Oleh MOH. THAARIQUN NATHIQ
TAHUN ini Julianton mulai mengubah pola sosialnya. Ia tidak lagi mengurung diri. Biasanya ia lebih senang menghindari kerumunan. Kadang-kadang sampai memutus kontak sosial dengan keramaian. Dalam psikologi, keadaan semacam ini mengandung manfaat dan juga mudarat. Manfaatnya, ia terhindar dari pergaulan bebas, bullying, dan kekerasan fisik lainnya. Mudaratnya lebih serius lagi, ia kurang bersosial sehingga berpotensi temperamen. Julianton lakukan ini, karena ia mulai memahami kehidupan, lebih-lebih perihal apa itu kebahagiaan?
Mengutip terminologi ”bahagia” dalam KBBI, adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram. Julianton mencoba memberanikan diri berbaur dengan sebayanya. Teman-teman sebayanya banyak yang gila futsal. Julianton yang notabene pemain sepak bola ala pedesaan–sekadar ada bola dan tiang sebagai penanda gawang–tidak butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi. Mulanya, saat sebagai pemain sepak bola, Julianton bermain di posisi depan. Tapi karena kali ini, bermain futsal bersama teman sebayanya merupakan upaya awal dalam mengubah pola sosial, ia berposisi sebagai penjaga gawang. Bertubi-tubi tendangan temannya ia tepis begitu saja. Sampai salah satu teman menghampiri dan mengatakan bahwa Julianton pemain terbaik pada pertandingan kali ini.
Julianton cukup bahagia dan senang atas apa yang ia lakukan dan capaian yang dikatakan temannya. Berbaur bersama, bersosial, ternyata menyimpan rasa bahagia yang tidak bisa didapatkan ketika mengurung diri. Kebahagiaan bersenda gurau, terkadang dibumbui rosting-an evaluasi diri, bercampur aduk dalam bersosial. Lebih-lebih lingkungan juga mendukung; udara asri, dedaunan hijau, kicauan burung menyertai, aliran air jernih dan bersih, ditambah kepedulian masyarakat. Terasa bagai kedelai dalam kaldu, kasatmata namun menambah kenikmatan rasa.
Karl Marx pernah berkata, derita termasuk kenikmatan diri manusia. Memang benar rasanya, hidup dengan hanya ”lurus-lurus”, kurang berkesan. Pasti dalam hidup pernah mengalami yang namanya derita. Tentu saja mengurung diri terus-menerus juga kurang baik. Mungkin dengan dalih terhindar dari derita, Julianton pernah di posisi mengurung diri. Alih-alih terhindar dari derita, justru mendapat derita yang tak disangka. Dengan mengurung diri, Julianton menderita tidak mencicipi nikmatnya hidup, yang di dalamnya, derita menjadi garamnya.
Kebahagiaan tidak bersifat transaksional, menahan sekuat tenaga dengan mengurung diri demi terhindar dari pergaulan bebas adalah salah satu contoh kesalahpahaman akan kebahagiaan. Plato menyarankan untuk mencapai kebahagiaan hanya dengan pengetahuan (logistikon). Sehingga tidak ada orang berbuat kejelekan atau yang mengarah pada ketidakbahagiaan kecuali orang yang tidak tahu. Orang yang plagiasi demi terselesaikan skripsi adalah bentuk ketidaktahuan. Ia menukar kejelekan dengan kesenangan yang bersifat sementara. Oleh karena itu, pengetahuan yang akan menuntun pada kebahagiaan sebagaimana tahapan berikut.
Pertama, pengendalian epithumia (hasrat jiwa bagian pusar ke bawah). Orang yang doyan makan akan merasa bahagia apabila makan dengan takaran yang pas, tidak melebih-lebihkan di saat dirinya sudah kenyang, atau bahasa kasarnya, tidak rakus. Sebab, dampak rakus akan menjadikan ia tidak baik-baik saja; aktivitas terganggu karena kekenyangan, bisa-bisa malah mendatangkan penyakit. Demikian pula pemenuhan seks, bila dayanya sekali jangan dipaksakan berkali-kali, itu namanya pemaksaan diri dan hal tersebut tidaklah bahagia. Maka dari itu, hidup sederhana dalam arti pas bukan pas-pasan adalah pintu masuk pertama orang bahagia.
Kedua, pengendalian thumos (hasrat jiwa bagian dada, meliputi harga diri dan kekuasaan). Bagian ini bercampur aduk dengan perpolitikan. Orang sering bermuka dua apabila berkaitan dengan politik, kadang ia menjadi kawan, berselang beberapa menit malah jadi lawan. Hasrat jiwa seperti ini harus dikendalikan, karena jauh dari bahagia.
Terakhir, pemenuhan logistikon (hasrat jiwa bagian kepala). Dalam hal ini pengetahuan, tidak lagi fokus utama pengendalian tapi pemenuhan. Semakin banyak pengetahuan, maka orang itu semakin bahagia. Orang yang korupsi, sebenarnya ia tidak begitu banyak pengetahuan pada dirinya. Andaikan tahu bahwa ”kenikmatan” korupsi tidak akan selamanya dan dampak besarnya, ia akan urungkan tindakan itu. Apalagi dalam kesehariannya, para pengintai membayang-bayangi hidupnya.
Maka dari itu, Julianton mulai mengubah pola sosialnya. Ia merasa bahagia setelah pengetahuannya semakin bertambah. Ia menikmati sekali kehidupannya, dengan terus belajar demi pemenuhan pengetahuan dan ia pun bahagia atas itu. Teringat betul Julianton pada salah satu perkataan Plato, bahwa yang paling memalukan bukanlah ketidaktahuan, tapi ketidakmauan untuk belajar. Oleh karenanya, Julianton belajar filsafat kebahagiaan. (*)
*)Mahasiswa Universitas Annuqayah
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti