Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Darurat Pendidikan

Ina Herdiyana • Senin, 10 Maret 2025 | 13:10 WIB
MOH. ALI GHUFRON UNTUK JPRM
MOH. ALI GHUFRON UNTUK JPRM

Oleh MOH. ALI GHUFRON

PENDIDIKAN, satu kata yang penuh makna bijaksana. Kata yang semua orang segan untuk bersikap skeptis padanya. Kata yang bisa menjadi sebuah indikator, tolok ukur dalam kesenjangan sosial. Kata yang dengannya manusia bisa berbangga diri, berprestasi, bahkan menggenggam dunia. Namun, ia juga merupakan kata yang tak banyak dari mereka betul-betul memahami penuh secara definitif,  substantif, bahkan esensialitasnya.

Indonesia adalah salah satu negara yang tingkat literasinya masih sangat minim. Bahkan, nilai pendidikan negara ini sangat rendah di kancah dunia. Banyak yang menjadi penyebab hal itu bisa terjadi. Padahal, dengan statistik jumlah guru, sekolah, perguruan tinggi, dan pelajar, kita berada di angka yang sangat baik. Tentu sudah sewajarnya keadaan itu mengharuskan SDM negara kita ada di tingkat atas. Tapi kenyataannya tidak, kuantitas itu ternyata tidak berbanding lurus dengan kualitas, bahkan sebaliknya.

Daya baca masyarakat kita sangat tidak menjanjikan. Bahkan, mereka yang ada di bangku sekolah pun tidak ada jaminan bahwa tingkat literasinya tinggi. Tidak menutup kemunginan, hal tersebut memengaruhi pola berpikir, cara bersikap, atau tatanan nilai sosial. Ada beberapa yang bisa menjadi salah satu bukti konkret. Coba lihat oraang-orang sekitar kita atau coba sesekali baca percakapan orang-orang di media sosial. Di  sana kita bisa melihat secara jelas kualitas SDM masyarakat kita. Jadi, betul adanya kalau dalam sebuah kalimat bijak itu disebutkan ”Berpikir itu sulit. Makanya, manusia lebih banyak menilai.” Kita hidup di sebuah wilayah di mana manusianya lebih banyak menilai daripada berpikir. Mereka bahkan menganggap sekolah itu hanya tempat mencari ilmu sekadarnya, tidak perlu banyak wawasan dan pengetahuan, yang penting bisa lulus dan mendapat ijazah untuk bekal pekerjaan. Boleh dikata, mereka cuma sekolah, tidak belajar. Setelah itu, dengan mudahnya mengeklaim sebagai orang berpendidikan. Semurah itukah nilai dari ilmu pengetahuan?

Ada percakapan dua anak lulusan sekolah menengah, si A bertanya :”Nanti setelah lulus mau lanjut ke mana?”

Si B menjawab: ”Sekolah yang itu (menyebut nama sekolah)”

Si A nanya lagi:  ”Kenapa mau sekolah di sana?”

Si B menjawab: ”Karena sekolahnya modern, fasilitas belajar yang banyak, siswanya banyak, pasti pelajarannya bagus.”

 Dari percakapan dua anak di atas dapat dipahami bahwa si anak itu memilih sekolah untuk dirinya belajar dilihat dari kuantitas dan kelengkapan sekolah. Apakah itu salah? tentu tidak. Sebab, kelengkapan fasilitas belajar akan membantu kelancaran dan kualitas belajar anak anak di sana. Lalu, apakah semua siswa di sana memiliki alasan yang sama kenapa mereka memilih sekolah itu? Rasanya tidak, tidak semua anak yang sekolah di sana punya alasan yang sama seperti halnya percakapan di atas. Bisa saja sebagian di antara mereka sekolah di tempat yang bagus tersebut hanya untuk kelihatan keren dan berkelas serta punya status sosial yang tak bisa dipandang sebelah mata. Hingga suatu saat keinginannya tercapai. Saat ada orang bertanya, dia bisa menjawab ”Saya adalah siswa di sekolah terbaik di kota ini.”

Secara de jure, kita telah merdeka 79 tahun yang lalu yang bahkan upacara kemerdekaannya digelar tiap tanggal 17 Agustus setiap tahun, serentak hampir di seluruh wilayah pelosok negeri. Jadi, tidak mungkin rasanya kita melupakan kemerdekaan itu dengan mudah. Namun secara de facto, kemerdekaan itu masih jauh dari kata sempurna, masih banyak tugas berat bangsa ini, terutama para generasinya. Merdeka secara fisik mungkin tercapai, tapi secara ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan teknologi masih belum menyentuh kata merdeka sepenuhnya, apalagi merdeka secara berpikir.

