada praktik ritual syariat saja, seperti salat, puasa, zakat, haji, zikir, sedekah, dan ibadah fisik lainnya, bahkan muncul persepsi di kalangan masyarakat awam bahwa semua hal yang tidak berbentuk ibadah fisik atau dikenal istilah duniawi, itu semua gak penting, karena tidak menuntun manusia masuk surga. Dan sepertinya, ini sudah menjadi keyakinan di hati mereka.
Mungkin sebagian orang tidak akan mengira bahwa di akhir zaman ini, tindakan-tindakan destruktif terhadap agama akan bermunculan dan mudah diciptakan, sebagian orang juga tidak menyadari bahwa kemasan agama adalah jualan yang mudah laku di kalangan orang awam. Tentu hal ini karena minimnya pemahaman mereka tentang banyak hal dalam agama, sehingga mudah dipengaruhi, didikte, dan bahkan diprovokasi atas dasar agama.
Siapa pelaku tindakan destruktif itu? Dan apa tujuannya? Sebagian mereka adalah orang-orang yang secara lantang berkata tentang pentingnya pengabdian dan perjuangan untuk agama, meski demikian mereka pula yang sebenarnya telah mengincar banyak celah untuk digunakan buat mencapai keuntungan sendiri atau kelompoknya, itulah cikal bakal munculnya orang zaman sekarang yang suka memakai istilah-istilah yang sifatnya ”keagamaan” dan ”kearab-araban” agar lebih nampak religius dan harus dipatuhi. Terlebih lagi, hal itu bisa menjadi senjata yang sangat ampuh di dunia politik.
Baca Juga: Ramadan: Mengukir Kenangan Meraih Kemenangan
Maka, tidak perlu heran jika orang-orang seperti inilah yang sebenarnya punya tujuan khusus untuk mencapai keuntungan semu dengan cara menunggangi agama. Mereka gencar memakai istilah yang sangat akrab dan menarik di telinga orang awam yang punya semangat beragama namun minim pengetahuan tentang agama, sehingga yang jadi sasaran adalah orang-orang yang mudah dijebak dan diprovokasi oleh kalimat-kalimat sugesti akhirat, seperti kalimat tentang ”surga”, ”pahala” dan ”berkah”.
Sebagai umat Islam, tentu kita meyakini bahwa hal gaib dan akhirat itu ada, bahkan Syekh Nawawi Banten dalam karyanya, Syarah Sullam Taufiq, jelas mengatakan bahwa salah satu bentuk iman kepada nabi itu adalah memercayai segala perkataan darinya, termasuk kabar dan penjelasan tentang akhirat.
Cuma, permasalahannya bukan tentang percaya atau tidak terhadap akhirat, tapi pokok persoalannya adalah mengenai orang-orang memakai instrumen agama hanya untuk melakukan pembodohan dan menciptakan validasi eksternal dari masyarakat, politisasi agama, mewajibkan atau melarang sesuatu yang masih bersifat mubah, tidak paham khilafiyah ulama, tidak paham batasan dan koridor dalam tatanan syariat, terlalu kaku dalam berpikir, antikritik, karena mereka anggap bahwa kritik itu sama dengan suuzan, padahal tidak demikian.
Konsep kemanusiaan itu adalah egaliter, bukan feodal. Kita pun harus paham bahwa terlalu kiri itu tidak baik, terlalu kanan juga tidak aman. Mungkin sangat tepat jika seorang tokoh filsuf dan ilmuan muslim yang masyhur dengan nama Averreos (Ibnu Rusyd) pernah menyatakan bahwa jika ingin menguasai orang bodoh, maka bungkuslah sesuatu yang batil itu dengan kemasan agama.
Hilangnya warisan dari para ilmuan dan para pemikir itu tentu sangat menentukan dalam budaya dan kultur di bidang ilmu pengetahuan, budaya berpikir secara rasional dan budaya kritis sudah tak menjadi bagian dalam aktivitas beragama, padahal entah berapa banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk menggunakan logikanya agar bisa berpikir secara komprehensif dan mendalam, dan itu juga adalah salah satu kebiasaan para tokoh yang sudah terbukti dengan karya dan pemikirannya, yang bahkan bisa memengaruhi dunia sehingga bisa mendukung dalam perjuangan untuk agama.
Kiai Bahauddin Nursalim pernah mengatakan bahwa siapa pun yang mencintai agama ini, dia harus banyak baca (belajar), jangan mengikuti emosi, terus emosi itu diatasnamakan agama. Dan juga agama ini akan ada sampai kiamat, makanya harus dikawal dengan logika yang kuat (argumentasi ilmiah), misal, kalau kita menghindari maksiat, selain memang karena takut siksa Allah, di sana ada logika dan rangkaian pikiran yang menjadikan kita menjauhi maksiat, pikiran-pikiran seperti ini harus kita tanamkan, karena sesuatu yang dilarang Allah Swt itu sudah pasti mudarat, tidak baik. Contohnya saat kita menjauhi narkoba, ya tentu memang karena takut azab Allah, ditambah lagi ada efek buruk di sana sehingga kita memang harus menghindarinya.
Kenapa umat Islam harus memperbanyak pengetahuan? Jawabannya adalah agar mereka bisa menguatkan iman dan agama dengan didasari ilmu pengetahuan, tidak hanya sekadar ikut-ikutan yang potensi rapuhnya sangat rawan.
Syekh Nawawi Banten dalam Kasyifatus Saja menuturkan bahwa level iman manusia itu ada iman taqlid dan ada juga iman ilmu (ilmul yaqin), meski iman taqlid ini juga dinilai sah, tapi masih diragukan ketahanannya, karena bisa dibilang bahwa fondasinya belum begitu kuat, sehingga orang yang imannya masih level iman taqlid, ia termasuk bermaksiat, jika sebenarnya ia mampu mencari dalil sendiri dengan ilmu, disebut maksiat karena ia telah meninggalkan istidlal (pendalaman argumentasi dengan ilmu). (*)
*)Santri PP Miftahul Ulum Bettet Pamekasan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti