Oleh MUHAMMAD AUFAL FRESKY*
SEBAGAI pemuda yang lahir, tumbuh, dan berkembang di Klampar, saya cukup mengerti dan memahami situasi dan kondisi masyarakat Klampar. Saat ini Kampung Batik Klampar masih tetap ada. Namun, eksistensinya seolah semakin meredup. Hemat saya, hal itu tidak terlepas dari faktor profesi sebagai perajin batik ataupun pengusaha batik yang oleh sebagian warga Klampar dianggap kurang menjanjikan. Bahkan, tidak sedikit perajin batik yang beralih menggeluti profesi lain hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini menjadi salah satu tanda bahwa membatik dianggap tidak menjanjikan kesejahteraan ekonomi. Dampaknya, semakin minim jumlah perajin di Desa Klampar.
Padahal, regenerasi perajin batik di Klampar belum berjalan dengan baik. Jai, wajar jika nantinya ada yang mengatakan bahwa basib batik Klampar dan Kampung Batik Klampar berada di ujung tanduk. Ini juga menjadi peringatan keras bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah, agar memperhatikan secara sungguh-sungguh kondisi terkini dan masa depan perajin batik Klampar. Sebab, kelestarian batik Klampar, hidup tidaknya Kampung Batik Klampar, itu sangat bergantung pada perajin batik di dalamnya.
Keberpihakan pemerintah pusat dan daerah kepada perajin dan pelaku UMKM batik di Desa Klampar bisa diaktualisasikan melalui beragam program dan kebijakan yang terencana, terarah, jelas, sistematis, dan berkelanjutan. Hal itu untuk kembali memajukan Kampung Batik Klampar. Menguatkan Klampar sebagai desa yang tangguh budaya. Tentu saja kita tidak ingin batik Klampar dan Kampung Batik Klampar punah alias hilang tanpa bekas karena keteledoran dan ketidakpedulian kita. Sinergisitas pemdes, pemkab, dan pemerintah pusat perlu dibangun dan ditata sedemikian rupa untuk kepentingan jangka panjang. Yaitu, lestarinya batik Klampar dan majunya Desa Klampar. Selain itu, rasa-rasanya perlu dikampanyekan lagi secara masif terkait urgensi pelestarian batik Klampar di tengah-tengah masyarakat. Khususnya kepada pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Kreativitas dan inovasi generasi muda dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan kawasan wisata Kampung Batik Klampar. Selain itu, tata kelola Gedung Sentra Batik Klampar harus lebih profesional. Badan usaha milik desa (BUMDes) juga bisa lebih proaktif mengisi gedung Sentra Batik Klampar dengan kegiatan-kegiatan produktif yang memancing minat wisatawan. Tidak hanya itu, Pemkab Pamekasan bisa lebih intens mengadakan pameran atau event-event kebudayaan di Gedung Sentra Batik Klampar. Begitu juga dengan Pemdes Klampar, bisa menggandeng komunitas seni dan budaya untuk bekerja sama dalam memajukan budaya batik di Desa Klampar.
Kemudian, peran sentral Pemdes Klampar dalam menjadikan Klampar sebagai Desa Tangguh Budaya mesti dioptimalkan. Beberapa hal yang bisa dikerjakan oleh Pemdes Klampar yaitu menjadi fasilitator bagi perajin batik yang membutuhkan bantuan. Baik bantuan modal finansial maupun bahan dan alat-alat batik. Tidak hanya itu, Pemdes Klampar juga diharapkan bisa mendorong masyarakat Klampar untuk lebih perhatian dan peduli terhadap kelestarian batik Klampar. Mendorong masyarakat lebih berpartisipasi dalam mengembangkan potensi budaya lokal yang dimiliki. Tidak hanya itu, Pemdes Klampar juga bisa proaktif menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan Klampar sebagai kawasan Wisata Budaya Batik dan semacamnya.