Merdeka secara berpikir tidak hanya tentang kita bisa  berpikir apa pun secara berdaulat dan tanpa batas, tapi bagaimana pola pikir itu membuat kita tidak mudah terjebak dalam situasi yang cacat nalar, mudah terdikte, atau terpengaruh standar sosial dan propaganda luar sehingga kita terhindar dari kesalahan berpikir (logical fallacy). Itulah salah satu penyebab SDM dan pendidikan kita tidak maju secara kualitas. Kita belum punya nilai prinsip kemerdekaan berpikir.

Kadang kita melihat pendidikan Indonesia itu unik. Puluhan juta orang bergelar tinggi tidak mampu mengelola kemampuan cara berpikir yang sesuai dengan kelas gelar akademiknya. Mungkin bukan hal yang aneh, mengingat pendidikan kita tidak banyak target pencapaian ke masalah potensial. Yang banyak itu pencapaian komersial dan gelar sosial. Entah apa ini termasuk tanda bahwa pendidikan itu gagal ? Tentu itu tidak diharapkan terjadi.

Baca Juga: Liburan Santri; Ajang Pertaruhan Norma dan Citra Pesantren

Seorang tokoh yang dikenal sebagai bapak pendidikan nasional, Raden Mas Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), mulai zaman sebelum proklamasi sudah banyak mengajar di berbagai tempat. Berkali-kali dia ajarkan kepada muridnya bahwa tujuan inti dari pendidikan itu adalah mencapai kemerdekaan lahir batin, keselamatan raga, dan kebahagiaan jiwa. Dari situlah muncul banyak perspektif dan penafsiran di kalangan para akademisi tentang hal tersebut, ditambah waktu itu Indonesia masih dalam kekuasaan penjajah.

Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau biasa disebut Tan Malaka, dalam sebuah kutipannya menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan.

Dari tokoh-tokoh tersebut, sudah jelas bahwa impact pendidikan yang seharusnya ditanamkan sejak dulu adalah peningkatan SDM. Namun, kenyataan tak sesuai dengan apa yang telah dikatakan tersebut. Alih-alih meningkatkan SDM, memilih sekolah saja terkadang masih dilandaskan atas dasar gengsi dan terjebak dalam dikte standar sosial.

Anak-anak dan para generasi pelajar kita tidak diajarkan sejak dini tentang pendidikan secara esensialitas, tidak dibiasakan aktif, kritis, dan kreatif. Mereka terfokus agar bisa menulis, membaca, dan berhitung. Akhirnya, yang tertanam pada otak anak hanyalah cara mereka bisa aktif masuk sekolah dan bisa lulus dengan baik.

Kata pendidik tentu punya makna yang lebih luas daripada pengajar. Sebab, seorang guru yang statusnya juga pendidik tidak hanya menyampaikan pelajaran secara normatif, tapi juga memahami tentang anak didik. Terlebih, secara mendalam tentang tingkat potensinya.

Salah satu kesalahan sistem pendidikan kita, sejak awal di masa belajar, anak-anak tidak diberi kesempatan atau bahkan tidak dituntun untuk mengetahui kemampuan dan potensinya sendiri. Jadi, wajar jika mereka tidak pernah membuat cita-cita secara keteguhan hati. Artinya, sekalipun cita-cita itu ada, masih diselimuti keraguan dan ketidakpercayaan diri.

 ”Jika kau melihat kemampuan seekor ikan dari caranya memanjat pohon, maka ia akan menjalani hidupnya dengan penuh kebodohan.” Kalimat yang sangat fenomenal dari seorang fisikawan abad 20 ini tentu tidak asing di telinga orang berpendidikan. Itulah salah satu rujukan kenapa pendidikan sekarang dinillai kurang berkembang. Coba bayangkan, anak-anak di sekolah bisa mendapat julukan sebagai anak yang pintar jika hanya dia pandai berhitung atau membaca, lalu yang lain akan dianggap bodoh. Penilaian seperti itu tentu sangat membekas di benak para siswa dan menjadi doktrin di masa depan. Padahal, setiap anak lahir dengan kodrat masing-masing. Boleh jadi, di antara anak-anak itu ada sebagian yang hebat dalam seni suara, olahraga, sastra, teknologi, bermain bulu tangkis, catur, atau bahkan bisnis. Namun, karena budaya masyarakat terkadang memberi status ”anak pintar” bagi yang pandai matematika saja sehingga anak yang lain akan merasa bahwa dirinya tak berbakat dan kurang percaya diri. Hal itu yang menyebabkan mereka tak bisa mengembangkan potensi dan bakat yang sebenarnya sangat luar biasa.

Karena itu, seorang pendidik harus benar-benar memahami keadaan setiap anak. Kehebatan anak tidak hanya bisa dilihat dari satu bidang. Itu tidak fair. Semua anak lahir dengan bakat masing-masing. Di situlah peran pendidik membantu mereka menemukan potensi tersebut dan membimbingnya agar sesuatu yang luar biasa itu bisa dicapai dengan maksimal. (*)

*) Santri PP Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan

 

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#kesenjangan sosial #pendidikan #darurat