Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

”Pergi demi Susu Anak, Pulang demi Susu Ibu”

Ina Herdiyana • Minggu, 23 Maret 2025 | 13:35 WIB

 

MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN UNTUK JPRM
MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN UNTUK JPRM

Oleh: MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN*

 

DI tengah riuh lalu lintas Pamekasan–Kamal, ada sebuah kalimat yang kerap terpampang di bak mobil Elf atau angkutan umum ”Pergi demi susu anak, pulang demi susu ibu”. Frasa ini bukan sekadar tulisan cat putih yang pudar tertimpa hujan dan debu. Ia adalah mantra hidup, penggalan puisi urban, sekaligus prasasti yang mengabadikan pergulatan kelas pekerja Indonesia dalam merangkai harapan di tengah ketidakpastian.

Setiap kata di sini adalah cermin retak yang memantulkan realitas sosial-ekonomi negeri ini. ”Pergi” bukan sekadar gerak fisik meninggalkan rumah, melainkan pengusiran diri dari zona nyaman demi memenuhi tuntutan peran sebagai tulang punggung keluarga. Pulang pun bukan akhir perjalanan, melainkan jeda sejenak sebelum siklus itu kembali berputar—seperti roda angkot yang tak pernah benar-benar berhenti. Kata ”susu”, yang terkesan lembut dan domestik justru menjadi simbol perlawanan: ia adalah representasi dari kebutuhan paling purba, sekaligus tamparan bagi sistem yang gagal menjamin hak dasar warga negaranya.

Di balik kesederhanaannya, frasa ini menyimpan ironi yang pahit. ”Susu anak” mengisyaratkan mimpi akan generasi yang lebih sehat dan terdidik, tapi bagaimana mungkin itu tercapai jika orang tua harus menghabiskan 12 jam di jalan untuk upah yang tak sebanding? ”Susu ibu” merujuk pada keutuhan rumah tangga, tetapi di banyak kasus, ia justru menjadi alat ukur kesuksesan patriarki—seolah nilai seorang suami ditakar dari lembaran rupiah yang diserahkan ke meja makan.

Tulisan ini akan mengupas lapis-lapis makna di balik ungkapan tersebut. Dari sudut bahasa, kita akan menyelisik kekuatan metafora ”susu” yang mampu menyederhanakan kompleksitas hidup. Melalui lensa budaya, kita menguak bagaimana nilai-nilai kolektivisme dan patriarki membentuk narasi pengorbanan ini. Aspek sosial akan menyingkap solidaritas tersembunyi di antara para sopir, sekaligus stigma yang mereka pikul. Tinjauan ekonomi akan membawa kita pada pertanyaan: mengapa ”susu” harus diperjuangkan dengan taruhan nyawa di jalan raya? Sementara dari kacamata psikologis, kita akan menelusuri dampak psikis dari siklus ”pergi-pulang” yang tak berkesudahan—antara kebanggaan sebagai penyelamat keluarga dan kelelahan sebagai manusia yang terlupakan.

Mari kita telusuri bukan hanya makna, tapi juga denyut nadi yang berdetak di balik huruf-huruf itu—sebab setiap goresan cat di bak mobil itu adalah ayat suci dari kitab perjuangan yang ditulis oleh rakyat kecil.

 

Aspek Bahasa

Ungkapan ini menggunakan permainan kata yang sederhana, namun penuh makna. Kata ”susu” dipilih sebagai simbol kebutuhan paling dasar—bukan sekadar minuman, melainkan representasi dari tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Struktur kalimatnya yang paralel (”pergi” vs. ”pulang”, ”anak” vs. ”ibu”) menciptakan ritme yang mudah diingat, sekaligus menggambarkan siklus hidup pekerja: berangkat untuk bekerja, pulang untuk beristirahat, lalu berangkat lagi.

Pemilihan kata ”demi” juga menarik. Kata ini menyiratkan pengorbanan—bekerja bukan sekadar rutinitas, tetapi sebuah tugas moral yang dikerjakan dengan kesadaran penuh. Bahasa yang digunakan bersifat langsung, reflektif, dan mudah dipahami masyarakat kelas pekerja sehingga cocok menjadi pengingat bagi sesama pengguna jalan tentang nilai kerja mereka.

 

Aspek Budaya

Dalam budaya Indonesia yang kolektif, keluarga adalah alasan utama seseorang bertahan hidup. Ungkapan ini mencerminkan filosofi ”hidup untuk memberi” yang mengakar kuat. ”Susu anak” melambangkan kewajiban seorang ayah (atau orang tua) untuk memastikan generasi berikutnya tumbuh sehat, sementara ”susu ibu” merujuk pada komitmen untuk menjaga keutuhan rumah tangga—baik secara finansial maupun emosional.

