Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Liburan Santri; Ajang Pertaruhan Norma dan Citra Pesantren

Ina Herdiyana • Minggu, 9 Maret 2025 | 12:50 WIB

 

MOH. ABDUL MAJID AL ANSORI UNTUK JPRM
MOH. ABDUL MAJID AL ANSORI UNTUK JPRM

Oleh MOH. ABDUL MAJID AL ANSORI*

BERBICARA tentang liburan, saya jadi teringat pesan RKH Moh. Thohir Abd. Hamid yang beliau sampaikan saat malam apel libur pesantren Ramadan 2010. Mengutip dari dawuh abahnya, RKH Abdul Hamid AMZ, kurang lebih beliau berpesan, ”Santrè dhing molèyan, jhâ’ sampè’ paḍâ bân ajâm èyocol ḍâri korongnga” (Santri saat liburan jangan sampai sama dengan ayam yang dilepas dari kurungannya). Saya yang saat itu baru duduk di bangku madrasah tsanawiyah masih terlalu polos untuk menyadari bahwa pesan yang beliau sampaikan tersebut sarat makna yang mendalam, mengandung harapan besar, sekaligus berisi peringatan penting.

Pesan yang beliau sampaikan tersebut menjadi indikasi bahwa pesantren memiliki nama baik yang harus dijaga. Liburan yang sejatinya memang diagendakan untuk kebahagiaan para santri agar bisa berkumpul bersama keluarga jangan lantas dimaknai sebagai bentuk kebebasan dari norma dan aturan yang berlaku di pesantren. Peraturan pesantren yang sifatnya prinsipil dan mendasar, khususnya yang bertalian erat dengan etika dan norma agama, harusnya terus mengikat santrinya kapan pun dan di mana pun, bahkan hingga ia telah menjadi alumni.

Tetap patuh pada undang-undang dan menjaga marwah pesantren saat liburan sejatinya juga bagian dari upaya pengamalan ilmu. Oleh karenanya, ilmu yang didapat di pesantren bukan hanya teori, melainkan bisa diamalkan dalam keseharian santri saat liburan. Santri harus mampu menjadi uswah, cerminan dari sosok remaja yang saleh, berilmu, dan berakhlak mulia. Liburan sekaligus menjadi ajang pembuktian atas ilmu-ilmu yang sudah dipelajari selama di pesantren.

Faktanya, liburan memang menyenangkan. Rehat sejenak dari penatnya belajar dan beraktivitas di pesantren seakan menjadi target pencapaian waktu yang secara rutin dinanti-nantikan. Sudah menjadi fenomena umum bahwa warga pesantren, tanpa terkecuali, dari santri hingga jajaran pengurus sekalipun merindukan waktu berlibur. Menghitungnya dari hari ke hari tanpa lelah, momen yang ditunggu-tunggu sejak bulan Maulid lalu kini kembali tiba.

Namun, dalam liburan kali ini janganlah kita terlalu terlena dengan euforia kebebasan, apalagi dengan maraknya hiruk pikuk masalah duniawi yang melanda jagat nyata dan maya saat ini. Liburan bagi seorang santri seharusnya diisi dengan berbagai kegiatan yang berbeda dibandingkan dengan liburan remaja pada umumnya. Tidak hanya waktu untuk beristirahat dari rutinitas belajar, liburan bagi santri menjadi momen untuk menilai sejauh mana norma dan citra pesantren dapat tetap terjaga. Dalam konteks ini, liburan bukan hanya waktu untuk kembali ke rumah, tetapi juga menjadi ajang pertaruhan antara norma yang diajarkan di pesantren dan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat luar.

 

Tradisi Pesantren dan Dunia Luar

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan adat. Setiap santri dididik untuk menjaga kesopanan, melestarikan adab, dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saat liburan datang, santri kembali ke lingkungan keluarga atau masyarakat yang mungkin memiliki pandangan dan kebiasaan yang berbeda, bahkan bertentangan dengan nilai yang diajarkan di pesantren.

Misalnya, santri yang terbiasa hidup dengan aturan ketat di pesantren seperti larangan untuk keluar malam, pembatasan berinteraksi dengan lawan jenis, hingga penghindaran dari hiburan yang bersifat duniawi, tiba-tiba dihadapkan pada kebebasan yang lebih luas di luar pesantren. Di rumah, mereka mungkin dihadapkan dengan ajakan untuk mengikuti tradisi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan di pesantren seperti menonton acara hiburan yang kurang mendidik atau terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama.

