Oleh IKROM FIRDAUS*
KOMIK, manga atau manhwa, merupakan serial cerita bergambar yang disukai anak kecil. Pertama diperkenalkan pada 1896, komik menjadi produk bacaan yang ringan dan menghibur. Banyak orang menggemari komik karena ciri khasnya berbeda dengan penerbitan buku lain. Namun, tak jarang orang-orang tidak menyukai komik. Salah satu alasan pokoknya adalah komik dianggap sebagai hiburan, bukan pengetahuan. Sebagai hiburan, komik tidak termasuk ke dalam bagian ilmu. Lantas, apakah komik menjadi produk bacaan yang baik?
Dalam lanskap perkembangan buku, kehadiran komik adalah inovasi baru. Setiap inovasi akan memberi pengaruh dan mengejutkan masyarakat. Pada awalnya, komik diciptakan untuk memikat para anak kecil untuk rajin membaca buku.
Seiring berjalannya waktu, tujuan perkembangan komik mulai bergeser ke arah industrialisasi. Pergeseran ini ditandai dengan kesuksesan komik, seperti manga di Jepang dan manhwa di Korea bisa bersaing dengan pasar buku. Belum lagi, komik punya pasarnya sendiri.
Upaya untuk mengindustrikan komik mencapai puncaknya ketika kemajuan teknologi semakin pesat. Keberadaan internet dengan segala kemudahannya, mengubah komik yang awalnya hanya bacaan berseri, seketika menjadi sebuah film. Perubahan ini terbukti ampuh, seperti serial Naruto, Detective Conan, Demon Slayer, Jujitsu Kaizen, adalah deretan anime yang sukses di kancah internasional.
Sejak komik populer di Barat, para komikus mengembangkan cerita superhero untuk menarik hati pembacanya. Dengan memakai cerita ”pahlawan”, orang-orang menyukainya karena karakter yang dibawakan selalu penyayang dan suka menolong. Di titik inilah, komik superhero cukup laku dan banyak komikus di negara lain menirunya.
Salah satu tiruan yang berhasil ada pada sejumlah komik yang beredar di Indonesia. Dalam konten visual Kompas tentang Komik Indonesia dari Masa ke Masa (2019), komik superhero seperti Gundala, Sri Asih, Godam, dan lain-lain merupakan tokoh ”tiruan” versi bangsa ini. Sebagai bentuk tiruan yang menempuh proses modifikasi yang ketat, serial komik versi ini juga laku di pasar buku.
Faktor kesuksesan komikus itu adalah memakai komik setrip yang ditampilkan di majalah atau koran setiap akhir pekan. Dengan membuat komik setrip, komikus bisa memancing minat orang-orang yang berlangganan surat kabar tersebut. Dalam perspektif ini, komik sesungguhnya berhasil untuk mengenalkan dirinya kepada pembacanya yang beragam.
Tantangan Industri Komik
Keberadaan komik yang beredar luas, baik cetak maupun digital, banyak ahli memperkirakan komik dan komikus baru akan muncul dan menemukan pasarnya sendiri. Tetapi, pertanyaan dasar yang penting kita sikapi, apakah komik akan menghantarkan orang-orang kepada kesuksesan atau justru menambah kerumitan yang baru?
Tentu jawabannya masih abu-abu dengan pertanyaan ini. Seperti buku-buku pada umumnya, komik dapat memberi keberuntungan dan kerugian yang amat besar. Untuk menjelaskan ini secara mendalam, setidaknya ada tiga faktor dalam membahas pemanfaatan komik yang dapat kita pelajari bersama.
Faktor pertama terkait dengan relasi pengetahuan antara komik dan buku-buku umum, misalnya, sains, agama maupun sastra. Terdapat kesenjangan format ilmu pengetahuan dan para ahli memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang menyimpulkan komik tidak bisa masuk ke kurikulum sekolah karena sifatnya yang menghibur. Sedangkan yang lain berkata bahwa justru dengan sifat hiburan inilah, komik termasuk salah satu jenis buku yang pantas dipromosikan ke setiap anak usia dini.
Namun, seperti diingatkan pendiri majalah Escape, Paul Gravett (2024), bahwa promosi perbukuan umum dan komik tidak bisa dikaitkan satu sama lain karena jenisnya sudah berlainan. Buku umum, seperti sastra, sains maupun agama mendapat promosi dari penerbit besar atau reviewer buku di beberapa acara literasi. Sementara, komik memiliki konten visual sebagai media kesenian dan hiburan.
Dalam konteks ini, beberapa pakar setuju bahwa keberadaan komik hanyalah produk hiburan semata. Frederic Wertham (1954) psikiater dari Jerman-Amerika, bahkan, membuktikan bahwa komik bukanlah alat pendidikan atau seni yang dipakai untuk tujuan ilmiah. Dalam bukunya yang kontroversial, Seduction of the Innocent (1954), Frederic menuduh penyebab kerusakan moral dan kenakalan remaja berasal dari komik. Dengan ilustrasi dan cerita kekerasan, komik dianggap berbahaya untuk dikonsumsi.
