JAKARTA, RadarMadura.id - Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka datang di Kopdarnas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) selaku kepala daerah yang dianggap sukses. Sebagai kader PDI Perjuangan Mas Gibran, sapaan akrab Gibran Rakabuming Raka sangat tahu fatsun politik. Dalam paparannya, Mas Gibran malah menyatakan bahwa PSI banyak kader muda yang gigih dalam politik. Namun Mas Gibran juga membandingkan bahwa di PDI Perjuangan malah lebih banyak lagi kader muda yang hebat lagi dalam politik.
Atas kedatangan Mas Gibran ke Kopdarnas PSI ini mendapat tanggapan Ketua DPP PDI Perjuangan MH. Said Abdullah. Dia melihat di acara itu Mas Gibran lebih banyak memosisikan diri sebagai pihak yang sedang memberikan sharing session, dan memberi apreasiasi karena PSI saat itu menjadi bagian dari pendukung kontestasinya saat running pada Pilwali di Surakarta.
"Bagi kami itu baik-baik saja, artinya kapasitas dan integritas Mas Gibran sebagai kader PDI Perjuangan diakui oleh partai lain. Pada saat yang sama Mas Gibran juga membawa semangat persatuan kepada segenap pihak," terang Said yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim itu.
Oleh sebab itu kedatangan Mas Gibran ke berbagai acara partai politik selain PDI Perjuangan pihaknya memaknai sebagai cara kepemimpinan yang supel, mudah bergaul, dan merangkul banyak pihak. Model kepemimpinan seperti inilah yang bisa menjadi teladan, dan cerminan kepemimpinan dibutuhkan di masa depan. Khususnya dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin tidak mudah. Sebab dengan persatuan, itulah modal dasar terbangunnya kerja gotong-royong sebagai jiwa penting Pancasila.
Baca Juga: Said Abdullah: Penting Menjaga Tutur Kata
Pada penyampaiannya, Mas Gibran juga mengajak anak-anak muda untuk tidak alergi politik. Menurut politisi senior itu, Mas Gibran mengajak anak-anak muda berpartisipasi semakin banyak pada ranah politik. Ajakan ini tentu makin baik bagi tumbuhnya demokrasi ke depan.
Semakin banyak generasi masa depan peduli terhadap politik, tentu memberi harapan baik bagi kualitas pemilih dan yang dipilih karena dengan peduli mengandaikan tuntutan literasi politik makin baik. Bagi politisi asal Pulau Garam itu, peduli sangat berbeda dengan mobilisasi. Mobilisasi sekedar dihadirkan tanpa tahu maksud dan tujuan sebenarnya, mobilisasi cenderung pragmatis. Sedangkan kepedulian mensyaratkan kematangan politik yang kian berkualitas.
"Saya justru menyayangkan panitia Kopdarnas PSI yang tidak mengerti etika politik. Mereka sudah sangat paham bahwa Mas Gibran adalah kader PDI Perjuangan, lantas kenapa panitia Kopdarnas PSI memakaikan seragam PSI yang nota bene Mas Gibran bukan kader PSI. Hal ini tentu tidak elok. Sekali lagi saya hormat kepada Mas Gibran yang menolak memakai seragam partai lain, sekaligus menghargai Ketum PSI yang justru memakai etika politik, bahwa mas Gibran adalah kader PDI Perjuangan," tegas Said yang juga Ketua Banggar DPR RI itu. (*/dry)