BANGKALAN, RadarMadura.id – Busana pesa’an dan marlena banyak dijumpai di berbagai kegiatan atau event. Hal ini menandakan bahwa kepedulian masyarakat terhadap baju adat Madura cukup tinggi. Meskipun, sebagian besar orang menganggap kebaya merah dan batik bercorak merah itu menjadi pakem dari busana marlena.
Owner Butik Tresna Art Bangkalan Supik Amin menyampaikan, busana adat pesa’an dan marlena memang memiliki banyak kemajuan. Salah satunya dalam segi model untuk kebaya marlena yang sudah menyesuaikan dengan zaman. Misalnya, sarung/samper yang digunakan sebagai bawahan baju adat marlena didesain sebagai rok.
”Perkembangannya memang sangat bagus, tapi sudah hilang dari pakem yang sesungguhnya,” jelasnya Jumat (27/10).
Jika sesuai dengan pakem, baju adat marlena semestinya kebaya dengan bawahan sarung. Kata dia, sarung digunakan dengan cara dilipat, bukan dijahit atau dijadikan sebagai rok seperti yang sedang tren saat ini.
Bahkan, kini kebayanya juga sudah didesain semodern mungkin, sesuai dengan keinginan para pemilik butik. ”Bahkan, warna kebaya yang digunakan lebih lumrah merah, padahal warna kebaya yang digunakan semestinya bebas,”imbuhnya.
Tidak hanya itu, penggunaan busana marlena saat ini juga tidak sesuai dengan pakem yang sudah disepakati. Misalnya, sarung batik yang digunakan sebagai bawahan dari kebaya marlena itu bukan asli sarung batik tulis asli Madura, melainkan batik printing asal Sidoarjo.
”Mudah-mudahan ke depan pemerintah juga memerhatikan ini, sarung yang dijadikan bawahan busana marlena ini benar-benar sarung batik tulis Madura,” harapnya.
Busana Marlena terdiri dari beberapa bagian, atasannya disebut kebaya, dan bawahnya sarung. Kemudian, mengenakan penggel/gelang kaki, mengenakan alas kaki pacca’ (sandal terbuat dari kayu), dan bagian atas kepala bagi yang tidak berkerudung menggunakan gelung sondel.
Sementara untuk busana pesa’an memiliki beberapa setel. Di antaranya, baju dan celana gombor yang dilengkapi dengan sabuk kulit. Baju yang bermodel menyerupai jas yang dikenakan dengan kaos bercorak merah putih. Bagian kepala mengenakan odeng, untuk alas kaki biasanya mengenakan sandal yang terbuat dari kulit atau ban bekas. (za/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Fatmasari Margaretta