BANGKALAN, RadarMadura.id – Penggunaan antibiotik secara tepat menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah resistensi antimikroba. Upaya mendukung program pemerintah tersebut dilakukan dosen Universitas Noor Huda Mustofa (NHM), apt. April Nuraini, S.Farm., M.Farm., melalui penelitian tentang evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Penelitian yang dilaksanakan pada November 2025 itu digelar di salah satu puskesmas di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Penelitian berfokus pada ketepatan penggunaan antibiotik pada kasus ISPA yang masih menjadi salah satu penyakit dengan prevalensi tinggi di fasilitas pelayanan kesehatan.
Penelitian tersebut menargetkan pasien rawat inap yang didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan dan mendapatkan terapi antibiotik. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah pemberian antibiotik telah sesuai dengan prinsip penggunaan obat yang rasional.
apt. April Nuraini, S.Farm., M.Farm. selaku peneliti mengatakan, tujuan utama penelitian tersebut untuk mengetahui dan mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien ISPA.
”Ada empat parameter rasionalitas penggunaan obat yaitu tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, dan tepat dosis,” katanya.
Menurut April, pemilihan partisipan didasarkan pada kriteria inklusi yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dikumpulkan meliputi demografi pasien, kondisi medis, peresepan antibiotik, serta dosis obat yang diberikan.
Data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 47 pasien yang memenuhi persyaratan studi.
Kelompok usia terbanyak dalam penelitian tersebut adalah pasien berusia 56–65 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, pasien laki-laki berjumlah 29 orang, sedangkan pasien perempuan sebanyak 18 orang.
Berdasarkan penilaian rasionalitas penggunaan antibiotik, sebanyak 77 persen pasien mendapatkan antibiotik dengan indikasi yang tepat. Sementara ketepatan pasien mencapai 100 persen dan ketepatan dosis juga mencapai 100 persen karena seluruh pasien memperoleh dosis sesuai dengan standar terapi yang digunakan dalam penelitian.
April berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan manfaat, baik secara akademis maupun praktis. ”hasil penelitian ini kedepan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan untuk meningkatkan kerasionalan peresepan antibiotik,” pungkasnya. (vic/dry)
Editor : Hendriyanto