Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kadus Aniaya Pak Haji hingga Tewas

Abdul Basri • Selasa, 5 September 2017 | 04:23 WIB
Photo
Photo

SAMPANG – Perilaku main hakim sendiri terjadi di Sampang. Tindakan anarkistis tersebut menewaskan H. Abdul Fatah, 85, warga Dusun Betes, Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Sampang. Pemicunya sepele. Yakni, korban dituduh memiliki ilmu santet oleh Sudi, 40, kepala dusun (Kadus) setempat.


Insiden yang mengakibatkan nyawa H. Abdul Fatah melayang itu terjadi pada Minggu (3/9) sekitar pukul 20.00. Kronologinya, sekitar pukul 19.00, Kadus bersama sembilan orang mendatangi rumah korban. Maksud kedatangan, Kadus memaksa korban mengobati Marhamah, istri Kadus, yang sakit karena diduga telah diguna-guna.


Saat kembali ke rumah, Kadus mendapati istri tercintanya sudah meninggal. Mengetahui hal tersebut, Kadus emosi dan menganiaya korban menggunakan sebilah celurit. Akibatnya, korban meninggal.


”Korban ditemani anaknya (Nur Hasan, 45, Red) ketika dipaksa mengobati istri pelaku,” kata Kasatreskrim Polres Sampang AKP Hery Kusnanto kemarin (4/9). Atas amukan yang membabi buta itu, H. Abdul Fatah mengalami luka di punggung atas, pinggang, dan gelang kaki sebelah kiri.


Sedangkan anak Nur Hasan mengalami luka bacok di tangan kiri hampir putus. ”Kami masih mendalami penyidikan. Pelaku sudah kami amankan malam itu juga,” imbuh perwira pertama berpangkat tiga balok emas di pundaknya itu mewakili Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar.


Hery menjelaskan, H. Abdul Fatah biasa dimintai bantuan ketika ada orang sakit. Warga sekitar memercayai korban bisa mengobati segala jenis penyakit. Sebelum istri meninggal, Sudi selalu bermimpi wajah H. Abdul Fatah.


Sementara itu, Nur Hasan yang hingga saat ini terbaring di RSUD mengaku, orang tuanya (H. Abdul Fatah) dipaksa mendatangi rumah Kadus. Setiba di rumah Kadus, Marhamah meninggal. ”Pada saat itu, saya dan abah dikeroyok. Orang tua saya dituduh memiliki santet,” tuturnya.


Nur Hasan mengakui, Sudi membabi buta menyabetkan celuritnya kepada H. Abdul Fatah. ”Lebih dari satu orang yang mengeroyok. Saya belum jelas berapa banyak. Yang jelas, kelihatan memang Sudi,” pungkasnya.



Editor : Abdul Basri