KITA saat ini tengah memasuki bulan Rajab. Rajab adalah satu di antara bulan mulia (al-asyhur al-hurum) dalam kepercayaan umat Islam. Di bulan ketujuh pada kalender Hijriah ini kita disunahkan untuk berpuasa. Puasa di bulan Rajab diutamakan pada ayyamul bidh atau pertengahan bulan. Lantas kenapa Rajab oleh Islam diletakkan sebagai salah satu bulan mulia?
Hal yang yang paling istimewa pada bulan Rajab adalah peristiwa perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini kita kenal dengan peringatan Isra dan Mikraj. Peringatan Isra Mikraj kita lewati pada Sabtu, 18 Februari 2023 kemarin. Peristiwa Isra dan Mikraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Peristiwa spiritual ini menunjukkan Islam sebagai agama masa lalu hingga masa depan. Betapa Nabi Muhammad SAW ditunjukkan langsung oleh Allah SWT atas berbagai kejadian di yaumulhisab, berbagai kejadian di surga dan neraka sebagai bentuk hari pembalasan atas seluruh amalan kita di dunia ini. Isra Mikraj sesungguhnya meletakkan manusia memiliki keterbatasan meskipun telah mengalami lompatan ilmu pengetahuan.
Ukuran tercepat yang menjadi patokan kecepatan saat ini adalah kecepatan cahaya, yang mencapai 300 ribu kilometer per detik. Tiada materi di bumi ini yang sanggup menahan tekanan masa kecepatan secepat kecepatan cahaya. Padahal Rasulullah sebagai manusia memiliki jasmani, dan perjalanan Isra Mikraj badaniah Nabi ikut serta. Kalaupun toh ditemukan teknologi yang mampu melindungi materi badaniah untuk bisa melaju kecepatan cahaya, maka kecepatan itu pun belum cukup untuk menjangkau jarak perjalanan nabi saat Isra Mikraj.
Jika memakai asumsi ini, bahwa waktu perjalanan Rasulullah yang hampir semalaman atau sekitar 8 jam, dengan menggunakan kecepatan cahaya, maka Rasulullah belum keluar dari batas tata surya kita. Padahal dijelaskan, dalam perjalanan Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW telah melampaui langit ketujuh, sebagai ilustrasi tidak terhingganya alam semesta.
Hal ini menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan manusia masihlah sangat terbatas. Kalaupun ilmu manusia kita ilustrasikan sebagai butiran debu pun masihlah terlalu besar. Pengetahuan manusia terlalu amat sangat kecil dibandingkan kemahakuasaan ilmunya Allah. Seperti disebutkan di asmaulhusna, Allah disebut Maha Berilmu (Al Alim).
Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj bukanlah perjalanan dalam ruang dan waktu, yang kemudian kita ukur dengan kecepatan, serta durasinya. Kita hanya bisa menduga, peristiwa ini adalah perjalanan melintasi ruang dan waktu, perjalanan melintasi dimensi. Akal manusia belum bisa menjelaskan dengan hitungan scientific secara terperinci. Sehingga, tiada hal yang patut disombongkan oleh manusia, apalagi di hadapan Allah SWT.
Perayaan
Karena keterbatasan akal manusia untuk bisa memaknai semua hal secara scientific, maka manusia menggantinya dengan berbagai ritual dan ekspresi budaya, demikian pula terhadap Isra Mikraj. Manifestasi ritual dan kultural ini menandakan manusia amatlah tergantung, membutuhkan tempat bersandar dalam segala kelemahannya. Islam mengajarkan hanya Allah SWT tempat bersandar.
Sedangkan ekspresi kultural, adalah manifestasi antropologis, yakni manusia butuh perayaan bersama-sama sebagai wujud rasa syukur walau serba terbatas. Perintah puasa sunah dalam bulan Rajab, seolah Allah SWT menyindir kita, ”Hei manusia, ingatlah peristiwa ini, dan kamu belumlah apa-apa dan bukan siapa-siapa dibandingkan dengan spektakulernya Isra Mikraj, dan rendah hatilah”.
Beragam kegiatan kultural diekspresikan di berbagai tempat untuk menandai Isra Mikraj. Di beberapa desa di Madiun menggelar seni gembrungan untuk merayakan Isra Mikraj. Di Jogjakarta dilaksanakan rejeban peksi buraq, di Cirebon rejeban, dan nganggung di Bangka Belitung serta ambengan di banyak desa-desa di Jawa, semuanya berbagi dan menikmati makanan bersama-sama.
Demikian halnya dengan orang-orang Madura di berbagai belahan tempat merayakan Isra Mikraj. Orang-orang Madura di Banyuwangi setiap awal Rajab merayakannya dengan bersama-sama menembangkan Serat Mikraj. Tradisi membaca bersama-sama semalaman Serat Mikraj ini ditujukan untuk selalu merawat ingatan kolektif warga tentang peristiwa Isra Mikraj. Serat ini mengisahkan perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Tradisi kompolan mamaca (kumpulan membaca) juga dilakukan oleh orang-orang Madura di Situbondo dalam peringatan Isra Mikraj. Kompolan mamaca adalah kreasi orang-orang Madura dengan meniru macapatan Jawa. Macapatan Jawa diinisiasi oleh Wali Sanga dalam menyiarkan Islam di Jawa. Kompolan mamaca Isra Mikraj dilakukan di Situbondo untuk mengajarkan peristiwa Isra Mikraj kepada para generasi muda agar mudah menceritakan peristiwa itu kepada mereka.
Tradisi Isra Mikraj di Madura sangat semarak. Sudah mafhum bila peringatan Isra Mikraj ditandai dengan pengajian di mana-mana, terlebih lagi di Madura yang menjadi basis santri di Jawa Timur. Namun ada yang unik, di beberapa tempat seperti di Bangkalan, peringatan Isra Mikraj dibarengi dengan haul ulama-ulama setempat yang telah meninggal dunia. Selepas pengajian yang mengulas tentang Isra Mikraj, dilanjutkan dengan yasinan, tahlilan, dan selawatan hingga tengah malam.
Sangatlah terlihat, betapa Islam dan lokalitas saling tumbuh dan memberi warna bersama. Bagaimana Islam diletakkan oleh para ulama dulu dalam khazanah budaya Nusantara yang beragam, sehingga penerimaan Islam dalam bentuk budaya di masing masing tempat juga berbeda-beda tanpa meruntuhkan fondasi utama Islam. (*)
)*Anggota DPR RI, Wakil PDI Perjuangan dari Madura Editor : Abdul Basri