 Baca Juga: Rokok

Citra Pesantren di Mata Masyarakat

Selain menjadi pertaruhan nilai-nilai agama, liburan juga menyangkut citra pesantren di mata masyarakat. Sebagian orang masih melihat pesantren sebagai lembaga yang ketinggalan zaman dan terisolasi dari dunia luar. Hal ini menambah tantangan bagi santri yang pulang ke kampung halaman. Mereka mungkin merasa perlu untuk menunjukkan bahwa mereka tidak hanya terjebak dalam rutinitas yang monoton, tetapi juga bisa beradaptasi dengan perubahan zaman.

Namun sebaliknya, ada juga sebagian kalangan –khususnya di Madura– yang begitu mengidolakan pondok pesantren. Pesantren dinilai sebagai lembaga sempurna lagi paripurna untuk melahirkan generasi berkualitas, baik secara pengetahuan, keterampilan, maupun kepribadian. Oleh karenanya, masyarakat Madura yang kental norma agamanya justru melihat liburan santri sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa pesantren telah mampu menghasilkan individu yang berakhlak mulia, memiliki kedalaman ilmu agama, dan mampu menjaga perilaku di tengah derasnya arus budaya modern. Dalam hal ini, citra pesantren bisa dipertaruhkan melalui bagaimana santri menjaga sikap dan perilaku selama liburan.

 

Waktu untuk Refleksi

Liburan bukan hanya tentang bersenang-senang, melainkan juga momen untuk merefleksikan kembali apa yang telah santri pelajari selama di pesantren. Dalam suasana yang lebih santai dan tanpa tekanan akademik, mereka memiliki waktu untuk menilai sejauh mana mereka bisa menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya, Ayyuhal Walad, mengatakan, ”Ilmu tanpa amal itu gila, sedangkan amal tanpa ilmu itu tidak ada (tidak bernilai apa-apa).”

Proses refleksi dan pengamalan ini tidak selalu mudah. Kembali ke lingkungan yang sangat berbeda bisa membuat santri merasa tertekan dan mengalami perubahan negatif. Namun, di sisi lain, liburan ini juga bisa menjadi peluang untuk menguji kedalaman iman dan pemahaman agama mereka. Seberapa mampu mereka menjaga akhlak dan nilai-nilai yang telah diajarkan di pesantren meskipun mereka jauh dari pengawasan langsung guru atau pengasuh.

 Baca Juga: Puasa dan 3 Pilar Pendidikan Profetik

Hadapi Tantangan Zaman dengan Bijak

Seiring berjalannya waktu, pesantren mulai mengalami perubahan dan adaptasi. Banyak pesantren yang kini mulai menawarkan program-program yang lebih terintegrasi dengan perkembangan zaman seperti pembelajaran teknologi, bahasa asing, atau keterampilan lain yang dibutuhkan di dunia modern. Namun, dalam hal ini, pesantren tetap harus mempertahankan karakteristik utamanya sebagai lembaga yang menjaga moralitas dan integritas.

Liburan santri di tengah dinamika zaman modern ini tentu menjadi waktu yang penuh tantangan. Bukan hanya untuk menjaga citra pesantren ataupun meneguhkan kembali nilai-nilai yang mereka pelajari, melainkan santri diharapkan menjadi duta pesantren yang menunjukkan bahwa pesantren telah mengalami perkembangan pesat dan siap ikut andil dalam persaingan global. Karena itu, penting bagi pesantren untuk terus memberikan pembekalan kepada santri mengenai cara berinteraksi dengan dunia luar tanpa kehilangan jati diri sebagai individu yang berakhlak mulia.

 

Ikhtisar

Liburan santri bukan sekadar waktu untuk beristirahat dari rutinitas, melainkan juga ajang untuk mempertaruhkan norma-norma yang mereka bawa dari pesantren dalam menghadapi dunia luar. Ini adalah waktu bagi santri untuk membuktikan bahwa nilai-nilai agama dan etika yang mereka pelajari di pesantren bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Hal itulah yang menjadi harapan RKH Abd. Hamid AMZ bagi santri-santrinya dan selaras dengan dawuh beliau, ”Santrè otabâ alumni sè ajâgâ nyama baigghâ ponḍhuk, sè ngèmanè Ta-Bhâta, paḍâ bân sè ngellonè bulâ.” (santri atau alumni yang menjaga nama baik pondok, yang menyayangi Bata-Bata, sama halnya dengan memeluk saya).

Di sisi lain, liburan ini juga menjadi kesempatan bagi pesantren untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya berilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip yang telah diajarkan. Momen liburan ini mari kita jadikan kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat, menebarkan kebaikan untuk orang-orang di sekitar kita. (*)

 *)Khadim di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan

 

Editor : Ina Herdiyana
#Pertaruhan #liburan #ajang #citra #pesantren #Norma #santri