Oleh NURILLAH ACHMAD
HARI ini saya termenung memandang langit petang. Ada kenangan yang membuat saya sesak. Gemuruh di dada bahkan jauh lebih riuh dari kicau beburung pagi hari. Entahlah. Tiba-tiba saya terlempar ke masa silam, yakni pada hari terakhir di pesantren 12 tahun lalu. Petang itu, di hadapan nisan Mahaguru, saya menangis tersedu-sedu. Tangis saya pecah antara surah Yasin dan Fatihah lantaran saya tahu, saya akan meninggalkan ’rumah’ kedua setelah orang tua.
”Apa yang harus kubawa, Guru?” batin saya kala itu. ”Pondok memberi banyak. Sementara jemari ini tak cukup untuk menggenggam.”
Isak tangis saya makin menjadi-jadi ketika masjid menampilkan suara qari’. Lantunan ayat suci ini terasa betul menikam ulu hati. Saya tahu, saya harus kembali ke kompleks putri untuk mengambil takjil Ramadan dan salat Magrib, lalu pergi meninggalkan pesantren.
Saya tak tahu. Betul-betul tidak tahu, mengapa adegan demi adegan yang terjadi belasan tahun silam itu muncul begitu saja. Saya seolah-olah sedang melakukan adegan reka ulang kenangan. Bahkan, rasa sesak dan gemetarnya dada seolah tak berubah. Masih sama seperti yang dulu saya rasakan.
Bahkan, saya makin termenung tatkala senja makin tenggelam. Saya teringat akan lembah ngarai kehidupan yang saya jalani seusai menyantri. Tak terhitung berapa luka, air mata, dan derai tawa telah saya rasakan. Rasa-rasanya, seluruh kenangan tersebut berkelindan di kepala saat ini.
Senja dan lantunan azan pertama di awal Ramadan ini benar-benar terasa berbeda. Barangkali ini yang disebut belajar kembali menemukan sebuah rasa. Saya lupa pernah mendengar atau membacanya di mana. Tapi, saya ingat betul, konon manusia hendaknya senantiasa belajar menemukan rasa. Jika tidak, maka ia akan bertindak serupa Sisyphus.
Antum tahu, dalam mitologi Yunani kuno, Sisyphus disimbolkan sebagai manusia yang dikutuk Dewa Zeus. Akibat kesalahan yang diperbuat, Sisyphus dihukum memanggul sebuah batu guna diletakkan di puncak bukit. Pada awalnya, Sisyphus merasa hukuman ini terlampau ringan. Mulailah ia mengambil sebongkah batu dari dasar jurang.
Ia tersenyum menang saat mendekati puncak bukit. Sayangnya, belum sampai puncak, ia tergelincir. Batu itu jatuh ke dasar jurang. Sisyphus tidak patah arang. Ia turun guna memungutnya kembali. Tapi, tiap kali mendekati puncak, ia selalu tergelincir sehingga batu itu kembali ke dasar jurang. Begitu terus berulang-ulang. Ia pergi ke dasar jurang. Memanggul batu, tapi selalu tergelincir mendekati puncak bukit. Tak terhitung berapa hari, bulan dan tahun, Sisyphus melakukan siklus yang sama sehingga hukumannya tidak kunjung selesai.
Lantas, adakah hubungan antara Sisyphus dengan Ramadan? Entahlah. Saya hanya beranggapan, jika Ramadan adalah ’agenda’ tahunan yang sengaja Tuhan sediakan agar kita lebih fokus bermesraan dengan-Nya dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Maka, tidak heran, apabila Ramadan identik dengan puasa. Dan puasa bukan sekadar menahan hawa nafsu, makan atau minum. Tapi, puasa lekat akan rasa. Entah rasa agar kita belajar empati. Entah rasa bagaimana menahan diri. Atau rasa agar kita belajar peka.
Baca Juga: Makna Suci dalam Ramadan
Selama sebelas bulan lamanya kita berjibaku dengan aktivitas harian. Satu sisi kita mafhum sebab sejatinya hidup memang begini. Kawula mung saderma. Mobah mosik kersaning Hyang sukmo. Lakukan apa yang menjadi tugas manusia. Selebihnya serahkan kepada Tuhan. Tapi, sialnya, kita sering kali menjelma ’Sisyphus’, sehingga terjebak rutinitas berulang, dan selalu berputar-putar tanpa sempat memberi jeda untuk sekadar menemukan rasa.
Wajar jika Tuhan sengaja menyediakan Ramadan agar kita tidak serupa Sisyphus. Kita diminta rehat sejenak agar Ramadan bukan sekadar ritual puasa, Tarawih, dan zakat semata. Melainkan, merenungi tiga pertanyaan hidup paling mendasar. Yakni, sudahkah kita mengetahui peran yang tercantum dalam perjanjian kontrak antara kita dengan Tuhan sebelum dikirim ke dunia? Apakah kita sudah menjalani peran tersebut? Lalu, apa yang akan kita katakan perihal peran tadi saat kembali ke hadapan Tuhan kelak?
Terkait pertanyaan terakhir ini, saya teringat akan ucapan Mufti Menk. Saat itu, beliau diminta memejamkan mata dan membayangkan kondisinya ketika meninggal. Pewawancara pun bertanya, ”Bagaimana Anda ingin dikenang?”
Baca Juga: Catatan Merah Agraria dan Mindset Orang Madura
Mufti Menk terdiam. Ia tidak segera menjawabnya. Barulah beberapa saat kemudian, ulama terkenal ini berkata, ”Tahukah Anda, saat saya memejamkan mata tadi, saya lebih khawatir tentang kondisi saya seusai mati. Bukan tentang bagaimana saya akan dikenang orang. Tapi, tentang bagaimana saya berjumpa dengan Allah, dan apa yang akan saya katakan saat itu.”
Mendapati jawaban Mufti Menk di atas, rasa-rasanya saya hanya ingin berkata, ”Senja yang perlahan tinggalkan kita, menyadarkan aku untuk berterima kasih, sebab Kau menjaga cinta kita dengan ikhlas. Aku tak punya apa-apa selain segunung dosa dan sekeping pahala. Karena itu, jika gugurnya dedaun adalah cara-Mu menjaga cinta ini, aku terima secara tulus. Sebab, selain cinta, apalagi yang akan kuceritakan untuk kita nanti?” (*)
*)Alumnus TMI Putri Al-Amien Prenduan. Novelnya berjudul Berapa Jarak Antara Luka dan Rumahmu (Elex Media Komputindo) meraih Nominasi Novel Remaja Islami Terbaik Versi Islamic Book Fair (IBF) 2024.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti