Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Setia di Jalur Politik sejak Muda, MH Said Abdullah Tak Pernah Lelah Bela Rakyat Kecil

Dafir. • Sabtu, 5 Juli 2025 | 01:35 WIB
HORMAT: MH Said Abdullah mendampingi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri saat berziarah di pusara Bung Karno.
HORMAT: MH Said Abdullah mendampingi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri saat berziarah di pusara Bung Karno.


RadarMadura.id – Terjun ke dunia politik sejak muda adalah bagian dari perjalanan hidup yang tak bisa dilepaskan dari sosok MH Said Abdullah. Politikus senior asal Kabupaten Sumenep ini tetap teguh menapaki jalan perjuangan politik demi membela kepentingan rakyat kecil.

Kesetiaannya terhadap partai juga tak perlu diragukan. Sejak bergabung dengan partai politik di usia belasan tahun, Said tak pernah sekalipun berpaling ke partai lain. Loyalitasnya teruji oleh waktu.

Menurutnya, memulai karier politik di usia muda adalah langkah penting untuk menanam benih harapan yang kelak tumbuh menjadi manfaat bagi banyak orang. Tak heran, ketika dipercaya memimpin DPC Banteng Muda Indonesia Sumenep pada periode 1982–1985, dia bekerja keras membesarkan partai.

”Itulah yang menggembleng kami sejak muda. Meski waktu itu kami masih belum punya apa-apa,” kenangnya saat berbincang dengan RadarMadura.id.

Said Abdullah bercerita, saat itu dia dan para kader di daerah sangat bersemangat meskipun secara posisi belum memiliki kekuatan berarti. Namun melihat dinamika politik di pusat, khususnya di Jakarta, membuatnya merasa terdorong dan terinspirasi.

Menurut Said Abdullah, para elite partai di masa itu begitu aktif dalam pertarungan gagasan. ”Setiap hari mereka berdebat. Tapi bukan sekadar konflik, melainkan adu ide dan pemikiran,” ujarnya.

Dia menyebutkan, salah satu momen paling membekas adalah pertarungan gagasan antara Hardjantho Soemodisastro dan Sunawar Sukowati – yang satu dikenal sebagai orator ulung, satunya lagi pemikir brilian. ”Dialektikanya luar biasa. Perebutan ide, bukan sekadar rebut kursi kekuasaan. Kaderisasi pun berjalan serius,” terangnya.

Said Abdullah menegaskan, meski tidak semua proses kaderisasi berjalan mulus, tetap saja akan ada hasil dari setiap perjuangan. “Yang penting niatnya berjuang dulu untuk partai. Apalagi dulu, basis gerakan partai bukan di desa, tapi di tingkat kecamatan. Makanya, ada istilah korcam, komisariat kecamatan,” jelasnya.

Dia juga mengingat bagaimana suasana politik nasional mulai berubah pada era 1980-an. Saat itulah muncul kebutuhan akan figur-figur baru. LB Murdani kemudian muncul sebagai tokoh kunci di dunia politik, disusul duet Surayadi dan Neko Daryanto yang dinilai sangat solid.

Tak lama kemudian, pada 1986, Megawati Soekarnoputri bergabung dengan partai. Kehadirannya membawa energi baru yang lebih membumi dan merakyat. ”Waktu itu aura perjuangan kerakyatan semakin kuat. Hingga akhirnya, pada Pemilu 1987, PDI berhasil mendapat satu kursi di Sumenep. Sebuah pencapaian penting kala itu,” ujarnya.

Bergabungnya Megawati membawa semangat segar dan memperkuat proses kaderisasi di tubuh partai. Said masih ingat betul, saat Megawati datang ke Sumenep dan mengunjungi kantor DPC PDI yang sekaligus menjadi rumah pribadinya.

”Saat itu, Ibu Mega melihat foto Bung Karno di dinding. Beberapa saat kemudian, beliau meneteskan air mata. Itu pertemuan pertama saya dengannya. Waktu itu saya masih memanggilnya ‘Mbak Mega’,” kenangnya haru.

Karena sedang berada di Sumenep, Said dan sejumlah pengurus kemudian mengajak Megawati menyaksikan karapan sapi di Kecamatan Lenteng. Momen itu membekas kuat dalam ingatan. Apalagi, ketika diketahui bahwa nama sepasang sapi yang bertanding adalah ‘Mega’ dan ‘Guntur’—nama yang identik dengan keluarga Bung Karno.

”Bagi masyarakat Madura, memberi nama sapi dengan nama tokoh nasional adalah hal yang lumrah. Biasanya diambil dari nama-nama yang gagah, populer, dan dianggap unggul. Tapi bagi Ibu Mega, itu cukup unik,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Dia menambahkan, di setiap daerah pasti ada cara tersendiri untuk mengekspresikan penghormatan. Salah satunya, dengan memberi nama ‘agung’ pada pasangan sapi karapan. ”Waktu cerita itu, Ibu Mega terlihat begitu terharu,” katanya.

Yang tak kalah menarik, sapi bernama ‘Megawati’ itu justru keluar sebagai pemenang. ”Ibu Mega sampai berkomentar, ‘Lah, bapak saya susah-susah ngasih nama, kok malah dikasih ke nama sapi!’” kenang Said sembari tersenyum. (daf)

Editor : Dafir.
#megawati #MH Said Abdullah #PDI Perjuanagan