Oleh: ACH. ZAINI DAHLAN
SETIAP Ramadan tiba, ingatan saya terlempar jauh saat mondok di Pesantren Mambaul Ulum Ponjanan Timur. Sebab, saat bulan puasa tiba, sebagian santri pulang atau liburan. Akan tetapi, beberapa santri termasuk saya memilih bertahan di pondok untuk mengikuti kajian kitab yang diajarkan kiai. Yakni, kitab Tafsir Jalalain.
Kajian dimulai pukul 06.00–17.00. Saya mengaji dengan beliau hampir sebulan penuh setiap Ramadan. Kajian hanya berjeda saat azan duhur dan asar karena harus melaksanakan salat berjemaah. Rasa penat, capek, mengantuk, dan malas tentu menghinggapi saya dan teman-teman santri yang lain.
Bisa dibayangkan bagaimana rasanya 10 jam duduk dan menafakuri Tafsir Jalalain yang dibacakan kiai pada saat itu. Namun, hal tersebut tidak mengurangi niat saya dan teman-teman yang lain untuk turut serta khataman kitab tersebut. Meski di sela-sela kajian saya dan sebagian santri pasti turun dari musala untuk sekadar rehat atau menghilangkan ngantuk yang menyergap mata.
Sampai saat ini, kegiatan kajian kitab tersebut masih berlangsung. Bedanya, sejak 2019 –saat saya mengikuti kajian tersebut setelah menjadi alumni– kiai mengajar langsung selesai salat Asar sampai pukul 16.30.
Lantas, apa hubungan cerita saya dengan judul di atas? Untuk menghubungkan judul dengan cerita di atas, marilah kita mengenal sosok ulama di balik kitab tersebut. Yakni, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Mahalli, biasa disebut Jalaluddin al-Mahalli. Sedangkan penulis kedua adalah Jalaluddin Abul Fadhl Abdurrahman bin Abu Bakr bin Muhammad bin Abu Bakr al-Khudhairy ath-Thuluuni Al-Mishri asy-Syafi’i atau biasa disebut as-Suyuti.
Dari kedua ulama itu, saya teringat dengan kutipan khusus yang selalu menjadi motivasi saat hendak menulis. Imam As-Suyuti pernah berkata, ilmu bisa abadi dengan diajarkan atau dikarang. Saya sebagai orang yang kurang gemar berbicara di depan khalayak atau berorasi di depan orang lain cenderung memilih untuk menuangkan ide dan gagasan melalui tulisan. Salah satu kutipan dari Imam As-Suyuti tersebut menjadi cikal-bakal dan fondasi mengapa saya menulis.
Lalu, apa hubungannya dengan santri? Mengapa santri harus menulis? Santri, sebagai seseorang yang menguasai ilmu agama serta paham kitab kuning, kemampuan menulis sangat dibutuhkan sebagai media pendukung saat mereka tidak mampu berdakwah dengan lisan. Menulis tentu membutuhkan ketekunan dan kemauan. Tanpa ketekunan dan kemauan, menulis akan menjadi penghambat.
Santri harus mampu menyampaikan ilmu melalui tulisan yang bersumber dari kitab klasik yang mereka pelajari di pondok pesantren. Santri setidaknya punya catatan. Sebab, salah satu mantra seorang santri saat belajar adalah ilmu yang merupakan buruan, sedangkan tulisan adalah pengikatnya. Maka, mantra itu harus selalu dipegang teguh seorang santri.
Mengapa harus menulis? Sesuai yang dikatakan Imam Ghazali, ”Bila engkau bukan putra raja dan ulama besar, maka menulislah!” Jika kita bukan anak pejabat, bukan anak dari seorang raja atau bahkan anak seorang ulama, maka menulislah karena dengan menulis kamu akan abadi.
Karya yang kamu tulis suatu saat akan menjadi catatan amal untukmu yang berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Jadi, saatnya santri berdaya dengan membiasakan menuliskan pengalaman atau pelajaran yang didapat selama menjadi santri. Anjuran menulis juga disabdakan Baginda Nabi Muhammad SAW, ”Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” Nabi Muhammad saja sudah dengan jelas memerintahkan kita untuk menulis, mengapa kita tidak mau menulis? Barangkali ini akan menjadi salah satu amal jariah kita nanti.
Kembali ke Imam As-Suyuti, beliau merupakan salah seorang ulama yang memiliki lebih dari 300 karya selama hidupnya. Itu menandakan beliau seorang ulama yang sangat produktif dalam menulis. Tentu, itu menjadi tantangan kepada kita kaum santri, apa yang sudah kita pelajari di pondok. Bahwa yang sudah didapatkan dari pesantren harus bisa kita sampaikan kepada masyarakat sebagai salah satu media dakwah dan menulis adalah salah satu caranya.
Santri harus aktif menulis sebagaimana ulama terdahulu yang banyak sekali karya-karyanya. Santri harus mampu mengembangkan dan mengemban amanat dakwah serta ilmu yang didapatkan dari pesantren. Mari menjadi santri milenial yang melek teknologi, paham kitab klasik, dan menuliskan sarahnya untuk dapat dipahami orang lain.
Pesantren sebagai wadah bagi para calon pendakwah harus memberikan layanan dan fasilitas untuk membentuk santri yang dapat menelurkan karya-karyanya yang bersifat intelektual dan agamais. Karena itu, jika kamu santri, maka menulislah! (*)
*)Pengajar di MA Mambaul Ulum 2, Ponjanan Timur, Batumarmar, Pamekasan
Editor : Ina Herdiyana