JOMBANG, RadarMadura.id – Kemeriahan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, cukup terasa.
Salah satunya dengan hadirnya Pameran dan Klinik Turats ulama-ulama Nusantara.
Lembaran-lembaran tua, kitab klasik hingga berbagai manuskrip karya ulama terdahulu tersusun rapi.
Tulisan-tulisan dengan aksara Arab itu seolah membawa pengunjung menembus lorong waktu.
Baca Juga: Huawei MatePad Mini Rp8,9 Juta: Ringkas, Layar OLED 120Hz, tapi Bukan Pengganti Laptop
Pengunjung bukan sekadar melihat kitab tua, tetapi diajak menyaksikan jejak panjang peradaban dan tradisi intelektual para ulama Nusantara yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah hiruk pikuk kedatangan ribuan warga nahdliyin, pameran tersebut menawarkan suasana berbeda.
Lebih hening, tetapi menyimpan cerita panjang tentang ilmu pengetahuan di lingkungan pesantren.
Manuskrip yang dipamerkan tidak hanya berkaitan dengan ilmu agama.
Ada pula karya ulama terdahulu yang membahas matematika, aljabar, aritmatika, hingga geopolitik dan kondisi dunia.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku terkesan melihat kekayaan khazanah keilmuan ulama Nusantara dalam berbagai karya tersebut.
Baca Juga: BYD M9 Makin Dekat ke Indonesia, Calon Penantang Denza D9 dengan Teknologi Plug-in Hybrid
Pemikiran yang dilahirkan jauh melampaui anggapan bahwa pesantren hanya berkutat pada persoalan keagamaan.
Salah satu karya yang dinilai luar biasa adalah karya dari ulama Pesantren Qomaruddin, Gresik. Kitab-kitabnya memuat pembahasan tentang aljabar, aritmatika, dan matematika.
"Beliau sudah merumuskan ilmu-ilmu aljabar, berarti tentang aritmatika, matematika itu sudah tahunan," ujar Khofifah.
Sejumlah manuskrip juga mengulas geopolitik dan gambaran kondisi dunia.
Termasuk berbagai disiplin ilmu keagamaan, mulai tafsir, fikih, hingga ilmu-ilmu alat yang selama ini hidup dalam tradisi keilmuan pesantren.
Bagi Khofifah, kekayaan tersebut menjadi bukti bahwa Jatim dan Nusantara memiliki warisan intelektual yang layak diperkenalkan kepada dunia.
"Peradaban dunia itu rasanya bisa berkhidmat ke Indonesia, terutama Jawa Timur," tuturnya.
Wanita berhijab yang juga menjabat Ketua PBNU itu juga melihat turats Nusantara memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu referensi dunia.
Baca Juga: 3 HP Bekas Rp1 Jutaan untuk Jualan Online di 2026, Mana yang Paling Masuk Akal?
Lebih-lebih perkembangan peradaban global kini semakin bergerak ke kawasan Asia dan ASEAN.
"Bagaimana Islam mengajak moderasi, multikultur, dan itu menjadi referensi yang sangat dibutuhkan oleh dunia," tegasnya.
Dengan demikian, upaya menghidupkan kembali karya ulama Nusantara harus terus dilakukan, baik melalui pemulihan manuskrip, digitalisasi, hingga penerbitan ulang dalam bentuk kitab.
"Referensi kita akan semakin kaya. Bagaimana kedalaman keilmuan ulama-ulama Nusantara tetap update untuk membaca berbagai fenomena," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir menegaskan, NU dan turats memiliki hubungan yang tak terpisahkan.
Sebagai peninggalan para ulama terdahulu, turats harus terus dijaga dan dihidupkan.
"Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turats," tegasnya.
Bagi pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo itu, menjaga turats bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman.
Tradisi keilmuan pesantren justru harus berjalan berdampingan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Baca Juga: Honda Perkuat Motor Listrik di Indonesia, ICON e: Tawarkan Jarak Tempuh 53 Km dan Pengisian Lebih Fl
"Mudah-mudahan ini terus berlanjut dan saya sangat mengapresiasi para kiai dan semua pihak yang memiliki perhatian serius terhadap turats," pesannya.
Salah seorang pengunjung, Moh. Asad, warga Kediri, mengaku tertarik melihat karya-karya ulama Nusantara karena selama ini jarang diketahui.
Pameran ini lantas memberikan gambaran bahwa ulama dan pesantren memiliki tradisi keilmuan yang sangat luas.
"Ini menarik karena menunjukkan bahwa ulama Nusantara memiliki pemikiran yang luar biasa," katanya.
Dia juga menilai keberadaan pameran seperti itu penting untuk mengenalkan kembali warisan para ulama kepada generasi muda.
Sebab, banyak manuskrip dan karya lama yang selama ini hanya dikenal di lingkungan terbatas.
"Jangan sampai kita justru lebih mengenal pemikiran dari luar, tetapi tidak tahu karya ulama dari daerah dan bangsa sendiri," pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Hera Marylia