SURABAYA, RadarMadura.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar The 4th Trunojoyo Madura International Conference (TMIC-4) 2026, Kamis (8/10).
Kegiatan yang berlangsung di Oakwood Hotel & Residence Surabaya tersebut digelar secara luring dan daring melalui Zoom Meeting. Konferensi mengusung tema “Bridging Heritage and Innovation for a Sustainable Future”.
TMIC-4 menjadi forum akademik yang mempertemukan dosen, peneliti, praktisi, dan mahasiswa untuk berbagi gagasan, hasil penelitian, serta perspektif mengenai berbagai isu dan perkembangan terkini di bidang keilmuan.
Konferensi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperluas wawasan, memperkuat jejaring akademik, mendorong kolaborasi, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Ketua Pelaksana TMIC-4 Uswatun Hasanah mengatakan, konferensi internasional tersebut dirancang sebagai wadah pertukaran pengetahuan sekaligus penguatan jejaring akademik lintas institusi dan negara.
”TMIC-4 diharapkan dapat memperluas wawasan para peserta, memperkuat jejaring akademik, mendorong kolaborasi, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat,” ujarnya.
Pelaksanaan TMIC-4 2026 diikuti 230 peserta. Sebanyak 170 peserta hadir secara langsung, sedangkan 60 peserta mengikuti konferensi secara daring. Panitia juga menerima 230 full paper dari berbagai perguruan tinggi dan institusi di Indonesia maupun sejumlah negara, di antaranya India, Malaysia, dan Thailand.
Rangkaian kegiatan TMIC-4 meliputi upacara pembukaan, keynote speech, presentasi makalah, diskusi panel, serta berbagai agenda akademik lainnya. Sejumlah akademisi dari dalam dan luar negeri turut hadir sebagai keynote speaker, di antaranya Prof. Dr. Prapaporn Rajsiriruch asal Thailand, Prof. Dr. Selamah Binti Maamor dari Malaysia, Puji Lestari, S.P., M.Si., Ph.D., Prof. Insafitri, serta Assoc. Prof. Iqbal Nurul Azhar, Ph.D.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Badri Munir Sukoco dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun keterkaitan antara pengetahuan lokal, riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk mengadopsi perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan inovasi tetap berlandaskan nilai sosial, etika, dan tanggung jawab. Perkembangan kecerdasan artifisial dan teknologi digital, perubahan demografi, dinamika pasar kerja, serta tantangan perubahan iklim menjadi bagian dari konteks yang perlu direspons melalui penguatan peran perguruan tinggi.
Konteks Madura, lanjutnya, memiliki kekayaan sejarah, budaya, sistem pengetahuan lokal, tradisi maritim, dan nilai-nilai perdagangan yang dapat menjadi aset pengetahuan penting apabila didokumentasikan, dikaji, dan dihubungkan dengan penelitian ilmiah.
”Pengetahuan lokal dapat menjadi titik awal menuju penelitian ilmiah, pengetahuan baru, inovasi, dan solusi yang berkelanjutan,” paparnya.
Dia juga menekankan tiga peran penting universitas, yakni sebagai pembina talenta, pusat pengetahuan dan inovasi, serta pusat kolaborasi yang mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, terdapat enam koneksi yang menjadi perhatian, yaitu warisan dengan teknologi, kearifan dengan pengetahuan global, penelitian dengan penerapan, teknologi digital dengan nilai kemanusiaan, universitas dengan masyarakat, serta Indonesia dengan kolaborasi global.
TMIC-4 juga menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam menjawab berbagai persoalan nyata. Konferensi menghadirkan beragam bidang, mulai dari kecerdasan artifisial dan teknologi, pertanian, kelautan, kesehatan, bisnis, pendidikan, humaniora, pemerintahan, hingga kearifan lokal.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena berbagai persoalan masyarakat tidak berdiri sendiri dalam batas-batas disiplin ilmu. Kesehatan, kesejahteraan, transformasi digital, dan pembangunan berkelanjutan membutuhkan korelasi berbagai perspektif dan kompetensi.
Internasionalisasi perguruan tinggi juga ditekankan sebagai proses dua arah. Kekuatan lokal dapat menjadi sumber pengetahuan bagi dunia, sementara pengetahuan dan jejaring global dapat diterjemahkan menjadi solusi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat lokal.
Wakil Rektor Bidang Akademik UTM Prof. Dr. Achmad Amzeri menyampaikan, konferensi internasional dapat menjadi sarana penting untuk berbagi ide, memperoleh wawasan baru, membangun jejaring, serta memperkuat kolaborasi penelitian antara universitas dari berbagai negara.
Dia berharap TMIC-4 tidak berhenti pada pelaksanaan konferensi, tetapi dilanjutkan melalui kerja sama penelitian, penulisan ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, dan berbagai bentuk kolaborasi akademik lainnya.
Menurutnya, tema “Bridging Heritage and Innovation for a Sustainable Future” sangat relevan dengan tantangan saat ini. Warisan pengetahuan dan teknologi perlu terus dikembangkan dengan tetap mempertahankan nilai, potensi budaya, serta komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat. (za/bil)
Editor : Anis Billah