Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Belajar Aoleng dari Vokalis Akhirat

Abdul Basri • Minggu, 21 Januari 2018 | 11:32 WIB
Belajar Aoleng dari Vokalis Akhirat
Belajar Aoleng dari Vokalis Akhirat

ISTILAH aoleng memiliki makna menarik. Secara lughawi, istilah ini terasa asing dalam perbincangan orang-orang Sumenep sampai seseorang memopulerkan di masyarakat melalui cara tak lazim. Aoleng memang ada dalam perbendaharaan orang Madura. Tapi penggunaannya tak semasif dengan pettengngen, palengngen, apoter, bingong, apeddel atau istilah lain yang sejenis.


Sesuai makna kultural, aoleng memiliki beberapa makna, yaitu berputar dan kepala yang pusing, bingung atau ruwet. Aoleng disampaikan melalui atraksi nyanyian tengah malam di Taman Bunga, berputar keliling kota dan ceramah agama sporadis oleh seseorang yang dianggap tak waras. Semiotika sosialnya menarik karena memiliki isyarat akan kebingungan yang melanda diri orang-orang modern masa kini akan hidup dan eksistensi kehidupannya. Sang pembawa istilah aoleng itu juga membumbui dengan romantika religius, ”Aoleng ka Allah” dan ”Vokalis Akhirat”.


Tak hanya menyiratkan kebingungan dan ruwet sebagai isyarat kejiwaan orang-orang modern, aoleng juga diajarkan seseorang yang tersirat seperti orang gila atau helap. Meski tak ada indikasi bahwa sang pembawa istilah aoleng adalah orang gila. Sepengamatan penulis, sang ”vokalis akhirat” itu tak pernah telat salat Subuh. Sebuah riwayat menyatakan (entah benar atau tidak), sang ”vokalis akhirat” yang identik dengan istilah aoleng itu adalah murid Gung Tayyib, seorang Wali Jadzab dari barat kota yang juga santri Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih Malang.


Semiotika aoleng menjadi menarik jika dalam hidup seseorang mengalami aoleng karena rumitnya kehidupan. Sang vokalis akhirat menyarankan agar aoleng-nya itu dibawa saja kepada Allah. Meski dicap tak waras, sang vokalis telah membawa aoleng ke dalam makna yang disebut Derrida sebagai l’impense (yang tak terpikirkan).


Almarhum Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam kitabnya, Anta Tas’alu wal Islaamu Yujiibu pernah mendapat pertanyaan, mengapa harus ada orang gila dalam kehidupan manusia. Lalu, ulama besar Mesir itu menjawab, bahwa gila itu sebenarnya kenikmatan tersendiri. Orang gila tidak pernah takut berbicara tentang hal-hal yang benar, meski besar sekali risikonya. Orang gila tak bisa dituntut atas perkataannya sebagaimana orang gila juga bebas dari tuntutan akhirat. Dalam kehidupan dunia, pena Raqib Atid diangkat dari orang gila.


Maka kritik sosial aoleng yang disampaikan orang-orang gila sebenarnya memiliki konsekuensi itu. Penulis ingat, bagaimana sang vokalis akhirat itu dengan santai ”berceramah” di tengah keramaian kota, mengkritik fenomena sosial sejak hamil di luar nikah, perselingkuhan, kiai amplop sampai para pejabat korup.


Sang vokalis itu menggebyarkan istilah-istilah saru sejak ngeco’ paraban sampai bungkella pokang.  Bagi orang waras, hal itu sangat tabu, tapi tidak bagi orang yang dicap gila. Tanpa beban, ungkapan-ungkapan itu bisa diutarakan bahkan di ruang bebas. Aoleng tiba-tiba memiliki maknanya sendiri. Aoleng tiba-tiba menginfiltrasi wilayah di luar pakem dari makna pusing dan bingung itu sendiri. Aoleng masuk dalam dunia kritisisme yang meluas tanpa sempat dipenetrasi wilayah norma positif.


