Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Framing Negatif Pesantren, Program TV Nasional Didesak Minta Maaf

Hasan Bashri • Selasa, 14 Oktober 2025 | 17:22 WIB

SOLID: Foto bersama Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) dalam salah satu kegiatan
SOLID: Foto bersama Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) dalam salah satu kegiatan

RadarMadura.id — Tayangan dengan judul "Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok?" di salah satu media nasional Dinilai Merugikan pesantren.

Hal tersebut diungkap oleh Ketua Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Jatim, Moh. Ali Muhsin.

"Tayangan video dalam acara expos yang menampilkan Kiai Anwar Mansur Pimpinan Ponpes Lirboyo itu menyulut emosi para santri, alumni, masyarakat dan tokoh agama," ujarnya. 

Dia menjelaskan, media televisi tersebut telah menayangkan konten yang tidak berimbang, dan memfreaming negatif tentang kiai dan pesantren.

Padahal realitas dipesantren tidak seperti yang dipublikasikan. 

"Pesantren dinarasikan negatif dan kiai juga dinarasikan kaya, karena seolah olah disebabkan dapat amplop dari masyarakat," ungkpanya.

Padahal menurut Muhsin, amplop yang diberikan santri atau masyarakat itu, tidak digunakan untuk kebutuhan pribadi kiai.

Justru sebaliknya, banyak uang pribadi Kiai yang dikeluarkan untuk kebutuhan pembangunan atau operasional pesantren. 

"Itu tidak ada pakasaan dan itu bagian dari kecintaan santri kepada gurunya," ungkpanya.

Harusnya, itu tidak hanya dilihat dari kasat mata atau kacamata luar.

Tapi juga harus memferivikasi dan mengetahui lebih dalam bagaimana kiai dan pesantren, sehingga berita yang dipublikasikan menjadi utuh.

 

"Kiai itu kaya bukan karena amplop, tapi mereka banyak yang memiliki bisnis bisnis sebagai maisyah kiai," ucapnya.

Ketua Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Jatim, Moh. Ali Muhsin.
Ketua Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Jatim, Moh. Ali Muhsin.

Muhsin juga menyayangkan tidak adanya klarifikasi dan verifikasi dari pihak media televisi tersebut kepada kiai atau pesantren.

Padahal menurutnya, langkah tersebut bagian dari salah satu kode etik jurnalistik yang harus dipenuhi oleh jurnalis. 

"Harusnya, terlebihdahulu ada upaya klarifikasi kepada pihak pondok sebelum berita atau konten itu dipublikasikan. Ini kan tidak berimbang sehingga sangat merugikan pihak pesantren," ucapnya.

Muhsin menyarankan, agar pihak televisi dimaksud segera melakukan klarifikasi.

Selain itu, meminta maaf secara terbuka, khusunya kepada kiai dan pesantren Lirboyo.

Hal tersebut sebagai upaya untuk meredam emosi publik. 

"Alumni dan Santri Lirboro sudah melakukan desakan agar Tran7 segera meminta maaf, dan ini harus dipenuhi," tukasnya. (***)

Editor : Hasan Bashri
#alumni lirboyo #PGMNI Jatim #Berita Pesantren #Kiai Anwar Mansur #Kontroversi Tayangan TV #Pesantren Lirboyo #Klarifikasi Media #Framing Negatif Media #trans 7