Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Halal Bihalal PDIP Jatim, Said Abdullah Ajak Perkuat Persatuan NU–Nasionalis di Era Post-Truth

Dafir. • Minggu, 12 April 2026 | 14:05 WIB
Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim MH Said Abdullah.
Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim MH Said Abdullah.

SURABAYA – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan pentingnya menjaga persatuan antara kekuatan santri dan nasionalis dalam momentum halal bihalal yang digelar di bulan Syawal 1447 H. Menurutnya, tradisi halal bihalal bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga sarana memperkuat kejujuran dan ketulusan di tengah maraknya kepalsuan.

Dalam sambutannya, Said menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki karakter khas sebagai basis “ijo-abang”, yakni perpaduan antara kalangan santri yang identik dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan kelompok nasionalis yang menjadi basis PDI Perjuangan.

“Santri dan abangan ini sejatinya hanya berbeda tipis, tetapi memiliki nasib yang sama. Sama-sama menghadapi persoalan kemiskinan, pendidikan, dan lapangan kerja. Karena itu, perjuangan harus dilakukan bersama,” ujarnya.

Dia menegaskan, PDI Perjuangan di Jawa Timur tidak akan meninggalkan NU. Bahkan, menurutnya, terdapat kesamaan ideologis antara nilai ke-NU-an yang mengusung Islam Wasathiyah dengan garis perjuangan partai.

“Islam harus hadir sebagai rahmat, bukan menakutkan. Nilai moderasi, keseimbangan, dan toleransi itulah yang juga menjadi pedoman dalam langkah politik PDI Perjuangan,” tegasnya.

Said juga mendorong para tokoh NU, mulai dari kiai, gus, hingga bu nyai, untuk terlibat aktif dalam ijtihad politik bersama PDI Perjuangan guna memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengingatkan kembali sejarah halal bihalal yang digagas KH Abdul Wahab Hasbullah dan Presiden Soekarno pada 1948 sebagai sarana meredam konflik politik dan memperkuat persatuan nasional.

“Halal bihalal sejak awal memang untuk menjahit silaturahmi, mengakui kesalahan, dan saling memaafkan. Tradisi ini harus terus kita jaga,” katanya.

Lebih lanjut, Said menyoroti tantangan era modern yang disebutnya sebagai era “post-truth”, di mana kebenaran kerap dikaburkan oleh kepalsuan, terutama melalui media sosial.

“Kita sering kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang palsu. Karena itu, kita harus membiasakan tabayun, memperkuat silaturahmi, dan menjaga kejernihan berpikir,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam berpolitik, nilai kejujuran, konsistensi, dan sikap adil harus terus dijaga agar tidak terjebak dalam praktik hasutan maupun manipulasi informasi.

“Dengan memegang nilai-nilai itu, Insya Allah PDI Perjuangan akan tetap berada di jalan perjuangan yang benar,” pungkasnya. (*/daf)

Editor : Dafir.
#nu #Said Abdillah #pdi perjuangan jatim