Yang menjadi fokus ialah peningkatan infrastruktur di setiap dusun. Inovasi dari pertanian dan penerangan jalan umum (PJU) antardusun. Desa Batah Timur memiliki lima dusun. Di antaranya, Dusun Gading, Blatir, Batah, Kwanyar, dan Kotalon.
Slamet Riyadi membenarkan dirinya baru menjabat. Namun demi mengembangkan serta memajukan desa yang dipimpinnya, pihaknya fokus pada peningkatan infrastruktur dan pertanian. Sebab, ketika infrastruktur bagus, perekonomian di desa juga akan meningkat.
”Tahun ini kami hanya membangun TPT (tembok penahan tanah). Pekerjaan sudah 90 persen. Panjangnya 400 meter lebih,” katanya saat diwawancarai Senin (4/7).
Dalam pembangunan TPT, pihaknya memperlebar bahu jalan supaya saat ada kendaraan roda empat atau lebih melintas bisa berpapasan. Mengapa tahun ini pekerjaan hanya satu? Sebab, anggaran cukup untuk satu pekerjaan saja.
”Beberapa persen dari dana desa (DD) dialokasikan pada BLT (bantuan langsung tunai),” ungkapnya.
Slamet menjelaskan, pengerjaan pembangunan TPT di kanan kiri jalan. Lokasinya di dua dusun. Lokasi pekerjaan kanan jalan di Dusun Blater dan lokasi kiri jalan di Dusun Gadin. Pihaknya memang ingin mendahulukan prasarana transportasi.
”Supaya masyarakat nyaman melewati akses antardusun. Dan ketika akses transportasi nyaman, perekonomian warga semakin meningkat pula,” paparnya.
Selain fokus pada peningkatan infrastruktur, Slamet ingin berinovasi. Yakni, dari lahan pertanian. Pihaknya ingin menanam pisang dan alpukat. Dengan begitu, masyarakat Desa Batah Timur tidak hanya fokus pada pertanian seperti padi, jagung, dan cabai.
”Saya akan mencoba budi daya pisang agar masyarakat atau petani bisa meniru. Sebab, hasil musdes (musawarah desa), usulan warga ya tanaman pisang dan alpukat ini,” terangnya.
Melihat lahan di Desa Batah Timur, lahan yang dikelola petani merupakan ladang, bukan persawahan. Jadi, sangat cocok untuk tanaman pisang dan alpukat sehingga dari hasil pertanian bisa dijual dan diproduksi. ”Dari hasil pertanian jagung, warga membuat marning. Nah, marning ini sudah tembus ke luar negeri.
Bahkan, ada kerupuk rajungan asli Desa Batah Timur. Bahannya memang rajungan. Pabrik untuk produksi sudah ada. Saat pandemi, aktivitas masyarakat terbatas, produksi berhenti. Untuk itu, pihaknya berharap kerupuk rajungan bisa diproduksi kembali.
”Kalau pemasarannya alhamdulillah banyak permintaan. Rasanya memang lain dan jarang ditemui,” tandasnya. (rul/onk) Editor : Administrator