RadarMadura.id – Untuk mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di Surabaya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana membangun infrastruktur jalan bawah tanah atau underpass di kawasan Taman Pelangi.
Proyek ini sudah memasuki tahap awal dengan melakukan survei lokasi pada Kamis (4/1).
Survei lokasi ini melibatkan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya sebagai koordinator proyek.
Serta beberapa instansi terkait seperti dinas sumber daya air dan bina marga (DSDABM), dan dinas lingkungan hidup (DLH).
Selain itu, ada perwakilan dari kecamatan dan kelurahan yang wilayahnya terdampak proyek.
Menurut Kabid Pengadaan Tanah dan Penyelenggaraan Prasarana Sarana Utilitas DPRKPP Kota Surabaya Farhan Sanjaya, survei lokasi bertujuan untuk mengecek beberapa hal penting sebelum proyek dimulai.
Pertama, menentukan tanah warga yang harus dibebaskan dan menghitung nilai ganti ruginya.
"Nanti mekanismenya akan dibeli lewat appraisal," kata Farhan Sanjaya seperti dikutip Radar Surabaya (JawaPos Group), Jumat (12/1) 2024.
Kedua, memastikan jumlah dan luas persil tanah yang akan dibeli. "Berdasar informasi awal, total ada 22 persil yang akan dibeli pemkot. Tapi akan kami pastikan juga total luasnya berapa," ujarnya.
Ketiga, menyelaraskan desain underpass yang sudah dibuat oleh DSDABM dan DLH. Pasalnya, lokasi proyek ini berdekatan dengan taman yang dikelola oleh DLH.
Farhan Sanjaya juga mengungkapkan bahwa anggaran yang disiapkan untuk proyek ini sangat besar, yaitu sebesar Rp 200 miliar.
Dari jumlah tersebut, Rp 81 miliar dialokasikan untuk pembebasan lahan yang bersumber dari APBD. Sedangkan sisanya, didanai oleh pemerintah pusat.
"Pengerjaan underpass didanai pemerintah pusat. Total anggarannya mencapai Rp 200 miliar," tuturnya.
Namun, ia belum bisa menjelaskan secara rinci tentang pembagian pembiayaan proyek ini. Ia belum tahu apakah Pemkot akan mengelola seluruh anggaran atau hanya sebagian saja.
Yang pasti, Pemkot harus menyiapkan lahan terlebih dulu sebelum proyek underpass Taman Pelangi dimulai. (fadila)
Editor : Ina Herdiyana