Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mendidik Anak agar Tidak Antisosial

Ina Herdiyana • Minggu, 9 Februari 2025 | 12:30 WIB

 

UNTUNG WAHYUDI UNTUK JPRM
UNTUNG WAHYUDI UNTUK JPRM

Oleh UNTUNG WAHYUDI*

 

SEBAGAI makhluk sosial kita tidak akan pernah bisa hidup sendirian. Apa pun status seseorang, entah dia pejabat, konglomerat, rakyat kecil, semua tidak akan lepas dari kehidupan sosial. Berbagai macam persoalan akan dialami sebagai bagian dari riak-riak kehidupan.

Karena itu, penting bagi kita untuk belajar agar bisa menjalani kehidupan bermasyarakat dengan baik. Beramah-tamah dengan sanak saudara, saling menghormati dan mengasihi antar sesama. Dengan demikian, kelak akan tercipta kerukunan dan keharmonisan yang mendatangkan banyak manfaat dalam kehidupan.

Ada satu program dari tujuh program kebiasaan anak Indonesia hebat yang baru-baru ini digulirkan pemerintah lewat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yakni kebiasaan bermasyarakat. Lewat program ini, siswa atau peserta didik diajak agar bisa hidup bermasyarakat.

Melalui implementasi kebiasaan-kebiasaan ini, Kemendikdasmen ingin memastikan anak-anak Indonesia tidak hanya unggul dalam aspek akademis, tetapi juga memiliki kepribadian kuat, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Anak-anak Indonesia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peduli dengan lingkungan.

 

Memahami Perilaku Anak

Dalam tulisannya berjudul Bagaimana Cara Mendeteksi Gangguan Antisosial pada Anak, dr Fadhli Rizal Makarim menjelaskan, seiring bertambahnya usia anak, sebenarnya wajar jika ia menunjukkan perilaku sosial yang positif atau negatif. Jika bicara soal proses, itu adalah bagian dari tumbuh kembang seorang anak.

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah anak mengidap gangguan antisosial atau tidak? Fadhli Rizal menjelaskan, secara umum orang tua memang perlu mewaspadai gangguan antisosial jika anak sering menunjukkan sikap memusuhi, tidak taat aturan, mencuri, kasar secara verbal atau fisik. Meskipun dapat diatasi, gangguan antisosial dapat menyebabkan masaalah yang lebih parah jika dibiarkan hingga anak berusia dewasa (halodoc.com).

Apa yang disampaikan dokter Fadhli Rizal di atas menjadi perhatian besar bagi guru dan orang tua. Sebagai pendidik, mereka harus bisa mendeteksi jika ada gejala antisosial pada diri seorang anak. Sebab, selama ini tak sedikit kasus bullying yang terjadi di kalangan siswa. Anak-anak yang merasa lebih superior, begitu mudahnya menindas temannya yang lemah.

Pendidikan bermasyarakat yang merupakan bagian dari program 7 kebiasaan anak Indonesia hebat hendaknya bisa dilaksanakan dengan baik. Bagaimana cara bergaul dan berinteraksi dengan masyarkat dan lingkungan sekitar harus benar-benar dibiasakan agar kelak anak tidak akan canggung ketika sudah berada di tengah-tengah masyarakat.

Belajar Bermasyarakat

Pendidikan bermasyarakat tidak cukup hanya dengan teori. Anak-anak perlu langsung berinteraksi dengan lingkungan masyarakat yang akan mengajarkan cara bersikap baik, ramah kepada orang lain, menghargai sesama, dan lainnya.

Beberapa sekolah dan boarding school (sekolah berbasis asrama) biasanya ada program berkhidmat ke masyarakat. Semacam KKN jika di dunia kampus. Santri atau siswa akan dikirim ke suatu desa untuk melaksanakan kegiatan yang langsung bersinggungan dengan masyarakat.

Hal inilah yang dilakukan oleh salah satu lembaga pendidikan di Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Sebagai bentuk kaderisasi dan pembelajaran bagi para santri, MBS (Muhammadiyah Boarding School) Al Hikmah Gambiran, Banyuwangi, mengirimkan puluhan santri dalam program Santri Berkhidmat (Santri Belajar Menegakkan Kalimat Tauhid dan Menebar Manfaat).

Sebanyak 20 santri laki-laki diterjunkan ke berbagai masjid Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdamuh) di wilayah Banyuwangi. Selama dua pekan, para santri ini akan menjalankan tugas Pekan Dakwah Ramadan dan Tugas Belajar Ramadan.

Direktur MBS Arif Maeshawl Nur menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan untuk memberikan ruang bagi santri agar dapat bersosialisasi dengan masyarakat dan mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari selama di pesantren. Hal tersebut juga sekaligus membentuk karakter santri yang percaya diri dan berakhlak mulia (suaramuhammadiyah.id).

 

Tujuan Kebiasaan Bermasyarakat

Kebiasaan bermasyarakat sebagai salah satu program 7 kebiasaan anak Indonesia hebat bisa mendatangkan banyak manfaat. Bermasyarakat bermanfaat untuk menumbuhkembangkan nilai gotong royong, kerja sama, saling menghormati, toleransi, keadilan, dan kesetaraan, serta meningkatkan tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus menciptakan kegembiraan.

Dikutip dari laman tribunnews.com (10/1/2025), ada beberapa tujuan kebiasaan bermasyarakat, yakni menumbuhkembangkan nilai gotong royong dan kerja sama, menumbuhkembangkan nilai saling menghormati dan toleransi, menumbuhkembangkan nilai keadilan dan kesejahteraan, dan bisa menciptakan berbagai kegembiraan sehingga timbul rasa saling mengasihi antar sesama.

Siti Uhsina Rahmawati, dalam tulisannya di Kompasiana menjelaskan, tujuan penting hidup bermasyarakat adalah agar saling membantu, saling kerja sama, dan dapat tercipta hubungan persaudaraan antara satu dengan yang lain.

Demikianlah. Pendidikan hidup bermasyarakat memang perlu diajarkan sejak dini karena sangat besar manfaatnya bagi anak. Jika mereka terbiasa bergaul dengan lingkungan masyarakat, nilai-nilai positif akan didapatkan. Anak tidak akan canggung ketika berhadapan dengan masyarakat. Kepedulian mereka akan semakin meningkat seiring dengan intensitas pergaulannya di tengah-tengah masyarakat. (*)

*) Lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

 

Editor : Ina Herdiyana
#anak #mendidik #antisosial #opini #catatan