BANGKALAN, RadarMadura.id – Kilau rias wajah dan kostum tradisional selalu mengubah sosok Brilliant Wahyu Tri Nuraini saat tampil di atas panggung. Gadis yang baru menuntaskan pendidikan sekolah dasar di SDN Banyusangka 1 itu tampak percaya diri setiap tampil di atas pentas.
Namun, di balik penampilannya yang rancak, ada proses latihan berkali-kali serta dukungan orang tua.
Brilli, begitu sapaan akrabnya, mengenal dunia tari sejak berusia empat tahun, tepatnya saat duduk di bangku PAUD. Sosok yang memperkenalkannya pada gerak tari ialah sang bunda.
Kecintaan ibundanya terhadap seni tari sejak duduk di bangku kuliah menjadi inspirasi yang akhirnya menular kepada Brilli.
”Yang mengajari pertama kali ya bunda. Dari kecil saya sudah melihat bunda menari, akhirnya ikut suka,” tuturnya.
Hingga kini, Brilli telah tampil sekitar 30 kali di berbagai acara. Beberapa di antaranya menari Kembhang Madura di SMPN 1 Kokop, tari Gellang Soko acara Malam Tera’ Bulan di Desa Paseseh, tari Sri Panganti di acara pernikahan, tari Cindai saat penyambutan Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron.
Pengalaman itu membuatnya semakin percaya diri setiap naik ke panggung. Meski begitu, dia mengaku pernah beberapa kali melakukan kesalahan gerakan saat tampil.
Namun, baginya, kesalahan bukan alasan untuk berhenti. ”Kalau salah, ya tetap dilanjutkan sampai selesai,” katanya.
Dari sekian banyak penampilan, yang paling berkesan dalam ingatannya saat menari Tandhu’ Majang dalam penyambutan istri calon presiden Ganjar Pranowo di Desa Aeng Tabar, Kecamatan Tanjungbumi, pada 2024.
Pengalaman lain yang tak kalah berkesan adalah ketika menampilkan tari Gellang Soko pada perayaan Malam Tera' Bulan di Desa Paseseh pada 2024 dan tari Malate Sato'or dalam tradisi Rokat Tase 2026.
Setiap akan tampil, Brilli menghabiskan waktu latihan sekitar lima hari hingga satu minggu, bergantung tingkat kesulitan gerakan tari yang dipelajari. Di luar itu, sepulang sekolah dia tetap menyempatkan diri berlatih sekitar 20 hingga 30 menit setiap hari. ”Kalau latihan itu paling seru. Soalnya jadi belajar gerakan baru,” ujarnya.
Soal kostum, Brilli memiliki favorit tersendiri. Dia paling menyukai busana tari Gellang Soko saat tampil pada perayaan Malam Tera' Bulan di Desa Paseseh, Kecamatan Tanjungbumi. Baginya, perpaduan warna, aksesori, dan detail busana membuat penampilannya terasa lebih percaya diri.
Di antara berbagai tarian yang pernah dipelajari, Tari Kembang Madura yang paling disukai. Sebab, gerakannya lembut serta berpadu dengan alunan musik khas Madura.
Sejauh ini, dukungan keluarga menjadi energi terbesar dalam perjalanan Brilli. Kedua orang tuanya hampir selalu mendampingi setiap latihan maupun pertunjukan.
Bahkan, yang melatih ialah ibunnya sendiri. Mereka juga memenuhi berbagai kebutuhan yang diperlukan, mulai perlengkapan hingga kostum tari.
Ita Tabahmawati, ibunda Brilli, menuturkan, semangat Brilli tumbuh karena kecintaannya sendiri terhadap seni tari. Ketika lelah, dia biasanya beristirahat sejenak, lalu berlatih kembali. ”Pesan saya selalu sama, proses itu tidak akan mengkhianati hasil,” ucapnya.
Sebelum Brilli naik ke panggung, sang bunda juga selalu mengingatkan agar putrinya tampil sebagai diri sendiri dan menjiwai karakter tarian yang dibawakan.
”Jadilah dirimu sendiri. Masuklah ke dalam tema tari yang diperagakan dan hayati setiap gerakannya,” pesannya.
Bagi kedua orang tuanya, melihat Brilli tampil percaya diri di hadapan banyak orang merupakan kebanggaan tersendiri.
”Kami sangat bangga melihat Brilli bisa tampil percaya diri. Semua ini adalah karunia dari Allah,” ujar sang bunda.
Meski aktif menari, Brilli tidak melupakan kewajibannya sebagai pelajar. Saat lulusan SD, dia menjadi lulusan terbaik. Teman-temannya di sekolah juga mengetahui kegemaran Brilli tampil di berbagai acara.
Bahkan, banyak yang memberikan dukungan dan mengaku ingin bisa menari seperti dirinya.
Kini saat duduk di bangku kelas VII SMP, Brilli bertekad tetap menekuni dunia tari. Kelak dia ingin menjadi guru sekaligus memiliki sanggar tari agar dapat mengajarkan dan melestarikan tari tradisional kepada generasi berikutnya.
Dia juga menyimpan mimpi yang lebih besar. ”Suatu hari nanti, Brilli ingin tampil di panggung nasional. Bahkan muncul di layar televisi, membawa keindahan tari tradisional Madura agar semakin dikenal masyarakat luas,” harapnya. (ina/han)
Editor : Amin Basiri