PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tahun ini terdapat 16 desa dan satu kelurahan yang menjadi lokus stunting. Belasan daerah tersebut mendapat atensi pemerintah.
Belasan lokus stunting itu tersebar di enam kecamatan.
Perinciannya, lima desa di Kecamatan Tlanakan, dua desa di Kecamatan Pademawu, dua desa di Kecamatan Galis, dan satu kelurahan di Kecamatan Pamekasan.
Selain itu, lima desa di Kecamatan Proppo dan dua desa di Kecamtan Pegantenan.
”Prevalensi di belasan desa dan kelurahan itu lebih tinggi daripada prevalensi kabupaten,” kata Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (P2M) Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Pamekasan Choirul Anam.
Dia menyatakan, secara umum stunting disebabkan dua faktor. Yaitu, faktor spesifik atau langsung dan sensitif tidak langsung.
Sehingga, dalam penanganannya juga diperlukan intervensi sensitif dan spesifik.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pamekasan Munapik menegaskan, pemkab komitmen untuk menekan angka stunting.
Dengan begitu, prevalensi dan lokus stunting di Bumi Pamelingan bisa terus turun.
”Prevalensi stunting 2024 jauh di bawah target nasional dan provinsi. Kalau nasional targetnya 14 persen, khusus Jawa Timur 13 persen. Pada 2024 lalu, prevalensi Pamekasan berada di angka 2,26 persen,” pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta