RadarMadura.id — Awal Agustus 2025 membawa kabar campur aduk bagi warga Jawa Timur. PT Pertamina (Persero) resmi mengumumkan perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh SPBU wilayah provinsi ini mulai Sabtu 9 Agustus 2025.
Yang menarik, harga bensin seperti Pertamax dan Pertamax Turbo turun, sementara harga solar non-subsidi justru naik cukup signifikan.
Pengumuman ini disampaikan Pertamina melalui situs resminya pada Kamis 31 Juli 2025 sekitar pukul 22.00 WIB.
Baca Juga: Kado HUT RI ke-80, Guru Dapat 3 Kejutan Besar dari Pemerintah: Nominalnya Bikin Senyum Lebar!
Penyesuaian harga dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar BBM.
3 BBM Turun Harga, 2 BBM Naik
Dalam daftar terbaru, Pertamax RON 92, Pertamax Turbo RON 98, dan Pertamax Green 95 mengalami penurunan harga hingga Rp 300 per liter.
Sebaliknya, Dexlite CN51 dan Pertamina Dex CN53 mengalami kenaikan harga hingga Rp 530 per liter.
Harga BBM Pertamina di Jawa Timur Per 9 Agustus 2025:
-
Pertalite RON 90: Rp 10.000/liter (tetap)
-
Solar: Rp 6.800/liter (tetap)
-
Pertamax RON 92: Rp 12.200/liter (turun Rp 300 dari Rp 12.500)
-
Pertamax Turbo RON 98: Rp 13.200/liter (turun Rp 300 dari Rp 13.500)
-
Pertamax Green 95: Rp 13.000/liter (turun Rp 250 dari Rp 13.250)
-
Dexlite CN51: Rp 13.850/liter (naik Rp 530 dari Rp 13.320)
-
Pertamina Dex CN53: Rp 14.150/liter (naik Rp 500 dari Rp 13.650)
Dampak Berbeda untuk Konsumen
Penurunan harga bensin disambut positif pengguna kendaraan roda dua dan roda empat.
Namun, kenaikan harga BBM diesel non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex dikhawatirkan menambah beban operasional bagi sektor transportasi barang dan logistik.
“Kalau isi full tank Pertamax jelas terasa hematnya. Tapi untuk yang pakai solar non-subsidi, pasti akan terasa berat,” ujar Rudi, pengemudi truk di Surabaya.
Mengikuti Tren Harga Minyak Dunia
Pertamina menegaskan bahwa perubahan harga BBM non-subsidi dilakukan secara berkala menyesuaikan harga minyak mentah global dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara harga yang kompetitif dan keberlanjutan pasokan energi di Indonesia. (hasan)
Editor : Hasan Bashri