SUMENEP – Di tengah riuhnya linimasa media sosial yang kerap dipenuhi silang sengkarut isu kebangsaan, ratusan warga Sumenep memilih cara berbeda. Mereka duduk bersama, berdialog, dan membicarakan arah bangsa dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur XI (Madura) dari Fraksi PDI Perjuangan, MH Said Abdullah.
Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Hotel De Baghraf, Rabu (11/2), itu berlangsung hangat dan reflektif. Mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga kalangan pemuda tampak memenuhi ruangan. Mereka tak sekadar mendengar paparan, tetapi aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan.
Forum tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni M. Ridho Ilahi Robi dan Affandi Ubala. Keduanya mengupas pentingnya merawat empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Ridho mengajak peserta melihat Sumenep sebagai miniatur Indonesia. Wilayah yang membentang dari daratan hingga kepulauan itu dihuni beragam latar belakang sosial dan budaya. Menurut dia, perbedaan bukan sumber perpecahan.
“Perbedaan bukan sumber perpecahan, melainkan potensi besar jika dikelola dengan arah yang jelas,” ujarnya.
Dia mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah rumah bersama. Ada atap, tiang, dan fondasi yang saling menopang. Jika satu bagian rapuh, seluruh penghuni akan merasakan dampaknya.
“Indonesia ini rumah kita bersama. Semua elemen, dari pemimpin sampai rakyat kecil, punya peran agar rumah ini tetap kokoh,” tegasnya.
Sementara itu, Affandi Ubala menyoroti luasnya wilayah Indonesia yang hampir setara dengan Benua Eropa. Meski demikian, bangsa ini tetap berdiri sebagai satu kesatuan. Tantangan terbesar, menurut dia, justru datang dari derasnya arus informasi.
“Perpecahan itu mudah terjadi kalau kita tidak hati-hati menerima informasi. Karena itu, empat pilar harus terus dirawat bersama,” katanya.
Dia menekankan peran strategis generasi muda. Masa depan bangsa, lanjut dia, sangat ditentukan oleh sikap dan langkah yang diambil hari ini.
“Penting untuk kita menjaga dan merawat keutuhan bangsa. Semua harus saling menguatkan, jangan mau dipecah belah,” tandasnya.
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis hingga akhir acara. Sejumlah peserta menyoroti isu toleransi, literasi digital, hingga tantangan menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan politik.
Kegiatan tersebut juga didampingi dua tenaga ahli MH Said Abdullah, yakni Moh. Fauzi, M.Pd., dan Slamet Hidayat, S.H., yang memastikan diskusi berjalan interaktif dan substansial.
Di tengah derasnya arus informasi yang kerap tak tersaring, forum semacam ini menjadi ruang penting untuk merawat kesadaran kebangsaan, bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga, bukan sekadar diwarisi. (*/daf)
Editor : Dafir.