SUMENEP, RadarMadura.id – Ribuan pasang tangan menengadah. Zikir dan doa bergema di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Minggu (19/7). Puluhan ribu jemaah itu menghadiri puncak Idul Khotmi Nasional Tarekat Tijaniyah Ke-234 yang dihadiri syurafa dari Aljazair, Mesir, dan Maroko.
Jemaah datang dari berbagai provinsi di Indonesia hingga mancanegara. Sejak Minggu (19/7) pagi, mereka memenuhi lapangan utama dan kawasan pesantren untuk mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.
Ketua Panitia KH. Junaidi Rasyidi mengatakan, Idul Khotmi tahun ini menjadi momentum istimewa. Sebab, syurafa dari tiga negara hadir bersama 161 muqaddam dari berbagai daerah.
”Alhamdulillah, para syurafa dari Aljazair, Mesir, dan Maroko berkenan hadir sejak awal hingga puncak acara. Kehadiran mereka menjadi kebahagiaan sekaligus keberkahan bagi seluruh jemaah,” ujarnya.
Puncak Idul Khotmi juga dihadiri Menko Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, kepala daerah se-Madura, unsur TNI-Polri, pimpinan pondok pesantren, hingga akademisi. Rangkaian acara diisi pembacaan salawat Fatih, tausiah, dan doa bersama.
Pimpinan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Amien Prenduan KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA menyatakan, menjadi tuan rumah Idul Khotmi Nasional merupakan amanah. Karena itu, panitia berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh jemaah.
”Bagi kami, menjadi tuan rumah Idul Khotmi adalah sebuah amanah. Kehormatan ini harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang terbaik kepada seluruh jemaah,” tuturnya.
Menurut dia, Tarekat Tijaniyah telah menjadi bagian dari perjalanan dakwah Al-Amien sejak masa pendirian. Meski demikian, pesantren ini tetap berdiri untuk semua golongan.
“Al-Amien memang berdiri di atas dan untuk semua golongan. Tidak semua warga Al-Amien adalah pengamal Tarekat Tijaniyah, tetapi ruh pendidikan yang dibangun di pesantren ini sangat menghargai nilai-nilai dzikir dan akhlak," tegasnya.
Kiai Fauzi mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat menyukseskan kegiatan ini. Dia juga memuji ketertiban jemaah selama pelaksanaan Idul Khotmi.
”Alhamdulillah, kita tidak hanya menyaksikan ketertiban lahiriah, tetapi juga ketenangan rohani. Semoga menjadi bekal saat kembali ke daerah masing-masing,” ucapnya.
Dia juga menyampaikan permohonan maaf apabila pelayanan belum sempurna. Idul Khotmi Nasional berikutnya akan digelar di Lumajang pada 2027, Garut pada 2028, sedangkan Al-Amien kembali menjadi tuan rumah pada 2031.
Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengajak jemaah menjadikan majelis zikir sebagai penguat ketakwaan dan ukhuwah. Menurut dia, hadir di majelis ini merupakan ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.
”Kita hadir di majelis ini semata-mata karena berharap mendapatkan rida Allah SWT. Mudah-mudahan kita dihimpunkan bersama orang-orang saleh,” doanya.
Khofifah juga berharap ukhuwah terus terjaga. Dia meyakini kehadiran syurafa dari Aljazair, Mesir, dan Maroko membawa keberkahan bagi seluruh jemaah.
”Mari kita perkuat ketakwaan kepada Allah SWT, memperbanyak ikhtiar spiritual, dan terus menjaga Ukhuwah Islamiyah,” ajaknya.
Sementara itu, Menko Pangan Zulkifli Hasan mengajak seluruh jemaah mendoakan Indonesia. Dia berharap cita-cita para ulama pendiri bangsa dapat terwujud.
”Mohon doa dari para kiai, para masyayikh, dan seluruh jemaah agar Indonesia menjadi bangsa yang semakin maju, adil, dan sejahtera,” harapnya.
Zulkifli juga memastikan bahwa pemerintah akan terus menjaga ketahanan pangan nasional. Masyarakat diminta tidak khawatir terhadap ketersediaan bahan pokok.
”Alhamdulillah, kondisi pangan nasional dalam keadaan aman. Masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah terus bekerja menjaga ketahanan pangan,” tukasnya. (afg/bil)
Editor : Anis Billah