PAMEKASAN, RadarMadura.id – Memancing punya cara tersendiri untuk membuat orang betah. Bukan sekadar soal ikan yang berhasil didaratkan, tetapi juga sensasi saat menunggu sambaran.
Bagi Mohammad Ali Zadid Taqwa, sensasi itu sudah dirasakan sejak masih duduk di kelas IV sekolah dasar. Saat itu dia diajak pamannya yang memang memiliki hobi memancing ke laut.
”Waktu itu belum terpikir kalau bakal jadi hobi sampai sekarang. Ternyata, setelah mencoba, sensasinya memang bikin ingin terus kembali,” ungkap pria asal Kecamatan Waru, Pamekasan, itu.
Sejak pengalaman tersebut, memancing di laut terus menjadi hobinya. Joran pancing seolah menjadi teman yang selalu membawanya kembali menikmati suasana di tengah laut.
”Dari pengalaman pertama itu malah jadi ketagihan. Sampai sekarang masih terus mancing kalau ada kesempatan. Tentunya, dengan tidak meninggalkan pekerjaan sehari-hari,” ujarnya.
Petualangan Ali untuk menaklukkan ikan tidak berhenti di perairan Madura. Pria 32 tahun itu bahkan pernah menjajal sejumlah spot di wilayah perairan Pasuruan, Probolinggo, dan Banyuwangi.
Laut Selatan Malang juga pernah menjadi tujuannya. Sendang Biru hingga Lenggoksono masuk dalam daftar lokasi yang pernah didatanginya. Ali ingin merasakan sensasi memancing tidak hanya di Madura.
”Setiap tempat punya tantangan sendiri. Kadang yang dicari bukan cuma ikannya, tetapi suasana dan sensasi saat berada di laut. Itu sudah cukup membuat kita mendapat pengalaman berharga,” kata Ali.
Salah satu pengalaman paling berkesan datang ketika dia berhasil menaklukkan ikan berbobot belasan kilogram.
Pertarungan di ujung pancing menjadi momen yang membuat adrenalin meningkat.
”Kalau dapat ikan besar, rasanya puas. Tarikannya itu yang bikin deg-degan (gugup, Red), apalagi kalau ikannya sampai belasan kilo. Saya pernah merasakan hal itu saat memancing,” tuturnya.
Namun, laut juga pernah memberikan pengalaman yang jauh lebih menegangkan bagi pria berkumis tipis itu.
Ali pernah terjebak hujan badai disertai angin kencang ketika berada di atas kapal.
Kondisinya bahkan nyaris membahayakan keselamatan. Kapal yang ditumpanginya hampir tenggelam diterjang cuaca buruk.
Dalam kondisi tersebut, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, memohon ampun kepada Tuhan.
”Waktu itu hujan dan anginnya kencang. Kapalnya hampir tenggelam. Rasa panik itu datang. Dari situ, saya semakin paham kalau kondisi laut tidak boleh diremehkan,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Ali dan rekan-rekannya. Dia percaya, memancing di laut tidak hanya membutuhkan kesabaran dan teknik, tetapi juga kemampuan membaca kondisi alam.
”Kalau cuaca sudah tidak memungkinkan, jangan pernah memaksakan kehendak. Sebab, keselamatan harus jadi yang utama. Memancing itu jangan hanya mengejar ikan saja,” tegas Ali.
Meski pernah menghadapi situasi menegangkan, Ali tidak kapok. Baginya, kejadian tak terduga justru menjadi bagian dari cerita dalam setiap perjalanan memancing.
Kini, mendapatkan ikan besar memang tetap menjadi kepuasan. Namun, sensasi saat ikan menyambar umpan dan tarikan pertama terasa di ujung joran menjadi alasan utama mengapa hobi itu terus dijalani.
”Sebab, di tengah laut, tidak pernah ada yang benar-benar bisa ditebak. Setiap tarikan bisa menjadi awal dari pertarungan kecil yang membuat perjalanan berjam-jam terasa sepadan,” tukasnya. (afg/han)
Editor : Amin Bashiri