Edy Suharto, Kepala Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD Syamrabu Hadirkan Bukti Ilmiah untuk Ungkap Kebenaran

Amin Basiri • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 07:01 WIB

 

BERSEMANGAT: Kepala Ruangan Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUD Syamrabu Bangkalan Nanik Budianti seusai memberikan keterangan di ruang kerjanya, Kamis (30/7)
BERSEMANGAT: Kepala Ruangan Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUD Syamrabu Bangkalan Nanik Budianti seusai memberikan keterangan di ruang kerjanya, Kamis (30/7)
 

Dokter ahli forensik. Tak banyak yang meminati bidang ini. Butuh keahlian khusus. Tanggung jawab yang dipikul juga besar. Tidak hanya mengungkap fakta pidana di balik kematian seseorang, tetapi juga menjaga martabat jenazah yang ditangani. Di balik profesi yang berisiko itu, ada dedikasi yang tak banyak diketahui publik. Berikut kisah Edy Suharto, dokter forensik yang juga kepala Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD Syamrabu.


BANGKALAN, RadarMadura.id - Suasana RSUD Syamrabu Bangkalan tampak seperti biasa pada Kamis (30/7) pukul 08.00. Pasien dan keluarga hilir mudik di lorong rumah sakit.

Namun, tujuan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) pagi itu bukan mencari kabar tentang lonjakan pasien ataupun penyakit yang tengah merebak. Langkah justru diarahkan ke lantai dua, menuju ruang komite medik, tempat seorang dokter spesialis langka itu menjalani tugasnya.

Di ruangan itu, dr Edy Suharto menyambut hangat koran ini. Dia membuka percakapan tentang profesi yang dipilih. Bukan karena popularitas, melainkan karena panggilan jiwa.

Menjadi dokter forensik ternyata bukan cita-citanya sejak kecil. Justru saat menginjak usia 40 tahun, dia baru memutuskan melanjutkan pendidikan spesialis forensik di Universitas Airlangga (Unair).

Saat itu, forensik merupakan satu-satunya program spesialis yang masih memperbolehkan peserta masuk di usia tersebut. ”Ada panggilan hati yang membuat saya mantap mengambil jalan ini,” ucapnya.

Setelah resmi menjadi dokter forensik, kesehariannya dipenuhi penanganan berbagai kasus pasien yang berkaitan dengan hukum. Ada dua pasien yang ditangani. Yakni, pasien hidup yang mengalami KDRT, penganiayaan, dan pencabulan. Sedangkan pasien meninggal biasanya karena kecelakaan lalu lintas dan tenggelam.

Bagi dr Edy, tugas dokter forensik bukan sekadar memeriksa jenazah. Lebih dari itu, dia berupaya menghadirkan bukti ilmiah yang dapat membantu mengungkap kebenaran dalam proses hukum.

Dia menjelaskan, tanpa otopsi, penyebab kematian tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan normatif. Dugaan penyebab kematian mungkin saja sudah mengarah pada satu kesimpulan, tetapi di mata hukum semuanya tetap memerlukan pembuktian.

”Meski kita tahu penyebabnya apa, kalau tidak dilakukan otopsi, kebenaran itu tidak bisa dibuktikan secara normatif,” ujarnya.

Menurut dia, otopsi dilakukan melalui dua tahapan, yakni pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Hasil pemeriksaan itulah yang kemudian menjadi bagian penting dalam proses pembuktian di pengadilan.

Meski demikian, tidak semua jenazah harus diotopsi. Keputusan pelaksanaan otopsi tidak sepenuhnya berada di tangan dokter forensik. Proses tersebut harus melalui permintaan penyidik dan mempertimbangkan persetujuan keluarga korban.

RAMAH: Kepala Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUD Syamrabu Bangkalan Edy Suharto saat ditemui di ruangannya, Kamis (30/7).
RAMAH: Kepala Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUD Syamrabu Bangkalan Edy Suharto saat ditemui di ruangannya, Kamis (30/7).

”Kami tidak sembarangan melakukan otopsi. Semua harus berdasarkan kepentingan penyidikan. Visum maupun otopsi dilakukan atas permintaan penyidik (polisi),” jelasnya.

Dr Edy mengakui, dulu masih banyak warga yang memandang otopsi secara negatif. Namun, seiring meningkatnya pemahaman terhadap hak-hak hukum, keluarga korban kini mulai menyadari pentingnya pemeriksaan forensik, terutama ketika kematian dinilai tidak wajar dan menimbulkan kecurigaan.

Dalam sebulan, Instalasi Forensik RSUD Syamrabu rata-rata menangani dua hingga tiga kasus jenazah. Jumlah itu tidak menentu. Ada kalanya meningkat, tetapi pada bulan lain justru menurun.

Kasus yang paling sering ditangani di Bangkalan, kata dia, ialah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara untuk korban hidup, kasus yang mendominasi berupa KDRT, penganiayaan, dan pencabulan. Seluruh penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan aparat kepolisian.

Untuk jenazah yang belum diketahui identitasnya, tim forensik terlebih dahulu melakukan identifikasi melalui sidik jari. Setelah itu, polisi berupaya mencari keluarga korban.

Jika hingga tiga hari tidak ada pihak yang datang mengaku sebagai keluarga, jenazah akan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU). ”Kami bekerja sama dengan pemerintah desa untuk pemakaman jenazah yang keluarganya tidak ditemukan,” katanya.

Menghadapi keluarga korban yang histeris juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut dr Edy, pendekatan yang dilakukan bukan dengan membatasi emosi mereka, tetapi memberikan penjelasan secara perlahan mengenai seluruh prosedur yang harus dijalankan.

”Kami ajak mereka berdiskusi dan memberi pemahaman. Itu jauh lebih penting agar keluarga mengerti setiap proses yang dilakukan,” ujarnya.

Di balik ketenangan yang selalu dr Edy tunjukkan, ada pengalaman yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya. Salah satunya saat menangani kasus pembunuhan seorang santri di Kecamatan Klampis.

Dr Edy menceritakan, saat itu dia harus melakukan otopsi tengah malam dan hujan. Proses panjang berlanjut hingga berkali-kali memberikan keterangan sebagai saksi ahli di persidangan. Namun, seluruh proses akhirnya mampu membantu mengungkap fakta di balik kematian korban.

”Dulu saya hampir putus asa saat menangani kasus pembunuhan santri di Klampis. Saya bolak-balik sidang di pengadilan. Alhamdulillah, akhirnya perkara itu bisa terungkap,” kenangnya.

Dr Edy menceritakan, bertahun-tahun bersentuhan dengan kematian ternyata mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Setiap jenazah yang ditanganinya selalu mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

”Ketika melihat kematian, saya justru semakin menghargai kehidupan. Dari pekerjaan ini saya belajar bahwa manusia tidak boleh sombong. Pada akhirnya, kita hanya makhluk ciptaan Tuhan yang terbuat dari tanah liat hitam yang dibentuk dan akan kembali kepada-Nya,” pungkasnya. (*/yan)

Editor : Amin Basiri
bangkalan Instalasi Pemulasaraan Jenazah rsud syamrabu