Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perjalanan MH Said Abdullah, dari Buku Sarinah ke Panggung Politik Nasional

Dafir. • Rabu, 25 Juni 2025 | 22:28 WIB
Photo
Photo

RadarMadura.id – ”Pada akhirnya, setiap orang akan dituntun oleh keyakinannya”. Ungkapan sederhana itu yang terus menemani perjalanan politik MH Said Abdullah hingga sekarang.

Politikus PDI Perjuangan asal Sumenep tersebut sudah sejak muda tertarik terjun di dunia politik. Bahkan, ketika duduk di kelas III SMA, dia sudah menjadi ketua Pemuda Demokrat-underbow PDI kala itu.

Kegairahan politik MH Said Abdullah sebenarnya tertular dari sang ayah, Abdullah Syechan Baghraf. Ayah Said Abdullah dikenal NU-Soerkarnois. Maka tak heran, dari kecil dia tumbuh di kultur NU dan nasionalis.

”Abah saya kan dikenal NU-Soekarnois. Abah saya itu pegawai PT Garam. Itu latar belakangnya,” katanya.

Sebagai pegawai PT Garam, ayah Said Abdullah melakukan perjalanan dari satu pulau ke pulau yang lain. Namun, setiap bertugas, Abdullah Syechan Baghraf tidak pernah lupa untuk membawa buku.

”Bukunya itu aneh-aneh, bukan buku ukuran seumuran saya saat itu,” kenangnya.

Berkat bahan bacaan buku sang ayah, Said Abdullah mulai penasaran. Akhirnya, pada tahun 1979–1980, dia memutuskan membaca buku milik sang ayah. ”Yang dibaca pertama kali, buku Sarinah. Itu akhir SMP,” ujarnya.

Namun, cerita dia, setiap kali mau membaca buku, sang ayah selalu memarahi tanpa ada penjelasan. ”Intinya, jangan baca buku itu. Kan kalau dilarang, tambah penasaran,” ucapnya.

Tanpa sepengetahuan sang Ayah, Said Abdullah tetap ngeyel baca buku Sarinah. Bahkan tidak berhenti di situ, buku yang lain seperti buku Bendera Revolusi jilid I dan jilid 2 selesai dibaca. Berikutnya, buku Indonesia Menggugat dan semua karya Bung Karno juga tamat dibaca.

”Itu menginjak SMA. Setiap baca buku itu, dada kita kan bergetar. Dan membuat kita terasing di dunia sekitar. Baru berlanjut baca bukunya Tan Malaka dan seterusnya,” tuturnya.

Baru setelah menginjak bangku SMA, Said Abdullah mulai bergabung ke PDI. Tentu keputusan tersebut sangat mengagetkan banyak orang, terutama orang tua. ”Di masa itu tentu keputusan ekstrem. Sebab, rumah saya itu kan kampung Arab. Adanya ya cuma Golkar dan PPP. Mayoritas ya PPP,” terangnya. (daf)

Editor : Dafir.
#said abdullah #said abdullah raih suara terbanyak #buku sarinah