Oleh SUWANTORO
”Setiap yang datang membawa kebahagiaan, kehadirannya pasti akan selalu dirindukan, dan kepergiannya pun menyisakan air mata.” Ungkapan ini sangat tepat untuk memberikan gambaran tentang perasaan seorang hamba yang mendambakan sesuatu yang berharga, tak terkecuali juga pada bulan Ramadan.
SAAT ini, (Ramadan 1446 H) telah memasuki fase sepuluh hari terakhir. Menurut mayoritas ulama, fase ini adalah waktu penuh keberkahan dan peluang emas untuk meraih ampunan Allah. Dalam banyak kesempatan, para ulama pun menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadan adalah momen istimewa bagi umat Islam untuk semakin meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, dan mencari malam kemuliaan, yakni Lailatulqadar.
Dengan segenap keistimewaan yang melekat dalam bulan suci ini, siapa yang tidak berbahagia saat Ramadan tiba? Dan, siapa pula yang tidak merasa kehilangan saat ia mulai beranjak pergi? Jawaban dari dua pertanyaan tersebut tentu sama, bahwa kebahagiaan saat menyambutnya dan kesedihan saat ia berlalu adalah sesuatu yang pasti dirasakan oleh setiap muslim, terutama mereka yang memahami keberkahan, kemuliaan, dan keistimewaan bulan suci Ramadan. Segala kesempatan yang ada di dalamnya menjadi peluang besar bagi setiap individu untuk memperbaiki diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Maka, tidak begitu heran ketika Ramadan tiba, nuansa religius begitu terasa. Semarak pembacaan Al-Qur’an (tadarus) bergema di berbagai tempat, baik di masjid, musala, maupun di lingkungan kerja yang memungkinkan digelarnya tadarus bersama. Selain itu, kajian-kajian keislaman juga semakin meningkat, memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk lebih mendalami ajaran agama Islam. Bahkan, tak kalah semaraknya juga, berbagai kegiatan sosial seperti santunan anak yatim dan berbagi takjil di pinggir jalan menjadi bagian dari tradisi yang memperkuat kepedulian terhadap sesama di bulan suci ini.
Kebersamaan dalam merajut hubungan sosial pun ikut mewarnai dalam berbagai aktivitas keagamaan. Masyarakat nampak saling berlomba dalam kebaikan, baik melalui kegiatan buka puasa bersama, pemberian bantuan kepada fakir miskin, maupun aktivitas mulia lainnya. Semua ini dilakukan dengan segenap pengharapan agar bisa meraih keutamaan pahala yang dilipatgandakan di bulan Ramadan, yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan bulan lain.
Namun, di balik semua aktivitas tersebut, ada perjuangan besar dalam menjaga konsistensi ibadah dan semangat berbagi antar sesama. Rasa lelah karena berpuasa, waktu yang tersita untuk beramal, bahkan (mungkin) pengorbanan materi demi membantu sesama, semuanya menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang penuh makna. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah proses pembelajaran dan pendewasaan diri.
Semua orang pasti meyakini bahwa apa pun yang kita kerjakan hari, ini akan menjadi kenangan di kemudian hari, meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam ingatan dan hati. Oleh sebab itu, segala perjuangan, kebersamaan, serta kehangatan dalam suasana setiap bulan Ramadan akan tersimpan rapi dalam ingatan. Namun, lebih dari sekadar kenangan, Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk perubahan yang lebih baik. Jika bulan ini mampu mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya, maka sejatinya kita telah meraih kemenangan yang hakiki.
Setiap kemenangan yang diraih melalui perjuangan merupakan sebuah capaian yang sangat prestisius. Ramadan mengandung pesan penting bagi kita semua, terutama dalam hal pengendalian diri dengan melatih menahan hawa nafsu. Seperti pepatah bijak yang menyatakan bahwa kejayaan sejati sering kali berawal dari jatuhnya kejayaan sebelumnya, kecuali bagi mereka yang terus berupaya memperbaiki diri tanpa henti. Seorang pemenang tidak boleh cepat merasa puas, karena tantangan terbesar justru muncul setelah kemenangan berhasil diraih.
Pepatah tersebut, secara sederhana jika diartikan maka maksudnya begini, siapa pun orangnya yang betul-betul memahami hakikat Ramadan, tidak akan merasa puas hanya karena telah berhasil melaksanakan berbagai ibadah selama sebulan penuh. Tetapi, dirinya akan tetap senantiasa menjaga kualitas spiritualnya pasca Ramadan.
Sebagai penutup, Ramadan bukan hanya tentang kenangan indah dari aneka ragam ibadah yang telah kita jalani selama sebulan, yang akan kita rindukan, tetapi juga momentum sakral yang mengajarkan kita untuk meraih sekaligus mempertahankan kemenangan spiritual yang telah diraih. Mari jadikan Ramadan sebagai titik awal bagi kehidupan yang lebih berkah, lebih bermakna, dan lebih bertakwa. Sehingga, kita pun tidak hanya mengukir kenangan samata, tetapi juga meraih kemenangan yang nyata. Allahu a’lam. (*)
*)Alumnus PP Riyadlus Sholihin Laden Pamekasan, mengabdi sebagai dosen IAIN Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti