Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Makna Suci dalam Ramadan

Hera Marylia Damayanti • Senin, 3 Maret 2025 | 13:05 WIB
AH HASMIDI
AH HASMIDI

Oleh AH HASMIDI

 

BULAN Ramadan merupakan bulan kesembilan dalam hitungan tahun Hijriah. Bulan puasa terjadi sekali dalam setahun. Di bulan suci Ramadan ini banyak keistimewaan di dalamnya. Contohnya, ketika kita menyambutnya dengan riang gembira, maka Allah akan memberikan ganjaran yang sangat fantastis untuk dihadiahkan pada kita, yaitu diharamkannya api neraka untuk tubuh kita.

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang akan melakukan puasa itu sendiri? Apa keistimewaan yang akan didapatkan? Yang pasti lebih dari hal itu. Sebab, Allah sendirilah yang akan memberikan pahala pada orang yang mengerjakan puasa.

Nah! Di sini saya akan sedikit memberikan pandangan tentang kata suci yang mengacu pada judul di atas. Kata suci menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna: 1) bersih (dalam arti keagamaan, seperti tidak kena najis, selesai mandi); 2) bebas dari dosa, bebas dari cela, bebas dari noda, maksum; 3) keramat; 4) murni (tentang hati, batin). Dari pemaknaan tersebut, saya dapat menarik satu gagasan bahwa suci dalam pandangan bulan Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk menyucikan lahir batin.

Penyucian tersebut sebenarnya Allah telah membukanya sebulan sebelum pelaksanaan puasa. Tepatnya dimulai pada bulan Syakban. Jika kita lihat dari peristiwa bulan Syakban, Allah menginginkan kita semua benar-benar terbebas dari dosa yang telah tercatat selama kurun waktu satu tahun. Sebelum catatan tersebut disetor atau dikumpulkan kembali oleh malaikat pencatat amal, kita dianjurkan untuk meminta maaf, baik kepada Tuhan Sang Pencipta dan juga kepada orang-orang yang di sekitar kita, dekat ataupun yang jauh.

Saya teringat dengan konsep ”suci” dari penduduk yang ada di Pulau Sepanjang, Sapeken, Sumenep sewaktu singgah di sana. Di depan rumah mereka dipasang satu wadah yang berisi air untuk membersihkan kaki ketika akan menginjakkan kaki ke dalam rumah.

Wadah yang dikenal dengan sebutan ”peddasan” itu merupakan sebuah praktik kearifan lokal. Hal ini mengajarkan pada kita konsep pembersihan atau penyucian diri agar bisa merasa nyaman saat berada di dalam rumah sebagai tempat tinggal.

Tentu hal itu bukan semata-mata wadah yang disiapkan untuk membersihkan kaki dari kotoran yang menempel, tidak. Sebab, sejatinya konsep tentang suci di sini merupakan implementasi dari keimanan yang dianut dalam agama kita. Ada hadis yang berbunyi annadlafatu minal iman. Ada banyak yang menentang bahwa konsep tersebut bukan termasuk hadis. Dalam tulisan ini saya tidak mau membahas secara mendalam.

Dalam pandangan saya, mengenai kata suci artinya harus berada dalam keadaan bersih/suci untuk bisa memasuki rumah. Jika ada hal kecil yang membuat tubuh kita kotor setelah beraktivitas di luar rumah, dapat dipastikan tidak akan merasa nyaman masuk ke dalam rumah. Ada pengaruh yang tidak baik untuk kita sendiri atau juga penghuni rumah yang lain.

Maka dari itu, pembersihan dan penyucian itu sangat penting untuk dilakukan sebelum memasuki rumah. Apalagi untuk masuk ke rumah yang kekal (sebut saja akhirat), maka tidak boleh ada satu kesalahan/dosa sekecil apa pun yang ada pada diri kita.

Baca Juga: Nangger Pangongngangan Mengajarkan Persatuan

Kembali lagi pada kata suci dalam pandangan di atas, Allah telah membuka dengan sangat lebar menyiapkan jalan menuju penyucian bagi makhluknya sejak bulan Syakban. Tujuannya, agar mereka benar-benar dalam keadaan bersih dan suci saat melaksanakan ibadah puasa. Sehingga, muara dari pembersihan yang telah dilakukan tersebut berada pada akhir Ramadan. Tepatnya, ketika sudah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadan.

Kita akan mendapat predikat fitrah. Yaitu, seperti orang yang dilahirkan kembali ke muka bumi ini. Artinya, seperti orang-orang yang tidak memiliki dosa (bersih dari dosa) dan kembali menjadi sosok yang benar-benar seperti kertas kosong tanpa ada coretan atau bekas coretan.

Selanjutnya, dengan jalan yang telah Allah tunjukkan ini, mudah-mudah dapat mengilhami diri kita semua untuk terus melakukan hal-hal yang telah dianjurkan dan menjauhi segala hal yang dilarang. Sehingga, menjadi makhluk yang bersih atau suci sebagaimana kesucian dalam Ramadan ini. Amin. (*)

*)Alumnus Pondok Pesantren Al-Ishlah Moncek Tengah, Lenteng, Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ramadan #hijriah #fitrah #Suci #makna #bersih #ibadah puasa