JOMBANG, RadarMadura.id – Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi dibuka hari ini, Kamis (27/8).
Forum tertinggi organisasi tersebut berlangsung di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, hingga Senin (31/8).
Momen lima tahunan ini menjadi ruang penyampaian aspirasi bagi pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Pulau Madura.
PCNU se-Madura Raya datang dengan harapan suara nahdliyin di daerah menjadi bagian arah kebijakan organisasi ke depan.
Baca Juga: HMD T21 2nd Edition Datang dengan Tambahan RAM dan Penyimpanan yang Lebih Besar untuk Kebutuhan Digi
Salah satu pesan utama yang dibawa PCNU Pamekasan adalah keinginannya agar NU kembali kepada khittah dan menjalankan fungsi utamanya sebagai organisasi.
Sehingga, keberadaan jam’iyah terbesar ini dapat membawa rahmat bagi seluruh alam.
Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir menegaskan, muktamar harus menjadi ruang untuk menyejukkan suasana organisasi, bukan justru memperuncing perbedaan.
Karena itu, NU membutuhkan figur pemimpin yang mampu menjadi payung bagi seluruh golongan.
”Mandat kami sederhana, menginginkan NU kembali pada fungsi utamanya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Harapan kami di Jombang, muktamar menjadi ruang penyejuk, bukan pemanas,” ujarnya.
Aspirasi lain yang dibawa PCNU Pamekasan juga mengarah pada terwujudnya NU yang semakin mengayomi.
Baca Juga: Sundubu Jjigae Jadi Menu Favorit Saat Cuaca Dingin, Begini Resep Sup Tahu Korea dengan Kuah Pedas ya
Termasuk penguatan spiritualitas warga yang perlu terus dilakukan tanpa terjebak pada formalisme agama yang kaku.
Dalam konteks nasional, Pamekasan ingin menyumbangkan gagasan tentang penguatan ketahanan sosial.
Di tengah munculnya berbagai isu perpecahan, keberagaman harus dikelola dengan semangat kasih sayang dan persaudaraan.
”Kami ingin memastikan setiap kebijakan nasional NU tetap melalui filter kebijaksanaan para ulama tradisional, agar tidak terjerumus pada populisme sesaat,” tegasnya.
Ketua PCNU Bangkalan KH Muhammad Makki Nasir menegaskan, mandat yang akan dibawa ke Muktamar Ke-35 NU di Jombang telah digodok secara matang di internal organisasi.
Aspirasi tersebut diarahkan untuk mendorong kemajuan NU di abad kedua.
Menurut dia, tantangan utama yang dihadapi NU ke depan adalah kemampuan menjawab perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah diwariskan para masyayikh dan kiai pesantren.
Baca Juga: Asus dan Xbox Bikin Gebrakan Lewat ROG Ally X20, Konsol Genggam Berbodi Transparan dengan Layar OLED
Sehingga, diperlukan langkah transformasi nilai agar ajaran dan tradisi yang baik tetap relevan.
”Intinya, bagaimana NU bisa menjawab tantangan zaman dengan langkah transformasi nilai-nilai yang telah diajarkan para masyayikh dan kiai pesantren,” ujarnya.
Dia menjelaskan, transformasi tersebut sejalan dengan prinsip menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
Tantangannya adalah bagaimana proses transfer nilai itu dapat dilakukan secara konkret dan dipahami dengan tepat oleh generasi berikutnya.
”Sehingga, hal-hal baru itu tetap terkontrol oleh nilai-nilai ahlusunah waljamaah. Biasanya kendalanya di terminologi,” sebutnya.
Sementara itu, KH Md Widadi Rahim menaruh harapan besar muktamar tidak hanya sekadar pergantian kepemimpinan.
Tapi, lebih fokus pada langkah-langkah taktik ke depan. Salah satu yang dilakukan PCNU Sumenep adalah menyiapkan draf rekomendasi dan program yang akan dibahas di muktamar.
”Masalah siapa ketuanya, siapa rais aam itu nomor sekian. Yang jelas, harapan kami semua program yang disepakati oleh muktamirin berjalan dengan baik,” tegasnya.
Adapun rekomendasi yang disiapkan PCNU Sumenep di antaranya yaitu terkait dengan kesetaraan program antara warga kepulauan dan daratan.
Baca Juga: Bikin Mie Ayam Bangka Sendiri di Rumah, Resep Praktis dengan Topping Ayam Gurih dan Kuah Hangat
Di samping itu juga berkaitan dengan masalah pengembangan ekonomi masyarakat di daerah.
”Madura ada dua komoditas yang menarik untuk perekonomian, yaitu garam dan tembakau. Bagaimana NU bisa mengakomodasi dan memfasilitasi dua komoditas ini benar-benar menjadi ikon perekonomian dari Madura,” tegasnya.
Menurut Kiai Widad, gagasan dan beragama rekomendasi juga telah dibicarakan serta dibahas untuk diperjuangkan secara bersama-sama dari enam PCNU di Madura.
Bahkan, dari setiap pengurus cabang sudah disepakati untuk fokus pada pembahasan masing-masing.
”Yang mengangkat isu kepulauan, Sumenep, karena dari empat kabupaten di Madura, Sumenep yang paling banyak pulaunya,” tukas koordinator PCNU Madura Raya tersebut. (lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti