Oleh: Baihaqi Ady
SALAH satu momen yang sangat dinanti oleh umat Islam pada bulan Ramadan adalah datangnya Lailatulqadar. Selain keberadaannya diabadikan dalam Al-Qur’an, bahwa malam Lailatulqadar lebih baik dari 1.000 bulan (QS Al-Qadr, ayat 3), momen tersebut menjadi misterius problem.
Misterius karena penyebutannya sangat abstrak dan sangat interpretatif. Bahkan, tak satu pun ahli tafsir, secara spesifik memberikan ta’rif (definisi) tentang Lailatulqadar. Ulama Syafi’iyah Al-Imam An-nawawi Misalnya, berpendapat bahwa malam Lailatulqadar jatuh antara 10 malam di pertengahan Ramadan (antara tanggal 10 sampai dengan 20 bulan Ramadan).
Sementara itu, Al-Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang sangat populer Ihya Ulumuddin, secara garis besar berpendapat, malam Lailatulqadar jatuh pada malam ganjil 10 terakhir di bulan Ramadan. Terlepas dari ikhtilaf ulama, penulis mencoba memotret terma Lailatulqadar tidak dalam konteks ”masa atau waktu” tibanya. Tapi, pada konteks yang realistis, konkret, dan lebih aksional-implementatif.
Lailatulqadar dalam Perspektif Sosiologis
Dalam kaitan ini, mempermasalahkan waktu atau masa tibanya Lailatulqadar, sesungguhnya sudah selesai dalam kajian para ulama terdahulu. Dalam pandangan penulis, justru yang sangat esensial adalah, mempertanyakan kembali kepada para pemburu Lailatulqadar akan dampak dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial. Dalam konteks kekinian, yang sangat penting sesungguhnya, bagaimana mendekatkan makna dan substansi Lailatulqadar pada aspek sosiologis.
Bila ditarik pada fenomena angka kemiskinan di Indonesia per September 2024 mencapai 8,57 persen atau setara 24,06 juta orang, sungguh angka yang sangat spektakuler di negara yang mayoritas berpenduduk muslim, dan tiap tahun selalu menggaungkan pentingnya memburu Lailatulqadar. Lalu, apa korelasinya dengan pemahaman bahwa Lailatulqadar lebih baik dari 1.000 bulan? Yang terbayang seolah side effect dari momen agung ini sama sekali tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan sosial.
Karena itu, penulis mengajak pembaca untuk sejenak melakukan refleksi akan pentingnya menaikkan grade pemahaman keagamaan yang lebih orientatif. Salah satu caranya dengan mengasah kembali kepekaan rasa solidaritas yang dibuktikan dengan aksi nyata. Sehingga, paralel antara nilai-nilai keagamaan sebagai rahmatan lil 'alamin yang kita yakini dengan realitas sosial yang kita hadapi.
Bila ini yang terjadi, maka esensi Lailatulqadar tak sekadar menjadi pemahaman stagnan dan hampa aksi. Karena bila dilihat secara harfiah, kata Al-Qadr merupakan derivasi dari akar kata Qadara yang bermakna mampu. Maka sebagai umat Islam, tentu dituntut untuk memiliki kemampuan dengan mempertajam rasa penuh ketulusan menutupi lubang-lubang ketimpangan sosial.
Zakat fitrah adalah alternatif terakhir dari sekian banyak aksi sosial yang mesti dilakukan. Dengan cara tersebut, perwujudan dari nilai-nilai Lailatulqadar sungguh sangat dirasakan. Hal ini juga bersenyawa dengan sebutan bahwa Bulan ramadan sebagai syahru mudla'afatil hasanaat (berlipat gandanya pahala kebajikan) yang tidak pernah ditemukan pada bulan-bulan yang lain.
Bila gerakan ini dilakukan secara kolosal dan sustainable hingga bulan Ramadan tahun berikutnya, maka konfigurasi sosial ekonomi masyarakat di Indonesia pasti akan mengalami perubahan yang cukup memukau. Angka kemiskinan juga akan mengalami penurunan yang drastis. Dan inilah sesungguhnya yang menjadi harapan bersama dalam melanjutkan risalah kenabian dengan jiwa profetik. Sehingga, ending-nya akan terbentuk keshalihan ijtima’i.
Idul Fitri sebagai Puncak Kemenangan
Rangkaian akhir beribadah di bulan Ramadan adalah merayakan hari kemenangan (Idul Fitri). Momen ini menjadi pertaruhan gerakan kolosal di atas dan menjadi starting point akan keseimbangan ajaran yang bersifat profan dengan realitas sosial yang insyaallah membanggakan. Bangga karena sudah tidak ada lagi saudara kita yang tertindih oleh himpitan ekonomi dan saudara kita yang miskin merasa hidup sejajar karena terbantukan oleh mereka yang berkecukupan.
Maka, bulan Syawal akan menjadi uji petik dalam melestarikan ketajaman rasa dan kepedulian antar sesama dalam menapaki kehidupan yang lebih sejahtera dan berkeadilan. Pada momen ini pula, gema takbir Allahu Akbar 3X menjadi landasan moral untuk terus kita gelorakan. Wa Lillaahilhamdu adalah kalimat pemungkas sebagai wujud syukur atas segala anugerah untuk kita semua dalam menjalankan aktivitas di bulan Ramadan yang penuh ampunan. (*)
*)Penulis saat ini berkhidmat pada Kementerian Sosial (Kemensos) RI dan dipercaya sebagai Korkab PKH di Kabupaten Sumenep
Editor : Fatmasari Margaretta