Mengutip situs panda.id, kebudayaan lokal di desa merupakan aset yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara optimal agar tidak hilang begitu saja. Diperlukan penetapan prioritas rencana akses yang baik dalam pengelolaan kebudayaan lokal desa. Dalam hal ini budaya batik yang telah lama berkembang di Klampar. Penetapan prioritas dalam pengelolaan budaya batik berdasarkan beberapa faktor; seperti halnya keunikan, pentingnya bagi masyarakat, dan potensi ekonomi. Keunikan maksudnya yaitu batik Klampar memiliki ciri khas, unik, dan langka. Pentingnya bagi masyarakat maksudnya, batik Klampar memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Klampar. Semisal, batik Klampar berkaitan dengan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur yang harus dijaga oleh masyarakat Klampar. Potensi ekonomi maksudnya yaitu batik Klampar memiliki potensi ekonomi yang perlu dikeola dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kemudian terkait rencana aksi pengelolaan batik Klampar dan Kampung Batik Klampar, harus disusun dengan jelas dan terperinci agar dapat dilaksanakan dengan efektif. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian yaitu penetapan tujuan dan sasaran, pemilihan strategi, penentuan anggaran, pelaksanaan, dan evaluasi. Selain itu, hemat saya, untuk melestarikan batik Klampar dan memajukan Kampung Batik Klampar, juga memerlukan kerja sama yang baik dan berkelanjutan antara BUMDes Klampar, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Klampar, Karang Taruna Klampar, dan tokoh budaya setempat. Pihak-pihak tersebut bisa bergerak serentak untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam memajukan Klampar sebagai Desa Tangguh Budaya.
Kelastarian batik Klampar dan kemajuan Kampung Batik Klampar sebenarnya juga sangat bergantung pada perajin. Dalam hal ini, perajin adalah ujung tombak dalam pelestarian batik Klampar. Maka sudah saatnya, semua mata tertuju pada pembatik yang ada di Klampar. Regenerasi pembatik harus terus berjalan melalui pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui program-program yang jelas tentunya. Lagi-lagi, diperlukan sinergi dan kolaborasi banyak pihak dalam mamajukan budaya batik yang ada di Klampar. Pemerintah pusat, daerah, tokoh setempat, komunitas budaya, serta perwakilan pengusaha batik dan perajin perlu bersanding mewujudkan Klampar sebagai rujukan wisata budaya andalan tingkat nasional.
Terakhir, besar harapan saya, pemuda juga turun tangan menjadi corong utama dalam mempromosikan seluas-luasnya batik Klampar melalui platform media sosial yang dimiliki. Khususnya pemuda asal Desa Klampar yang bersentuhan langsung dengan situasi dan kondisi lingkungannya. Kesadaran akan pentingnya menjaga warisan leluhur tersebut juga perlu dimiliki semua lapisan masyarakat. Bukan hanya warga Klampar. Batik Klampar bukan hanya kepunyaan dan kebanggaan warga Klampar. Lebih dari itu, merupakan milik kita bersama. Milik Indonesia. Mari kita merawatnya dengan sepenuh hati.
Kalau bukan kita yang merawatnya, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Setidaknya, kita membantu memperkenalkan batik Klampar ke lingkugan terdekat kita. Syukur-syukur bisa membeli batik hasil kreasi perajin Klampar. Maka sebab itu, melalui tulisan ini, saya kampanyekan: Cintai Budaya Lokal, Belilah Batik Hasil Perajin Klampar. Sebab, hal itu menjadi cara yang cukup mudah untuk membuat Klampar semakin eksis dan batik Klampar semakin lestari. Sekali lagi, Klampar bukan sekadar wilayah geografis. Di dalamnya tersimpan mahakarya perajin yang terukir indah. Warisan agung dari pendahulu di masa silam. Saya masih optimistis Klampar menjadi Desa Tangguh Budaya. Klampar akan menjadi bagian penting dalam pemajuan kebudayaan nasional kita. (*)
*) Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura
Editor : Ina Herdiyana