Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tuhan, Puasakan Hati Saya Sepuisi Mungkin

Fatmasari Margaretta • Minggu, 2 Maret 2025 | 02:06 WIB
Oleh: Agus Widiono
Oleh: Agus Widiono

PUASA itu kewajiban semua umat, umat Islam yang tidak berhalangan maksud saya. Pun umat-umat lain; yang ingin melaksanakannya. Puasa menjadi suatu privilese, bukan hanya karena mampu menahan lapar dan haus saja, melainkan karena mampu menahan bermacam nafsu. Juga, menjaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Syahdan, di era teknologi seperti sekarang, saya tidak tahu apakah dalam menjalankan ibadah ini, kita akan merasa makin nyaman, atau justru makin tertantang? Sebab, dengan adanya teknologi, dan kita yang keranjingan, tanpa disadari perjalanan waktu; pagi bisa terasa lebih cepat menuju senja. Maka, keberkahan dan kerugian bergantung bagaimana kita menggunakannya.

Saya menyatakan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Bukan karena puasa bisa saya jadikan bentuk resistensi terhadap konsumerisme dan materialisme yang berlebihan, dalam masyarakat modern. Karena untuk hal ini, saya sendiri masih sering terjebak dalam pola konsumsi yang tidak terkendali.

Saya membeli, saya mengkonsumsi, dan saya juga yang membuang. Tapi, semoga  saja, puasa dapat memberi pelajaran untuk menghentikan pola ini. Juga, membuat saya bisa mempertanyakan kembali nilai-nilai yang saya anggap penting dalam hidup, dengan memperhatikan kebutuhan dan mengurangi konsumsi yang tidak perlu. Meski orang-orang masih banyak yang berpuasa cukup dengan menahan diri dari lapar dan haus saja.

Selain itu, beberapa hari sebelum bulan puasa, saya mendengar bahwa puasa, katanya dapat membantu kita dalam meningkatkan kesadaran diri dan lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita bisa beribadah dengan nyaman, jika kita masih sering terjebak dalam rutinitas yang membuat kita tidak memperhatikan pikiran, perasaan, dan tindakan kita.

Maka di bulan puasa, setidaknya sejenak kita bisa mengurangi atau semacam efisiensi rutinitas yang membuat kita lupa, sebenarnya tujuan hidup ini apa? Tapi, lagi-lagi kebutuhan terus mendesak kita untuk bekerja. Dan, saya pikir tidak masalah, puasa tidak melarang kita untuk bekerja. Justru bekerja yang baik dan diniatkan untuk hal-hal yang baik akan melipatgandakan pahala. Sebagaimana melaksanakan buka, tarawih, tadarus, dan sahur.

Syahdan, ada juga yang menyatakan, puasa juga sebagaimana puisi, dapat kita jadikan terapi mental yang efektif. Mengapa? Karena masyarakat modern sering mengalami stres, kecemasan, dan depresi. Maka, di sini puasa memungkinkan kita untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan cara yang alami dan efektif. Selebihnya kita tahu, setiap bulan puasa berlangsung, ada tradisi menarik di kalangan pesantren.

Di mana setiap bulan puasa, digelarlah pengajian kitab. Hal tersebut menunjukkan betapa bulan puasa tetap memberi ruang (ada yang umum, ada yang khusus santri aktif saja) untuk belajar kitab dari berbagai khazanah ilmu pengetahuan Islam.

Ini termasuk privilese yang perlu kita apresiasi. Pun mereka yang bekerja dengan khusyuk dan mereka yang tidak mengganggu hak-hak orang lain di jalan. Juga, mereka yang selalu bersikap ramah terhadap lingkungan. Kegiatan yang mempunyai nilai lebih di bulan puasa, itulah privilese yang perlu kita aktualisasikan, meski bulan puasa selesai.

Dengan begitu, di luar sana, mungkin Tuhan akan lebih bahagia. Karena melihat kita sebagai hambanya berhasil melewati, bahkan melanjutkan latihan-latihan selama satu bulan.  

Meski, sebenarnya saya sendiri tidak punya alasan yang lebih, selain berpuasa karena merupakan rukun Islam yang ketiga. Tapi, semoga Tuhan juga mempuasakan hati saya sepuisi mungkin. (*)

 

*) Alumnus Pondok Pesantren Nurul Muchlishin, Pakondang, Rubaru, Sumenep. Saat ini belajar di daerah Jogjakarta.

Editor : Fatmasari Margaretta
#puasa #ramadan #islam #nafsu