Oleh DELVIS SALSABILA
ADALAH hal tabu ketika mendengar anak usia dini sudah pandai mengumpat di sembarang tempat. Lebih fasih menyebutkan kata kasar daripada terima kasih, lebih jelas mengeja kata tolol daripada ayah dan ibu.
Berbanding terbalik ketika saya seusia tersebut yang hanya berucap ”mampus” saja harus rela membayar mahal dengan lumuran cabai rawit di mulut yang panasnya tidak hilang hingga berjam-jam kemudian. Namun berkatnya, membuat saya insyaf dan tidak berani mengulangi atau bahkan berimprovisasi.
Sayang dikata, dulu tetaplah dulu yang hanya menjadi cerita dalam kenangan. Kini realitanya sudah banyak anak usia dini bebas berkata ”jancuk” atau mengumpat nama hewan kepada orang yang lebih tua.
Seperti keponakan saya yang sudah andal mengeja satu per satu isi kebun binatang bahkan kata paling kasar sekalipun. Yang membuat saya heran, sampai saat ini saya belum pernah melihatnya menangis histeris dengan mulut yang memerah.
Di lain usia. Ketika weekend pertengahan Desember lalu, saya menghabiskan waktu santai saya untuk hunting di Alun-Alun Kota. Sembari menikmati es teh bewarna, sesekali menangkap momen yang patut diabadikan.
Tiba-tiba datang empat orang remaja, dua laki-laki dan dua perempuan –sepertinya remaja SMP– duduk tidak jauh dari tempat saya berdiam diri.
Dengan entengnya dan tanpa malu saling berangkulan, beberapa kali terdengar suara rajukan si perempuan disusul bujukan si lelaki, tak berapa lama suara tawa terdengar diselingi embel-embel (a)yang.
Melihatnya membuat mata saya berkedut kesal. Bukan, bukan karena saya iri karena saya jomblo sedangkan mereka sudah memiliki pasangan, itu masalah lain.
Jadi ketika ada dua orang pengamen datang dan melantunkan selawat kepada mereka, tapi mereka hanya cengengesan saja, tanpa segan saya berteriak kepada dua pengamen tersebut ”Ngajiin aja, Mas!” sembari berlalu pergi.
Sebuah ironi memang, di tengah belantara informasi yang serba cepat ini, kita dengan mudah bisa menemukan berbagai bentuk tindakan amoral di sekitar kita, baik dalam skala kecil atau skala yang meresahkan sekalipun.
Entahlah, remaja-remaja kini tidak lagi disibukkan dengan praktik pengembangan diri, namun lebih menyukai praktik pembangkangan terhadap norma sosial yang berlaku.
Belum lagi media sosial yang menuntun kita untuk menjadi individu yang homogen, membuat kita mau tak mau mengeja semua informasi yang bergulir masuk ke halaman beranda media sosial kita. Apa yang terjadi hari ini dan jenis konten apa yang viral pekan ini.
Dengan cepat kita menyerap informasi-informasi itu. Bagai dikoordinasi, kita dengan mudah menerima informasi yang disajikan mentah-mentah. Hanya segelintir orang yang masih mau berpikir kritis, menyeleksi informasi yang akan mereka serap.
Viralitas, istilahnya untuk suatu konten yang cepat menyebar luas seperti virus. Menjadi trending topic untuk kemudian diikuti dan ditiru oleh sebagian besar kelompok masyarakat, secara perlahan memarginalkan pola pikir kita untuk terfokus pada apa yang disajikan lewat for your page (FYP).
Ke mana pun kaki melangkah, si itu akan menjadi perbincangan, ke mana pun tongkrongannya, musik itu yang akan didengarkan.
Untuk tetap eksis, setiap orang harus tahu apa yang saat ini terjadi di media sosial. Mereka harus sering-sering stand by mantengin beranda FYP mereka
Agar, besok ketika nongkrong tidak menjadi kikuk karena tidak tahu siapa yang viral, atau dipandang aneh karena tidak tahu gerakan yang sedang viral, suka tidak suka.
Akhirnya harus belajar semalaman gerakan yang lagi viral agar menjadi anggota circle yang baik dan sefrekuensi.
Masalahnya, tidak semua yang viral adalah konten yang berpendidikan, sebagian besar malah artis dadakan yang sering dijuluki pemenang sound berkat dance simpel karya mereka viral, atau suatu challenge yang sialnya –disadari atau tidak– mulai melucuti moral pemuda bangsa.
Lebih sialnya lagi, penikmat konten-konten viral anak-anak remaja hingga dewasa. Saat kumpul acara kawinan, bisa ditemukan bahwa hampir sebagian besar anak usia dini duduk anteng di depan HP menyaksikan tontonan di layar walaupun mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan.
Celakanya, dasar karakter anak usia dini adalah meniru sekitarnya, maka ketika mereka melihat konten viral tersebut, tepat menonton konten yang mengandung kata-kata kasar, terjadi berulang-ulang karena luput dari pengawasan orang tua, telaklah pembunuhan karakter telah dilakukan sejak dini?
Jadi tidak heran jika banyak ditemukan anak usia dini sudah berhasil mengeja kata-kata kasar daripada terbata mengeja kata ayah dan ibu.
Sebuah polemik yang meresahkan, karakter anak bukan lagi sesuatu yang lumrah akan tetapi sesuatu yang luar biasa dan hanya dimiliki oleh mereka yang dipandang istimewa.
Bahkan, menyalami orang tua saja bisa menjadi viral karena dianggap langka. Padahal tindakan tersebut adalah hal yang lazim dan memang seharusnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.
Tata krama yang memang sudah ada sejak dulu menjadi fenomena yang langka jika tampak di mata publik.
Karena hanya sedikit orang yang masih melestarikan hal tersebut di tengah-tengah pesatnya informasi dan pengaruh kebudayaan luar yang mengalir deras.
Mungkin hanya sekali dua kali saja kita bisa menemukan konten yang menunjukkan sikap sopan santun dari ribuan konten viral lain yang menurut istilah kerennya unfaedah.
Ya, peradaban memang semakin maju, entahlah apakah sisi moral akan tetap diprioritaskan atau hanya menjadi wejangan saja.
Semoga beberapa tahun ke depan mengucapkan terima kasih bisa menjadi viral, atau tersenyum ketika bertemu orang bisa menjadi FYP di beranda media sosial. Selamat tahun baru! (*)
*)Guru pengabdian PP Al-Amien Prenduan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti