Oleh MASYITHAH MARDHATILLAH
PENETAPAN tiga tokoh kunci di balik serial ”Guru Tugas” sebagai tersangka oleh Tim Siber Polda Jatim pada Jumat (10/5) menandai babak baru perjalanan kasus tersebut. Bersama itu, kontroversi dan rasa penasaran publik semakin menjadi. Berbagai komentar warganet yang membanjiri jagat media sosial hingga perbincangan darat seperti tak terbendung.
Antara Nilai Luhur dan Kepekaan Akan Ancaman
Lepas dari pemilihan judul yang disebut kurang cocok, dialog seksis, adegan tidak etis serta dugaan pembunuhan karakter guru tugas sebagai santri yang menjalani masa pengabdian, serial tersebut sebenarnya mengamanahkan pentingnya pendidikan seksual. Frase ini merujuk pada informasi perihal kesehatan organ reproduksi, termasuk concern dan batasan kontak fisik dengan orang lain.
Dalam berbagai adegan di dalamnya, ekspresi maupun bahasa tubuh Aini, tokoh perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual, memang multitafsir dan dalam sebagian hal inkonsisten. Sejak awal, Aini digambarkan tidak menyimpan kecurigaan apa pun terhadap sikap tak wajar dari Supri, sang guru tugas, yang memintanya bertemu di luar jam pelajaran.
Penghayatan akan virtus khas Madura yang tertuang dalam buppa’ babu’ guru rato seperti menegasikan takaran ketidakpantasan di balik instruksi tersebut. Pun juga dalam adegan-adegan selanjutnya, Aini yang digambarkan sempat menolak dan melawan akhirnya tidak dapat berbuat banyak. Ia tampak takut, sungkan, sekaligus tidak ingin kualat jika tidak mengiyakan si guru.
Narasi ini tentu tidak bermaksud playing victim atau memojokkan korban, terlebih jika benar serial tersebut terinspirasi dari kisah nyata. Akan tetapi, di sinilah pendidikan seksual memiliki urgensinya. Kesadaran (calon) korban akan apa yang tengah mengancamnya terbukti dapat mengubah keadaan, sebab pelecehan seksual diketahui terjadi (salah satunya) karena ketidaktahuan atau kekurangpekaan korban.
Dalam diskusi akademik, korban yang tidak mengetahui bahwa dirinya (terancam) menjadi target pelecehan seksual kerap disebut unknowing victim (UV). Aini tampak tidak memenuhi kualifikasi ini sebab ia bukan tak menyadari bahaya yang mengancamnya, hanya saja kesadaran tersebut datang belakangan sehingga ia pun ragu untuk benar-benar melawan dan keluar dari lingkaran hitam tersebut.
Padahal, jika sejak awal, misalnya, ia mengajak teman untuk mendatangi si guru, hal-hal tidak diinginkan semacam itu sangat mungkin dicegah. Jika saja ia mengetahui aturan tentang kekerasan seksual, perlindungan terhadap korban, dan payung hukum yang menaunginya, ia mungkin tidak akan ragu untuk melawan. Pilihannya untuk menyimpan traumanya sendiri justru menjerumuskannya pada sextortion yang semakin tidak memberinya banyak pilihan.
Perlindungan Berlapis
Siapa pun tentu tidak berharap menemukan Aini-Aini lain dalam diri, teman, maupun anggota keluarga masing-masing. Ikhtiar menghidupkan nilai-nilai luhur justru berbalik mendatangkan petaka ketika dipolitisasi oknum tak bertanggung jawab, sementara yang bersangkutan tidak well informed mengenai pendidikan seksual. Tiadanya kepekaan dari pihak keluarga maupun sekolah yang seharusnya melindungi korban semakin memperburuk keadaan.
Karena itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan seksual sudah seharusnya diarusutamakan sedini mungkin dari circle terkecil, yakni keluarga. Jika obrolan seputar seksualitas masih dianggap tabu sementara akses teknologi informasi begitu masif, anak atau remaja akan cenderung mencari referensi dari luar tanpa filter. Tanpa komunikasi yang sehat dengan orang tua, akses tak berbatas semacam ini cenderung akan menjadi senjata makan tuan.
Di luar keluarga, sekolah adalah lapisan kedua. Wacana memasukkan pendidikan seksual dalam kurikulum layak diperjuangkan. Setidaknya, jika dua circle ini dapat hand in hand membangun kesadaran dan wawasan serta menciptakan suasana kondusif nir-pelecehan seksual, antisipasi bisa lebih dimaksimalkan.
Ini seperti menjadi keharusan, sebab menyusul terungkapnya banyak kasus pelecehan seksual, semakin jelas bahwa tidak ada tempat yang benar-benar steril termasuk di keluarga, sekolah, bahkan lembaga pendidikan yang dianggap lebih aman seperti pondok pesantren atau seminari. Dengan begitu, anak atau remaja diupayakan dapat membentengi diri untuk tidak menjadi korban, terlebih pelaku pelecehan seksual di mana pun mereka berada.
Tidak Representatif namun Menjadi Otokritik
Pada akhirnya, kisah yang digambarkan dalam serial tersebut barangkali memang tidak merepresentasikan para guru tugas dengan misi luhur dari pesantren masing-masing. Hanya, ia tetap layak menjadi otokritik dalam beberapa hal, seperti pendidikan seksual yang masih menjadi barang mewah nan mahal.
Hal lain yang layak menjadi otokritik adalah perihal upaya menghidupkan virtus-virtus luhur yang harusnya diimbangi dengan nalar dan sikap kritis. Nilai untuk menghormati orang tua, guru, serta pemerintah, dalam konteks ini, selayaknya tidak dihidupkan dengan membabi buta atau gebyah uyah. Dalam konteks ini, misalnya, penting disadari bahwa tidak semua guru yang ’nyeleneh’ adalah Khidir yang sebenarnya tengah mengajarkan kebajikan.
Di luar semua kontroversi atasnya, serial tersebut layak diapresiasi karena berhasil mengetengahkan bahwa salah satu celah terjadinya pelecehan seksual adalah absennya pendidikan seksual di lembaga-lembaga strategis serta minimnya kesadaran akan urgensi hal tersebut di seluruh lapisan masyarakat. (*)
*)Kepala PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) IAIN Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti