Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mudik dan Berlebaran di Tanah Kelahiran

Ina Herdiyana • Selasa, 1 April 2025 | 08:00 WIB
NUR FAIZIN UNTUK JPRM
NUR FAIZIN UNTUK JPRM

Oleh NUR FAIZIN*

 

UMAT Islam di seluruh dunia segera menyudahi puasa Ramadan 1446 Hijriah. Artinya, umat Islam akan merayakan hari kemenangan yang bernama Hari Raya Idul Fitri. Di hari kemenangan ini semua sanak keluarga berkumpul di kampung halaman. Mereka yang merantau di luar kota atau luar negeri rela bercapek-capek pulang kampung kelahiran demi menuai berkah silaturahmi antarsanak keluarga.

Menjelang perayaan Idul Fitri, begitu banyak orang-orang kota pulang kampung ke desa tempatnya dilahirkan. Kita biasanya menyebutnya sebagai mudik. Kata mudik diserap dari istilah bahasa Jawa dari kata asal udik atau mulih disik (pulang dahulu). Kata ini kemudian menjadi istilah populer menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang memiliki arti pulang kampung.

Tak jelas sejak kapan tradisi mudik atau pulang kampung berlangsung. Kegiatan pulang kampung ini seakan sudah mendarah-daging bagi masyarakat Indonesia sejak dahulu, utamanya menjelang musim libur panjang atau hari raya keagamaan. Mungkin tradisi mudik ini ada di negara-negara yang lain walau berbeda istilah.

Sejak dahulu pulang kampung menjadi semacam ritus sosial yang tak boleh ditinggalkan. Dahulu orang-orang mudik dari berbagai kota ke pelosok desa dengan angkutan umum dan berdesak-desakan, kini lebih mudah dengan pelbagai pelayanan moda transportasi darat, laut, atau udara.

Kalau dahulu untuk pulang kampung dari Jakarta ke Madura misalnya, membutuhkan waktu berhari-hari, kini dengan kemudahan moda transportasi dapat ditempuh hanya setengah hari. Sebagai masyarakat modern, kita patut mensyukuri nikmat Allah SWT yang luar biasa ini.

 

Sebagai Akar

Sebagai orang kampung yang menjadi bagian dari tradisi mudik ini, saya begitu bersemangat setiap kali melakukan perjalanan. Di perjalanan, saya begitu menikmati prosesnya, mulai dari menyiapkan diri, menikmati pemandangan alam, hingga menyiapkan oleh-oleh sekadarnya untuk handai taulan di kampung halaman.

Saat di perjalanan, begitu banyak kenikmatan dan berkah yang dapat kita peroleh. Bahkan tak jarang ada saja rezeki datang tak disangka-sangka. Misalnya, tanpa sengaja bertemu dengan teman lama atau menikmati kuliner berbuka di pinggir jalan. Melalui orang yang dijumpai di perjalanan, tanpa disadari kadang kita mendapat wasilah mendapat hal-hal baik setelahnya.

Di perjalanan, kita dapat ngobrol akrab pada setiap orang. Tanpa memandang siapa kita, apa posisi kita, seberapa kecil-besar materi yang kita miliki. Di perjalanan kita sama, senasib sepenanggungan. Ada di sebuah wadah bersama, di dalam satu misi kebaikan yang sama pula.

Pada semua proses mudik ini, saya teringat salah satu sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim bahwa ”Orang mukmin itu akrab dan bersatu. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersatu dan akrab.”

Dari hadis ini kita sangat disarankan untuk saling bersatu dan akrab satu sama lainnya. Barangkali di dalam perjalanan kita dapat bersatu. Dapat lebih mudah akrab walau sama-sama belum lama kenal. Alasan sederhana, karena kita mempunyai tujuan bersama, yakni kampung halaman.

Bahwa kampung halaman adalah akar kehidupan kita. Di kampung halaman kita dilahirkan, dibesarkan, mengenal dunia dengan segala isinya, dan seterusnya. Sedari kecil kita diajarkan untuk tidak melupakan kampung halaman. Karena di kampung halaman terdapat akar kita hidup. Dialah bapak, ibu, dan tanah kelahiran.

Begitu dahsyatnya pertalian kita dengan kampung halaman yang bernama ibu. Tak salah bila penyair Celurit Emas KH D Zawawi Imron mengagungkan ibu sebagai pahlawan kehidupan kita. Katanya, ”Ibu../ Kalau aku ikut ujian/ Lalu ditanya tentang pahlawan/ Namamu, ibu yang akan kusebut paling dahulu.”

Di kampung halaman kita dapat ”ngecas” kembali pada akar kita. Dengan melihat wajah bapak, ibu, dan saudara-saudara misalnya, semangat kita lebih mudah menyala. Bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan menjadi momentum merawat akar kita. Kita yang menjadi tulang punggung keluarga dengan bersua keluarga, semangat hidup akan berlipat ganda sekembalinya nanti untuk mencari cuan di tanah rantau.

Dengan menziarahi kampung halaman, energi positif akan datang berlipat pada hidup kita. Jika kita ada permasalahan di tanah rantau misalnya, menziarahi kampung halaman seakan membuat permasalahan menjadi enteng. Solusi seakan lebih mudah didapat.

 

Menjadi Agen

Lebaran berasal dari kata lebar (Jawa; lapang). Secara epistemologis, Lebaran adalah waktu saat semua Islam telah merayakan Idul Fitri, saling silaturahmi, dan bermaaf-maafan. Mengutip dari KBBI, Lebaran merujuk pada hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan lamanya. Lebaran besar dimaknai sebagai Lebaran haji.

Lebaran di kampung halaman bukan semata momentum merayakan Idul Fitri di kampung halaman. Lebih dari itu, dengan merayakan Lebaran di kampung halaman, kita dapat menjaga nilai-nilai lokalitas dan menziarahi asal muasal.

Nilai budaya leluhur yang telah ada di kampung semestinya tetap dijaga dan dijunjung tinggi. Walaupun para perantau memiliki pola pikir terbuka misalnya, tidak serta-merta dapat ”mengatur” keadaan atau budaya yang telah tertanam di kampung halaman. Begitu pula budaya yang kurang baik di kota, sebaiknya tidak dibawa ke kampung halaman. Dua hal ini seyogianya menjadi perhatian para perantau yang saat ini melakukan pulang ke kampung halaman.

Kata tokoh sosiologi Anthony Giddens, di dalam struktur masyarakat setiap dari kita dapat menjadi agen sosial. Sebagai kaum yang berpikir, seorang perantau dapat menjadi agen perubahan yang lebih baik untuk masa depan kampung halamannya. Bukan sebaliknya menjadi agen destruktif dengan memasukkan budaya dari luar yang tidak baik dan atau meninggalkan budaya lokal yang mungkin itu lebih baik.

Marilah kita berlebaran di kampung halaman dengan penuh senyum dan ceria. Berkumpul bersama sanak keluarga dengan penuh semangat, mempererat silaturahmi, dan bermaaf-maafan lahir batin. Saat berlebaran di kampung halaman, alangkah baiknya kita dapat menjadi sumbu penebar kebahagiaan minimal untuk sanak keluarga. Lebaran di kampung halaman adalah upaya kita menyatukan hati dan bersyukur atas nikmat Allah SWT yang super maha luas ini. Selamat Idul Fitri 1446 Hijriah, maaf lahir batin untuk kita semua. (*)

*)Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor

 

Editor : Ina Herdiyana
#berlebaran bersama keluarga #lebaran #mudik #tanah kelahiran #hari raya idul fitri