oleh AQIL HUSEIN ALMANURI
BARU-BARU ini, netizen dibuat geger dengan salah satu film produksi anak muda Madura, Akeloy Production bertajuk Guru Tugas. Film ini dinilai melanggar etika, pencemaran nama baik, memberi contoh yang buruk, serta membuat ketakutan dan lepasnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.
Sebelum lebih jauh membahas, saya sedikit memberikan info bagi yang belum tahu, bahwa di Madura, komunitas anak muda pembuat film ini telah menjadi tren positif. Sebagai salah satu puncaknya, komunitas film Mata Pena menjadi salah satu yang masyhur. Penikmatnya bukan hanya dari Madura lokal, namun juga dari luar.
Tak mau ketinggalan, beberapa komunitas film pun dibentuk, dengan skenario, aktor, dan alat syuting seadanya. Beberapa memulainya dengan bujet yang pas-pasan. Seperti Republik Akeloy (Anak Keren Loyalitas) contohnya. Komunitas ini lahir dari sekelompok anak muda yang iseng. Iseng-iseng buat film itu lebih bagus ketimbang iseng-iseng mencuri ternak warga, bukan?
Film yang dibuat pun dengan skenario yang sederhana, apalagi background mereka yang memang bukan dari ahli sinematografi. Namun, masalah datang, banyak netizen (utamanya yang punya latar belakang santri) berkecamuk dan murka dengan salah satu konten terbaru mereka bertajuk Guru Tugas.
Film pendek Guru Tugas merupakan film yang menceritakan tentang seorang guru yang jatuh cinta kepada salah satu santriwatinya. Di Madura, khususnya di pesantren-pesantren besar, beberapa santri biasanya diutus untuk bertugas di pondok lain atau pada suatu kelompok masyarakat tertentu, entah karena untuk tugas akhir atau karena dengan program lain. Nah, di cerita ini, si guru memiliki cinta dan hasrat kepada santriwatinya itu sampai melakukan perbuatan tidak senonoh.
Ini yang kemudian ditentang oleh kebanyakan netizen, meskipun beberapa mendukung. Banyak dari mereka mengecam dengan alasan pencemaran nama baik pesantren. Beberapa juga mempermasalahkan adegan yang dianggap kurang etis, dan tak sedikit yang menyeret permasalahan ini pada lunturnya citra pesantren. Beberapa tokoh agama hingga ormas unjuk taring untuk menolak dengan keras.
Namun, saya selaku santri yang tinggal di Madura dengan jujur tidak keberatan atas film itu. Tentunya dengan atas beberapa alasan;
Sebuah Gambaran
Pertama, kasus cabul di pesantren sudah bukan menjadi rahasia. Kasus kiai di Gresik yang mencabuli santri dengan modus minta pijat, kasus guru ngaji yang mencabuli santrinya dengan iming-iming barokah, atau kiai di Riau yang mencabuli santrinya selama 9 kali dalam sebulan adalah kasus krusial yang memang terjadi. Mau tidak mau kita harus percaya, bahwa ini terjadi di pesantren yang terkenal dengan dialektika keilmuannya yang suci. Ini baru beberapa kasus, masih banyak yang belum saya sebut.
Jadi, dibilang pencemaran, itu kurang benar. Saya yakin masyarakat, termasuk yang mengecam, juga tahu fakta itu. Lebih-lebih pihak terkait sudah mengatakan bahwa hal demikian memang diangkat dari kisah nyata.
Oknum kiai dan guru di pesantren kerap mengumbar doktrin barokah dan aspek mitologis untuk memuaskan hasratnya. Sebagian kecil contoh di atas bisa menjadi bukti bahwa beberapa pesantren saat ini sudah tidak sehat karena oknum-oknum di dalamnya. Maka, selektif dalam memilih pesantren adalah suatu hal yang perlu dan harus diperhatikan.
Sisi Urgensi Sebuah Cerita
Kedua, sebuah teks narasi film atau skenario (sebagaimana di sastra) itu memiliki fungsi didaktif dan moralitas. Penonton bisa mengklasifikasi mana hal yang seharusnya ditiru dan mana yang seharusnya diambil sebagai suatu pelajaran, inilah yang disebut sebagai sisi urgensi.
Setiap cerita punya pelajaran atau hikmah, bergantung bagaimana dan dari sudut apa kita melihatnya. Film itu tidak hanya menampilkan adegan ranjang, ada runtutan cerita yang kompleks, setelah itu kita bisa mengambil sebuah pelajaran darinya.
Setidaknya ada beberapa urgensi yang bisa dipetik dari film tersebut, yakni perihal bagaimana peran orang tua bisa lebih selektif memilihkan anaknya guru dan pesantren, tentunya yang punya nasab keilmuan yang jelas dan track record yang bagus. Sisi urgensi selanjutnya, adalah bagaimana seorang guru dipercaya oleh masyarakat, jangan kemudian menggunakan atribut keilmuannya sebagai komoditas untuk ditukar dengan sesuatu yang merugikan. Atau dengan bahasa yang sederhana, jangan menyalahgunakan amanah masyarakat untuk memuaskan kepentingannya sendiri.
Selain sisi urgensi yang saya sebutkan di atas, sebenarnya banyak sisi positif lainnya. Tentunya, jika penonton tidak kaku pandang hanya pada scene adegan ranjang. Jadi, film tersebut harusnya bisa menjadi refleksi bagi kita dengan masing-masing perannya dalam masyarakat. Bukan malah menjadi ajang untuk menghakimi.
Terakhir, anak-anak muda yang memilih kegiatan edukatif dan positif harusnya didukung. Anggota Akeloy Production; sebut saja Akbar, Yus, Muhasir, Arifin adalah pemuda yang masih berusia 19–22 tahun. Sangat belia untuk memproduksi sebuah film (skenario, akting, editing).
Kegiatan mereka bisa menghasilkan karya. Keisengan mereka dalam membuat film menjadi inspirasi bagi semua orang. Jadi sangat keliru jika mengecamnya tanpa henti tanpa memberikan solusi, apalagi membandingkan karya mereka dengan komunitas lain, sangat menjatuhkan sekali.
Ketimbang membuat video konten prank, konten seperti yang dibahas saat ini lebih menarik dan lebih edukatif. Salam waras. (*)
*)Sekretaris LP2M STAINAS Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti