Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Wajah Ideal Kelas Sosiologi

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 2 Juni 2024 | 15:50 WIB
Naufalul Ihya’ Ulumuddin, guru Sosiologi SMA Negeri 2 Bangkalan
Naufalul Ihya’ Ulumuddin, guru Sosiologi SMA Negeri 2 Bangkalan

Oleh NAUFALUL IHYA’ ULUMUDDIN

 

TAHUN 2023, terbit buku berjudul Sosiologi Gaya Bank: Mengurai Akar Masalah Pendidikan Gaya Bank di Sekolah (2023). Buku tersebut menjelaskan bahwa pendidikan di sekolah, khususnya dalam proses pembelajaran sosiologi, mengalami masalah serius. Kelas sosiologi yang seharusnya menampilkan proses belajar yang dialogis dan kritis, justru menjelma kelas yang kaku, beku, dan membosankan (Ulumuddin, 2023). Kebanyakan siswa di kelas sosiologi seringkali hanya mendengarkan tanpa pernah mengajukan argumen yang berarti. Padahal, Mudzakkir (2014) dalam Arena Pengetahuan (2014) mendeklarasikan bahwa sosiologi adalah ilmu yang radikal (mengakar) dan bermental perjuangan. Sehingga, kritisisme dengan basis argumen harus menjadi fondasi dasar proses pembelajaran dalam kelas sosiologi.

Namun, kenyataan yang tak ideal ternyata masih berlangsung dalam proses pembelajaran dalam kelas sosiologi di sekolah. Masih banyak guru sosiologi yang belum mengerti esensi dasar kelas sosiologi yang ideal. Begitu pun dengan guru-guru pada umumnya, yakni masih terjebak dalam anggapan universal yang keliru bahwa semua kelas harus seragam, kondusif, dan tenang dalam diam. Padahal, wajah ideal kelas sosiologi memiliki warna khasnya sendiri yang jauh berbeda dari anggapan umum pendidikan kita hari ini.

Label Bodoh Masih Membekas

Keterjebakan atas anggapan kelas yang harus selalu kondusif dan senyap itu terjadi karena problem purba yang harusnya mulai ditinggalkan. Problem itu adalah dikotomi ilmu alam pintar dan ilmu sosial bodoh.

Di lanskap pendidikan kita, terutama pendidikan di Bangkalan, label siswa yang mengambil minat ilmu-ilmu alam seperti fisika, kimia, biologi, dan matematika, dianggap lebih pintar daripada siswa yang mengambil minat ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, dan geografi. Bahkan, tak sedikit yang mengira siswa dengan minat ilmu sosial adalah siswa bodoh, pemalas, dan urakan. Tak hanya di kalangan siswa, di kalangan guru pun demikian. Guru ilmu alam, secara tersirat, selalu diposisikan lebih unggul dalam aspek akademik daripada guru-guru ilmu sosial.

Hal ini akhirnya menghasilkan kebijakan dan prioritas yang timpang di lingkungan sekolah. Misalnya, dari sisi ketersediaan laboratorium. Berapa banyak sekolah yang menyediakan laboratorium untuk siswa-siswi dan guru ilmu sosial? Lalu, bandingkan dengan jumlah sekolah yang menyediakan laboratorium untuk siswa-siswi dan guru bidang ilmu alam. Jelas telak. Bahkan, hampir semua sekolah bisa dipastikan minimal telah memiliki laboratorium untuk bidang ilmu alam. Sedangkan untuk laboratorium bidang ilmu sosial, nyaris tak ada. Cenderung nihil. Sebab, memang tak diprioritaskan.

Ramai Dianggap Tak Beradab

Alhasil, cara belajar siswa ilmu alam dijadikan rujukan dasar untuk menggeneralisasi cara belajar seluruh siswa, termasuk siswa ilmu sosial. Cara belajar dan kondisi kelas siswa ilmu alam yang menghamba pada kondusivitas kelas yang senyap dijadikan ukuran kelas yang baik. Sehingga, muncul standar kelas yang baik adalah kelas yang siswanya diam, bungkam, dan tertib. Siswa yang bungkam, adalah siswa yang benar. Siswa yang patuh, adalah siswa idaman.

Sedangkan, kondisi sebaliknya justru dianggap keliru total. Siswa yang membantah, tidak sopan. Siswa yang urakan, dianggap tak terpelajar. Siswa yang ramai, dianggap tak bisa diam. Tak bisa diam artinya tak beradab. Sungguh standar kelas yang aneh.

Kelas Sosiologi Harus Ramai

Padahal, kelas sosiologi yang ideal adalah kelas yang ramai dan berisik. Di kelas sosiologi yang ideal, berisik adalah bentuk aktualisasi interaksi sosial yang riil. Interaksi sosial yang jarang terjadi di era digital saat ini (Hardiman, 2021). Berisik artinya mengaktualisasi konsep hubungan sosial yang akrab. Hubungan sosial yang akrab menjadi dasar hubungan yang dibutuhkan masyarakat multikultural, sehingga mewujudkan masyarakat dengan mentalitas yang plural. Mentalitas yang tidak gagap atas perbedaan (Hardiman, 2013).

Berisik artinya ekspresif dan bahagia. Ekspresif dalam menyalurkan apa yang sedang dirasakannya. Bahagia, karena terjadi proses sosial yang otentik dalam hal berbicara dan mendengarkan (Freire, 2000).

Berisik menghasilkan kontak sosial yang intim dan kebiasaan komunikasi yang mendalam. Sehingga, terciptanya keputusan-keputusan yang demokratis bukanlah hal yang mustahil. Justru, hanya dengan cara melatih siswa berisik di kelas dapat tercipta generasi yang mengedepankan dialog untuk mengambil keputusan yang demokratis. Bukankah kita negara demokratis yang syarat komunikasi? Jika demikian, lalu mengapa siswa di sekolah justru diajarkan untuk diam terus-menerus?

Harus Bantah-bantahan Argumen

Di kelas sosiologi yang ideal, proses belajarnya harus terjadi dialog yang saling membantah. Baik membantah argumen antarsiswa atau antara guru dengan siswanya. Membantah adalah aktualisasi siswa yang berpikir. Membantah artinya ada pengetahuan atas referensi yang lain. Membantah bukan hal yang tidak sopan dalam urusan pengetahuan (Nuryatno, 2011). Siswa yang membantah menciptakan dialektika antara guru dan siswa, sehingga menghasilkan pengetahuan baru yang otentik dan teruji (Raditya, 2021). Kelas sosiologi bukan kelas doktrinisasi, tapi kelas kritisisasi. Maka dari itu, dialektika dalam bentuk dialog bantah-bantahan adalah syarat utama kelas sosiologi yang ideal di sekolah.

Meradikalkan Segala Bentuk Gagasan

Kelas sosiologi harus berisi gagasan-gagasan substantif yang dibahas secara radikal. Radikal di sini bukan dalam artian politis dan ekstrem. Radikal di sini dalam artian sebagai akar pengetahuan. Radikal dalam artian akar penyebab dan akar persoalan.

Kelas sosiologi yang ideal harus mempersoalkan segala bentuk gagasan hingga ke akar rumput gagasannya. Sehingga, terjalin dialog dan diskusi yang tajam, trengginas, dan bernas. Harapannya, semua siswa ikut terlibat, berpikir, dan menggeleng. Bukan malah diam, melempem, dan mengangguk patuh sekaligus tunduk. Kritisisme adalah alat utama yang harus dipakai dalam kelas sosiologi yang ideal. Bukan kepatuhan buta.

Untuk itu, para guru, wabil khusus para kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bagian kurikulum, berwajar rialah atas kelas-kelas sosiologi yang ramai di lingkungan sekolah. Berwajar rialah atas ketidakteraturan dalam kelas-kelas ilmu sosial. Berwajar rialah atas proses pembelajaran yang membuat siswa menyebar di luar kelas, bercanda, dan tertawa. Mulai hilangkan rasa menghamba pada kondusivitas berlebih, tertib berlebih, dan kepatuhan berlebih.

Dalam hal ini, kelas sosiologi yang ideal butuh ruang ekspresif yang tak terbatas. Jika khawatir kelas sosiologi terlalu ramai dan mengganggu kelas-kelas ilmu alam di sebelahnya, maka ayolah mulai diagendakan agar sekolah-sekolah menyediakan laboratorium ilmu sosial yang kedap suara. Sehingga, bukan hanya siswa-siswi ilmu alam yang punya laboratorium khusus untuk berkreasi dengan ilmunya. Siswa-siswi ilmu sosial pun bisa, dengan nuansa dan kebutuhan laboratoriumnya yang khas. Semoga. (*)

*)Guru Sosiologi SMA Negeri 2 Bangkalan

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kontak sosial #ramai #siswa #ideal #dialog #kelas #argumen #Ekspresif #ilmu sosial #membantah #wajah #tidak beradab #Demokratis #bahagia #sosiologi