Orang-orang gila adalah orang yang steril dari kekuasaan, pangkat, dan harga diri. Orang gila tampil dengan keunikannya sendiri. Todhus dan malo diangkat dari orang-orang gila. Orang gila yang telah steril akalnya merupakan sejenis sindiran bagi manusia yang berakal tapi juga tak punya todhus dan malo. Benar kata Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi, berkaitan dengan akal, manusia itu terbagi dua. Ada manusia yang bisa menggunakan akalnya untuk kebaikan dan ada yang menggunakan akalnya untuk kejahatan.


Dalam kaitan dengan pikiran, akal menurut Syekh Mutawalli merupakan iqalul baiir (ikatan untuk mengikat unta agar tidak lepas). Makna denotatifnya adalah akal harus diikat dengan akhlak dan hukum positif agar tidak lepas dari kebaikan.


Ruwetnya kehidupan yang membuat seseorang menjadi aoleng sebenarnya telah diikat ke dalam jalan yang benar melalui filosofi aoleng ka Allah. Rumit dan sumpeknya hidup diajak agar kembali ke jalan akhlak. Si vokalis akhirat yang dicap tak waras itu dengan demikian telah menjalankan satu filosofi khas yang tak pernah terlintas dalam pikiran kulturalisme orang-orang Madura kekinian. Jika orang Madura ingin mengubah sesuatu yang negatif biasanya menggunakan kalimat antonim yang positif.


Contoh, jika sompek (sumpek) maka kodu pajembar. Kalau salbut kodu patartep. Kalau bengkok (bilu’) harus paloros. Tapi, dalam filosofi aoleng, jika seseorang ruwet, maka tetaplah dalam keruwetan itu namun dibawa ke hadapan Allah. Sang vokalis akhirat telah mengikatkan akal yang sedang ruwet pada akhlak kepada Allah. Dengan demikian sang vokalis akhirat itu telah menjalankan filosofi Iqalul Baiir seperti yang disebut Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi itu.


Terdapat pula gaya paradoks dalam logika aoleng. Pada mulanya aoleng itu berada pada kondisi negatif, namun kemudian dibawa ke ranah positif. Gaya bahasa paradoks ini mirip dengan doa Ibrahim dalam Surat Ibrahim ayat 37 ketika Ibrahim menginginkan Makkah yang saat itu dalam faktanya gersang tandus tanpa buah-buahan namun didoakan Ibrahim agar menghasilkan rezeki buah-buahan. Begitu pun aoleng yang pada asalnya bermakna ruwet dan bingung, namun diarahkan agar kebingungannya itu menuju ketenangan. Aoleng kepada Allah  akan menghasilkan jembhar dan tak lagi kalut. Dengan demikian ada ”kewarasan doa” dalam filosofi aoleng.


Apakah sang vokalis akhirat itu seorang keyae (kiai)? Saya tak tahu. Tapi masyarakat memanggilnya dengan sebutan ke (ki). Seandainya julukan ke itu adalah keyae, maka itu sebenarnya bisa diabsahkan secara kultural.


Kiai menurut Kiai Abdullah Faqih memiliki makna dua, yaitu man balagha rutbatal fadli (orang alim dan mengamalkan kealimannya baik pada dirinya sendiri maupun pada masyarakat). Makna kedua adalah man balagha sinnal arbain (yaitu orang yang memiliki kelebihan dalam hal pengobatan, atau orang yang sudah lanjut usianya atau orang yang hanya memiliki kelebihan berbicara).


Seandainya sang vokalis akhirat itu bukanlah orang alim pada makna pertama, paling tidak dia berada pada makna kedua, yaitu keyae sebagai orang pandai berbicara atau pandai mengobati. Mengobati apa? Tentu saja mengobati hati dan akal kita yang mungkin tak lagi aoleng ka Allah.


Mungkin dia sedang melakukan terapi pada hati dan akal kita yang tak lagi punya malo dan todhus dalam melakukan ketidakjujuran. Sekali-kali kita memang harus belajar kepada ”ajaran waras” dari orang-orang yang ”tak waras”.



*)Alumnus Hubungan Internasional FISIP Unej.

Editor : Abdul Basri