PULAU Madura adalah salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Produksi tembakau mencapai puluhan ribu ton setiap tahun. Tidak hanya itu, Madura termasuk salah satu penghasil tembakau dengan kualitas terbaik dan termahal di Indonesia.
Selain keunggulan jumlah, Madura juga memiliki banyak varietas tembakau. Di Sumenep, terdapat tembakau campalok, prancak 95, malate tompang, cangkreng, dan kastore. Namun, pada umumnya, petani lebih suka menanam bibit prancak 95.
”Karena bibit prancak 95 cocok di mana saja, bisa dataran tinggi maupun dataran rendah,” pungkasnya.
Berbagai jenis lahan memang bisa ditanami tembakau. Mulai dari lahan pegunungan, tegal ataupun sawah. Namun, mayoritas petani lebih memilih menanam di lahan dataran tinggi atau pegunungan serta tegalan.
Menanam tembakau di dataran tinggi hasil panennya lebih bagus. Daun yang dihasilkan lebih padat saat dirajang serta tidak mudah keropos. Hal itu karena kadar airnya lebih sedikit dibanding tembakau yang ditanam di sawah.
”Memang bisa ditanam di mana saja. Tapi, kualitas tembakau bibit varietas apa pun lebih bagus jika ditanam di tegal dan gunung, bukan di sawah,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep Chainur Rasyid.
Kualitas tembakau di Kabupaten Pamekasan juga tidak kalah. Selama ini dikenal baik dan diminati industri. Asal, pengelolaan lahan dilakukan dengan baik. ”Kuncinya ada pada perawatan. Kalau petani konsisten, hasilnya bisa lebih bagus,” kata Plt Kepala DKPP Pamekasan Indah Kurnia Sulistiorini.
Kabid Sarana Pertanian Disperta KP Sampang Nurdin mengatakan, pihaknya sudah menyarankan pada petani untuk menanam jenis prancak T1 yang merupakan turunan jenis prancak 95. Tapi, fakta di lapangan, masih banyak yang menanam secara tidak serius.
”Dari banyak jenis bibit tembakau seperti cangkreng, malateh tompang, dan sebagainya, kebanyakan yang banyak ditanam oleh petani yakni jenis malateh tompang,” bebernya.
Nurdin mengakui, tidak semua petani mengikuti saran dari instansinya dalam pemilihan bibit. Penyebabnya, karena situasi pasar (pembeli/pabrikan). Para pembeli tidak memberikan harga khusus untuk jenis tembakau yang dinilai lebih baik, seperti prancak 1.
”Sehingga, petani tidak memperhatikan dalam memilih bibit tembakau. Padahal bibit prancak 1 merupakan bibit tembakau asli dari Madura,” ujarnya.
Semestinya pabrikan memberikan apresiasi kepada petani yang menanam jenis tembakau bagus, yakni dengan harga yang lebih mahal. Dengan demikian, saat awal tanam, petani akan memilih bibit unggul.
Meski tergolong baru, petani di Kabupaten Bangkalan juga mulai antusias menanam tembakau. Sebagaimana disampaikan Muyassir Isma’il, ketua Poktan Teppa' Wijaya. Luasan tanam tembakau di wilayahnya meningkat.
Adapun terkait varietas atau jenis tembakau yang dikembangkan di Dusun Lantong cukup beragam. Belum ada varietas unggulan tertentu yang benar-benar dikembangkan di kabupaten ujung barat Pulau Madura tersebut.
Ada lima jenis tembakau yang ditanam petani. Yakni, prancak 95, malate tompang, opor, cangkreng dan manila. Lima varietas itu jika dipadukan akan menghasilkan rajangan yang baik. Baik dari segi berat, warna, aroma, hingga tekstur.
”Nunggu lima tahun untuk mengetahui tanah di sini cocoknya untuk bibit varietas apa. Jadi kami belum bisa menentukan tahun ini,” jelasnya. (iqb/afg/bai/lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti