PAMEKASAN, RadarMadura.id – Abdul Hadi WM merupakan seorang pembaca sejak kecil. Pada masa remaja dia suka menonton ke bioskop.
Rumahnya di pantai utara Sumenep kerap menjadi tempat berdiskusi para seniman.
Sosok Prof Dr Abdul Hadi WM tidak asing bagi publik sastra tanah air. Namun, tak sedikit pula yang bertanya siapakah dia dan bagaimana sepak terjangnya.
Abdul Hadi lahir di Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep. Sebuah desa yang konon dalam catatan sejarah menjadi salah satu pelabuhan terbesar orang-orang Tionghoa di Sumenep selain Pelabuhan Dungkek.
Ibunya bernama RA Sumartiyah, putri keturunan Mangkunegaran, Mataram, Surakarta.
Dalam banyak literatur disebutkan, garis keturunan dari sang ayah, Abu Muthar, menjadi cikal bakal peranakan Tionghoa di Pasongsongan.
Ini dibuktikan dengan rumah tinggalnya yang hingga saat ini masih kokoh berdiri dengan gaya arsitektur Tiongkok yang khas (rumah kuno).
Dalam salah satu tulisannya di media sosial, Abdul Hadi WM menyebut rumah yang kini ditinggali keluarganya dibangun sekitar 1870. Bahkan, bisa diperkirakan lebih awal dari tahun tersebut.
”Kakek saya pernah tinggal di sini. Kemudian setelah wafat, ditempati cucunya yang sulung, yaitu Pak De (paman, Red) saya. Sampai sekarang rumah ini masih terpelihara,” tulisnya 11 Februari 2021 dikutip JPRM, Kamis, 11 Agustus 2022.
Bangunan itu tepat berada di utara Jalan Abubakar Siddiq, Pasongsongan, Sumenep. Lebih kurang setengah kilometer dari Pasar Pasongsongan.
Pada dindingnya bertuliskan huruf WM, alias singkatan dari nama kakeknya, yakni Wiji Muthari.
Baca Juga: Madura Berduka, Penyair Abdul Hadi WM Meninggal Dunia
Pengamatan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), di sekeliling rumah bertuliskan huruf WM itu terbilang padat.
Namun, di kawasan yang dikenal dengan kampung peranakan itu hanya ada beberapa bangunan dengan rumah arsitektur Tionghoa. Lokasinya tepat di selatan jalan raya.
Sementara di samping kanan kirinya sudah berganti bangunan dengan arsitektur modern.
Termasuk di antaranya kantor bank dan toko modern. Tak jauh dari rumah tersebut, ada masjid dari organisasi Muhammadiyah.
Menurut cerita dari warga sekitar, K Abu Muthari merupakan pendiri pertama Muhammadiyah pada masanya.
Saat itu, organisasi yang dirintis KH Ahmad Dahlan ini di Sumenep hanya ada dua wilayah. Yakni, Pasongsongan dan Kalianget.
Satu-satunya saudara kandung Prof Hadi yang masih hidup dan menempati rumah itu adalah Amin Muthari. Dia tinggal bersama istri tercintanya, Syahadatina.
Baca Juga: Ada Sejarah yang Terputus dan Dikaburkan
Mereka didampingi dua anak kesayangannya, Yualikha Priamnia Lasmi Muthari dan Farid Iqbal Maulana Muthari.
”Selain itu, ya, ada keponakan dan lainnya. Tapi tinggal di rumah yang berbeda,” terang pria berusia 75 tahun itu.
Amin membenarkan, bahwa Prof Hadi gemar terhadap kesenian sejak kecil. Bahkan, sajak-sajak yang ditulisnya serta buku-buku koleksinya masih utuh di rumah itu. Mulai dari buku-buku sastra, filsafat, dan agama.
”Lengkap, saya simpan. Dan, saya bersihkan setiap tahun. Tapi, memang tidak saya pajang di dinding,” ungkapnya.
Tidak hanya itu. Kenangan yang juga diingat Amin adalah banyaknya seniman dan sastrawan yang selalu berkumpul di rumahnya.
Baca Juga: Sejarawan, Budayawan, dan Fotografer Edhi Setiawan di Mata Keluarga
Mulai dari D. Zawawi Imron, Syaf Anton WR, hingga Ahmad Nurullah, penulis buku kumpulan puisi Setelah Hari Keenam.
”Di sini memang kerap menjadi tempat kongko, diskusi, dan ngopi para seniman. Itu dulu, dan saya masih ingat betul,” tambahnya.
Selain sastra dan melukis, kesenangan Prof Hadi adalah menonton film. Khususnya di bioskop.
Kesenangan itu diketahui ketika masih menempuh pendidikan di Surabaya. Bahkan, nyaris setiap hari.
”Saya selalu senang menonton ke bioskop. Dulu, waktu masih sekolah SMA,” kenang pria yang hingga kini masih setia berlangganan koran Jawa Pos itu.
Menurut Amin, sejujurnya Prof Hadi selalu merasa kangen dan ingin dekat dengan tanah kelahiran. Hal itu didengarnya ketika menerima telepon dari sang kakak.
Bahkan, kepulangannya tempo hari sangat memberi kegembiraan tersendiri.
”Dia selalu ingin dekat dengan keluarga-keluarganya, dengan tanah kelahirannya,” tutur Amin. (di/luq)
Dari redaksi:
Berita di atas kali pertama terbit edisi Sabtu, 13 Agustus 2022 dengan judul Rumahnya Jadi Tempat Kongkow, Diskusi, dan Ngopi Seniman.
Editor : Fatmasari Margaretta