RadarMadura.id— Dunia pendidikan Indonesia kembali mendapat angin segar. Sebanyak 191.296 formasi guru madrasah dan guru pendidikan agama resmi disetujui pemerintah untuk tahun 2025.
Persetujuan ini menjadi sinyal kuat bahwa peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, khususnya di lembaga pendidikan berbasis agama, kini semakin nyata.
Formasi besar ini mencakup guru madrasah, serta guru pendidikan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu di seluruh Indonesia.
Langkah ini diyakini akan membuka peluang karier baru bagi ribuan tenaga pendidik sekaligus memperkuat fondasi pendidikan karakter di tanah air.
Rincian Formasi Guru yang Dibuka
Menurut Direktur GTK Madrasah Kemenag, Fesal Musaad, jumlah formasi yang disetujui Kemenpan RB terbagi dalam tiga level jabatan fungsional.
-
78.480 formasi untuk jenjang Ahli Pertama
-
56.701 formasi untuk jenjang Ahli Muda
-
56.115 formasi untuk jenjang Ahli Madya
“Alhamdulillah, usulan tersebut sudah mendapatkan persetujuan. Ini menjadi momentum penting bagi guru madrasah dan guru pendidikan agama untuk berkembang lebih profesional,” ujar Fesal di Jakarta, Sabtu 6 September 2025.
Dari Perjuangan Panjang hingga Restu Pemerintah
Proses persetujuan ini bukan hal instan. Berawal dari pemetaan kebutuhan guru madrasah di seluruh Indonesia, data tersebut diserahkan ke Ditjen Dikdasmen Kemendikbudristek untuk mendapat rekomendasi.
Setelah itu, Kemenag melalui Biro SDM mengajukan usulan resmi ke Kemenpan RB.
Namun, formasi yang disetujui masih berbentuk gelondongan.
Karena itu, Kemenag kini melakukan pemetaan ulang agar distribusi sesuai kebutuhan riil di lapangan, mulai dari tingkat Kanwil hingga sekolah per mata pelajaran.
Guru Lulus Uji Kompetensi Jadi Prioritas
Kabar gembira juga datang untuk 11.339 guru madrasah yang sudah lulus Uji Kompetensi (UKOM). Mereka akan diprioritaskan mengisi formasi baru ini karena masa berlaku sertifikat kelulusan hanya dua tahun.
“Kami mendorong percepatan agar para guru ini segera bisa menempati formasi yang tersedia. Jangan sampai hak mereka tertunda,” tegas Fesal.
Dampak Besar untuk Pendidikan Indonesia
Keputusan pemerintah membuka 191 ribu formasi guru ini bukan hanya soal angka, melainkan masa depan pendidikan.
Dengan distribusi yang tepat, siswa madrasah maupun sekolah umum akan semakin merasakan layanan pendidikan agama yang berkualitas.
Selain itu, formasi ini juga menjadi bentuk pengakuan negara terhadap dedikasi guru madrasah dan guru pendidikan agama yang selama ini berjuang di berbagai daerah.
“Ini bukan hanya soal karier, tetapi juga soal keadilan dan pengakuan profesional bagi para pendidik,” pungkas Fesal. (hasan)
Editor : Hasan Bashri