Faktor kedua berkenaan dengan industri pasar buku. Penting untuk kita pahami bahwa komik memiliki pasar yang berbeda dengan buku-buku lain. Contoh sederhana yang sering disampaikan oleh Seno Gumira Ajidarma adalah komik Indonesia cepat muncul dan cepat pula gulung tikar alias mandek di tempat. Apakah kemandekan semacam ini berlarut-larut setiap tahunnya?
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan komik bakal kelimpungan dan sulit menemukan jalan keluarnya. Riset Geoffrey Long dan Josh Sood (2020) menyimpulkan sistem perekonomian komik tidak stabil karena bergantung pada ”selera pasar”. Setiap komik yang terbit akan meraih keuntungan besar jika seri komik mereka cukup populer. Sebaliknya, perusahaan akan mengalami kerugian ketika masyarakat tidak tertarik dengan komik yang mereka terbitkan.
Faktor ketiga terkait kesukaan orang terhadap komik. Perlu kita pahami bahwa orang-orang yang menyukai komik tidak begitu banyak. Scott McCloud (1993) dalam buku Understanding Comics menjelaskan salah satu penghambat komik kesulitan meraih hati pembacanya adalah stigma budaya yang melekat. Komik dipandang sebagai hiburan bagi anak-anak tanpa bisa memberikan pendidikan bagi orang dewasa.
Situasi ini memicu penurunan angka pasar di industri komik. Pada akhirnya komik akan stagnan tanpa perubahan apa pun. Tetapi, bila industri komik menemukan kemajuan, Derrick M. Miller (2017) memprediksi komik akan mengubah percaturan pasar buku di dunia digital.
Komik sebagai Bacaan Bermutu
Dengan mempertimbangkan manfaat dan potensi yang dimiliki komik, kita bisa memahami upaya baru demi keberlanjutan komik di masa depan. Komik, di mata kalangan penyukanya, masih tetap jadi hiburan yang menimbulkan kecanduan.
Upaya-upaya yang mesti kita lakukan, misalnya, adalah mempromosikan komik sebagai bacaan bermutu. Promosi ini tidak hanya diberikan pada anak-anak usia dini, tetapi orang-orang dewasa. Sebagai produk bacaan, komik menawarkan tampilan visual yang menarik dan alur cerita yang berseri.
Selain itu, pemerintah juga ikut andil dalam mempromosikan komik sebagai karya anak bangsa. Keterlibatan pemerintah di sini sangat memengaruhi kinerja komikus, selain bahwa kerja mereka diapresiasi oleh negara, dana yang diberikan bisa memenuhi kebutuhan hidup.
Di Indonesia, peredaran komik sudah dimulai sejak berita atau majalah muncul. Komik yang terbit di koran atau majalah itu berbentuk komik setrip: komik ringkas yang ada untuk memotivasi dan menghibur para pembaca. Sebagai contoh periode 1931–1960, Put On gubahan Kho Wan Gie meraih sukses luar biasa sampai masa penjajahan Jepang selesai. Kembali terbit pada 1974 di majalah Pantja Warna, Put On justru digandrungi walau cerita yang diangkat begitu serupa.
Kesuksesan yang sama bisa kita lihat di periode 1967 sampai 1970. Komik paling populer dan dikenal oleh masyarakat di antaranya Si Buta dari Gua Hantu (1967). Lalu serial Jaka Sembung (1960–1970), Gundala (1969–1982), Godam (1968), Sebuah Noda Hitam (1968), dan Panji Tengkorak (1960–1970). Komik-komik yang tertera itu, sebagian diadaptasi menjadi film, sedangkan sebagian yang lain tidak.
Contoh-contoh ini menggambarkan bahwa komik adalah produk bacaan yang baik bagi generasi saat ini. Mengkaji komik dari kesuksesan masa lalu bisa kita analisis dengan diskusi atau siniar agar pertumbuhan komik terus maju. Sesuai dengan prediksi Exactitude Consultancy, bahwasanya lonjakan pasar buku komik secara global akan tumbuh sebesar USD 22.68 miliar pada 2030.
Dengan siniar yang diselenggarakan, komik Indonesia akan mengalami kemajuan yang pesat. Terlebih industri komik sudah masuk ke ranah digital. Pada akhirnya, industri komik menuntut sikap proaktif pemerintah dan masyarakat untuk terus mendukung karya anak bangsa. Jika hal ini dilakukan, komik Indonesia akan bersaing dengan komik-komik dari Barat maupun Asia ke depannya. (*)
*) Santri PP Annuqayah daerah Lubangsa
Editor : Ina Herdiyana