Di sini, terlihat bagaimana budaya patriarki turut berpengaruh: laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung, sementara perempuan (yang diasosiasikan dengan ”susu ibu”) ditempatkan sebagai penjaga kehangatan domestik. Meski terkesan stereotipikal, frasa ini tetap mencerminkan realitas banyak keluarga Indonesia yang masih mengikuti pembagian peran tradisional.

Aspek Sosial

Ungkapan ini bukan sekadar tempelan di mobil—ia adalah pernyataan publik yang ditujukan kepada masyarakat. Dengan menuliskan kalimat tersebut, sopir atau pekerja ingin menyampaikan: ”Saya bekerja keras bukan untuk diri sendiri, tapi untuk orang yang saya cintai.” Ini adalah bentuk permohonan empati, terutama di jalanan yang sering diwarnai konflik antar-pengguna jalan.

Di sisi lain, frasa ini juga mencerminkan tekanan sosial yang besar terhadap laki-laki sebagai kepala keluarga. Kegagalan memenuhi kebutuhan ”susu anak” bisa dianggap sebagai aib, sementara pulang tanpa membawa ”susu ibu” (uang untuk istri) dapat merusak harmoni rumah tangga. Di tingkat komunitas, ungkapan ini menjadi pemersatu bagi pekerja sektor informal yang merasa perjuangan mereka sering diabaikan.

 

Aspek Ekonomi

Bagi sopir angkutan umum atau elep, frasa ini adalah cerminan nyata ekonomi subsisten. ”Susu” di sini bisa diartikan sebagai penghasilan harian yang pas-pasan—uang untuk membeli susu anak, beras, atau bayar listrik. Mereka bekerja di sektor informal yang tidak menjamin jaminan kesehatan, pensiun, atau upah tetap. Setiap hari adalah perlombaan melawan waktu: jika tidak ”pergi” mencari penumpang, tidak ada ”susu” yang bisa dibawa pulang.

Ironisnya, siklus ini sering membuat mereka terjebak dalam kemiskinan struktural. Penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa ruang untuk menabung atau mengakses pendidikan yang lebih baik. Ungkapan ”pulang demi susu ibu” juga mengisyaratkan betapa pendapatan tersebut harus langsung diserahkan kepada istri, yang biasanya mengelola keuangan rumah tangga.

Ungkapan ”Pergi demi susu anak, pulang demi susu ibu” adalah potret mikro masyarakat Indonesia yang kompleks, sebuah mosaik yang memadukan keindahan nilai-nilai luhur dengan retakan ketidakadilan sistemik. Di satu sisi, frasa ini menjadi monumen bagi pengorbanan tanpa syarat, di mana kerja keras seorang kepala keluarga diabdikan untuk memastikan anak-anaknya tumbuh dengan nutrisi yang cukup—sebuah cerminan semangat gotong royong dan tanggung jawab kolektif yang mengakar dalam falsafah ”urip iku urup” (hidup berarti memberi cahaya). Namun, di balik romantisme pengorbanan ini, tersembunyi paradoks yang menyakitkan: nilai-nilai luhur tersebut justru tumbuh subur di tanah yang gersang oleh ketimpangan ekonomi, beban gender yang timpang, dan ketiadaan payung hukum bagi jutaan pekerja informal yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Namun, di tengah kegelapan ini, frasa tersebut tetap menjadi lentera resistansi. Ia adalah pengingat bahwa di balik angka pertumbuhan ekonomi, ada manusia-manusia yang bertaruh nyawa di jalanan hanya untuk mempertahankan hak paling dasar: memberi susu untuk anaknya. Seperti kata aktivis buruh, ”Ini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi pertaruhan martabat.” Setiap huruf di bak mobil itu adalah protes halus terhadap sistem yang mengerdilkan kemanusiaan menjadi sekadar mesin pencari ”susu”.

Dengan demikian, ungkapan ini bukan cermin pasif, melainkan potret dialektis—memuliakan ketangguhan rakyat kecil sambil menelanjangi kegagalan negara dalam menjamin keadilan sosial. Ia adalah epik modern tentang Indonesia: gagah dalam pengorbanan, tetapi terpelanting dalam kesenjangan.

Di balik metafora sederhananya, frasa ini adalah seruan diam-diam—baik untuk dihargai sebagai pahlawan keluarga maupun untuk didukung oleh sistem yang lebih adil. Ia mengajak kita merenung: sampai kapan ”susu” harus menjadi alasan seseorang menghabiskan tenaga dan waktunya di jalanan? Mungkin jawabannya terletak pada bagaimana kita, sebagai masyarakat dan negara, menciptakan ruang agar setiap orang tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang. (*)

 

*)Dosen sastra di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Madura

 

Editor : Ina Herdiyana
#opini #catatan #ibu